Palangka Raya, 17 Mei 2008
Cerpen
Wajah Pucat Lelaki Malang
Oleh : Pirdaus Palawero
“ Sayang……”
Panggilan itu sangat jelas terdengar ditelingaku. Ngapain Doni, datang tengah malam begini kerumah, batinku. Aku yang lagi menonton filmya Nirina “Mirror” beranjak dari pembaringanku untuk membuka pintu. Aku membuka horden terlebih dahulu untuk memastikan kalau panggilan tadi betul dari Doni, pacarku. Namun diluar gak ada orang.
“Ah, mungkin itu tadi suara tetangga” batinku.
Aku kembali merebahkan tubuhku didepan TV.
“ Sayang….”
Panggilan itu kembali lagi terdengar jelas ditelingaku.
Aku kembali membuka horden dan mengintip keluar. Namun tak ada seseorang pun diluar. Aku cuek saja. Tak berpikiran macam-macam.
Aku kembali menonton TV. Setelah Film “Mirror” selesai, aku langsung mematikan TV karena aku sudah merasa ngantuk.
“Hai, boleh gak aku berteman dengan kamu?” tanya cowok yang lumayan cakep tersebut. Ia menggunakan T-Shirt warna putih polos dan celana panjang warna putih pula. Pakaiannya agak terlihat kotor dan kusut.
Aku diam. Aku gak menjawab pertanyaannya.
“ Kayaknya kamu enak diajak ngobrol” sambungnya lagi.
Sekali lagi aku diam. Tiba-tiba kakiku terasa perih. Aku terjaga dari tidur. Mimpiku buyar gara-gara nyamuk yang menggigit jidatku dengan sadis
Aku melihat jam di ponselku, baru pukul 01.00 WIB.
Aku kembali memejamkan mataku. Namun aku gak bisa tidur lagi. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa gelisah. Pikiranku terus pada mimpiku tadi. Tiba-tiba aku meneteskan air mata. Aku gak tahu kenapa aku menagis. Aku merasa tidak nyaman, dan masih banyak lagi rasa yang aku rasakan yang tidak bisa kutafsirkan.
Aku sempat tertidur sebentar, dan terjaga karena suara kokok ayam jantan membangunkanku. Aku melihat jam, baru pukul 04.00 WIB.
Aku kembali teringat dengan cowok dalam mimpiku tersebut di ikuti rasa yang tidak nyaman tersebut mempermainkan perasaanku. Air mataku kembali menetes. Aku gak tenang. Ingin rasanya aku berteriak kencang agar rasa itu terluapkan. Namun aku takut itu mengganggu tetangga yang lagi tertidur pulas. Kenapa aku ini ? tiba-tiba aku gak betah dirumah. Aku ingin berjalan.
Ah, kenapa Doni belum juga datang. Padahal ia janji mau jempu aku pergi joging pukul setenga lima. Ini udah lewat, tapi kok ia juga belum datang.
Ah, kepalaku tambah mau pecah.
Pukul setengah enam Doni baru datang. Aku buru-buru membersihkan air mata yang sedari tadi mengalir tak tertahankan.
Aku kemudian ganti baju. Aku gak menggunkan kostum yang semestinya dipakai untuk joging. Aku memakai baju T-shirt dan jeans selutut.
Sesampai di lapangan, Doni lansung berlari mengelilingi lapangan.
Satu putaran, ia menegurku yang masih duduk diatas motor.
“ Kenapa masih disitu, ayo lari” ajaknya.
Aku diam.
Ia kembali berlari.
Aku terdiam, tiba-tiba aku kembali teringat pada cowok dalam mimpiku tersebut di ikuti dengan rasa yang tak bisa kutafsirkan tersebut. Aku berusaha untuk tidak menangis. Aku turun dari motor dan berjalan dengan menenteng sandalku. Aku tidak berjalan mengelilingi lapangan, tapi aku berjalan menuju ke seletan dan berusaha mencari ketenangan. Sesampai di pertigaan, aku memilih jalan menuju ke timur yang terlihat lengang. Setelah cukup jauh berjalan, aku berbalik hendak menuju ke lapangan tempat Doni Joging.
Ah, lumayan, aku bisa membendung air mataku walau masih ada sedikit rasa tidak nyaman itu.
Tiba-tiba seorang cowok menjejeri langkahku. Aku gak merasa takut kalau cowok ini akan berbuat jahat sama aku karena tak jauh didepanku jalan sepasang suami istri dan bila aku di apa-apain, aku bisa langsung berteriak.
Sedetik kemudian aku tersadar kalau cowok tersebut adalah cowok yang ada dalam mimpiku. Pakaian yang dipakainya sama seperti yang dipakai dalam mimpiku. Tapi kok aneh, wajahnya sangat pucat.
“ Hei, kenapa sandalnya di lepas” tanyanya.
“ Nggak aja” jawabku pendek.
“ Kok sendirian ?” tanyanya lagi.
“ Pengen sendiri aja”
“ Kamu sering joging disini, ya ?”
“ Dulu iya, tapi sekarang jarang”
“ Kalau aku sering disini, karena aku tinggal di daerah sini” terangnya berusaha mengajakku ngobrol. Namun pembicaraan itu tak berlangsung lama karena ia berlari mendahuluiku setelah aku mengatakan “ itu pacarku datang menjeputku”
“ Ya udah, aku duluan. Nanti pacarmu marah” ujarnya tanpa ekspresi.
“ Ayo, naik. Udah capek kan?” ajak Doni ketika ia sampai di dekatku dengan motornya.
“ Gak. Aku masih pengen jalan. Duluan aja sana” jawabku judes.
Dia kemudian berlalu menuju ke lapangan.
Aku gak tahu kenapa aku gak merasa capek. Tidak biasanya aku seperti ini.
Setelah lama berjalan, akhirnya aku sampai di lapangan dimana Doni menungguku. Namun aku terus berjalan melewatinya menuju kearah utara, arah menuju pulang ke rumahku. Setelah cukup jauh aku meninggalkannya, ia kembali menyusulku dan menyuruhku naik kemotornya. Kali ini ia agak memaksa tapi masih dengan suara lembutnya. Dan mungkin semua cewek akan lumer karena kelembutannya. Tapi kali ini aku tidak. Aku tetap tidak mau naik. Aku juga gak tahu kenapa aku ini.
“ Kita ini mau pulang, matahari sudah tinggi, jadi sekarang naik”
“ Iya, aku juga mau pulang tapi aku mau jalan kaki. Kamu pulang duluan aja sana” aku tetap ngotot gak mau naik dan menyuruh dia pulang duluan. Akhirnya ia pulang dan mungkin dengan rasa amarahnya yang memang tak pernah ia luapkan ke aku. Dia memang lelaki terbaik yang pernah aku kenal.
Setelah ia lenyap ditikungan jalan, aku kembali berjalan dengan rasa yang tak ku mengerti, rasa yang tidak nyaman. Tak lama aku berjalan, aku ketemu lagi dengan cowok yang ada dalam mimpiku. Masih dengan wajah pucatnya. Ia kemudian menjejeri langkahku.
“ Pacarmu mana?” tanyanya.
“ Kusuruh pulang” jawabku singkat.
“Dulu aku punya pacar, namun pacarku meninggalkan aku dengan alasan sudah bosan. Alasan yang sangat menyakitkan. Padahal dulu semua yang ia minta selalu aku beri. Belikan ini, belikan itu, semua aku kasih. Ketika itu aku sangat membutuhkan kasih saying orang tuaku namun mereka sibuk semua mengurusi urusan mereka masing-masing dengan dalil untuk kepentinganku. Mereka gak perduli keadaanku. Aku tidak materi, aku butuh kasih saying” ia bercerita panjang lebar. Dia menangis dan tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulunya. Air matanya terus mengalir membasahi wajahnya yang pucat.
Aku larut dalam kesedihannya dan air matakupun tak tertahankan.
Jauh kami berjalan namun kami berdua hanya saling berdiaman. Ia larut dalam kesedihannya.
Akhirnya aku merasa kelelahan juga. Aku berhenti dan duduk diatas deker dipinggir jalan. Cowok itu ikut duduk di sampingku. Kami hanya berdiaman. Tak ada yang bicara. Hanya air mata cowok itu yang terus mengalir tak ada hentinya.
Matahari semakin tinggi. Akhirnya aku menelpon Doni untuk menjemputku.
“ Siapa itu? pacarmu ya ?” tanya cowok berwajah pucat tersebut setelah aku selesai nelpon.
“ Iya, dia mau menjemput aku”
“ Ya udah, aku pulang aja ya” ujarnya dan beranjak dari duduknya berjalan menuju ke selatan, ke arah lapangan.
Sesampai dirumah, aku langsung mandi, berharap segala rasa tak nyaman dikepalaku sirna. Setelah mandi, aku langsung merebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Aku berusaha memejamkan mataku, namun aku tak bisa. Pikiranku terus pada cowok dalam mimpiku tersebut. Aku gak tahu kenapa ketika aku teringat pada cowok tersebut, rasa tak nyaman tersebut ikut memenuhi kepalaku dan akupun menangis lagi.
Lama aku menggeliat diatas tempat tidur berusaha melawan rasa tak nyaman diotakku. Pikiranku tak karuan. Cowok itu terus mendominasi pikiranku. Tiba-tiba aku merasa tidak nyaman dirumah. Aku ingin berjalan kemana saja. Akhirnya aku keluar meninggalkan rumah. Aku menelusuri jalan mengikuti kemana kakiku akan membawaku. Di sebuah pertigaan aku kembali ketemu dengan cowok yang ada dalam mimpiku tersebut. Ia masih mengenakan pakaian yang dipakainya tadi pagi. Wajahnya kelihatan tambah pucat.
“Hei, kita ketemu lagi” sapanya dengan penuh persahabatan. Aku hanya tersenyum.
“Kamu dari mana ?” tanyaku agak heran karena rumahnya jauh dari daerah sini, pakai jalan kaki lagi.
“ Dari rumah temanku” ujarnya sambil menunjuk kearah deretan barak dimana dulu seorang gadis bunuh.
Aku hanya mengangguk paham. Aku kemudian terus berjalan menuju keselatan. Ia mengikutiku dan menjejeri langkahku. Tak ada yang saling bicara. Kami hanya terus berjalan mengikuti kemana kaki akan membawa.
Akhirnya kami sampai pada sebuah pinggiran hutan. Aku gak tahu ini daerah mana. Aku kemudian duduk dibawah rindangnya pohon akasia. Cowok tersebut ikut duduk disampingku. Duduk termenung dengan tatapan nanar.
Air matanya kembali menetes dan semakin deras namun tak ada suara. Mungkin ia teringat lagi pada kekasih yang menyakitinya dan keluarganya yang tak pernah peduli dengannya.
“Sudahlah jangan kamu seperti ini terus. Kamu ini laki-laki gak boleh cengeng. Aku mengerti apa yang kamu rasakan tapi janganlah kamu memperturutkan perasaanmu itu ntar kamu sakit. Kamu harus bisa menerima kenyataan ini dengan hati lapang. Masih banyak cewek yang lebih baik dari pacarmu yang telah meninggalkanmu itu. Dan kamu jangan menganggap orang tuamu tidak sayang sama kamu. Tak ada orang tua yang tidak sayang sama anaknya. Mereka semua sayang sama kamu namun mungkin cara mereka dalam mengungkapkan rasa sayang mereka itu tidak sesuai dengan yang kamu inginkan jadi kamu merasa tidak disayangi. Gak usah bersedih, kalau kamu butuh teman ngobrol, kan ada aku” hiburku berusaha meyakinkannya. Dia diam, akhirnya aku pun kembali diam. Lama kami duduk tanpa ada yang saling bicara hingga akhirnya pacarku, Doni menelpon aku.
“ Evi, kamu dimana ?” tanyanya.
“Gak tahu aku dimana. Sebentar kamu telpon lagi” ucapku bingung.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki setengah bayah lewat. Aku menghampirinya dan menanyakan daerah ini.
Ia mengatakan kalau daerah ini tak jauh dari sebuah gedung tua tempat dimana dulu serang laki-laki berseragam sekolah bunuh diri di dalam sana. Keterangan lelaki tua itu tak membuatku merasa takut.
“ Kamu sama siapa disini ?” tanyanya.
“ Sama itu. Temanku” ujarku menunjuk cowok dalam mimpiku tersebut yang duduk dibawah pohon akasia.
Ia mengarahkan pandangannya pada arah yang aku tunjuk. Ada rasa heran bercampur geli yang tersirat diwajahnya. Tapi aku gak peduli itu, yang penting daerah ini aku sudah tahu.
“Terima kasih ya, Pak” ucapku dan berlalu meninggalkan laki-laki setengah bayah tersebut yang masih berdiri dengan wajah keheranan. Entah apa yang diherankannya. Aku kembali duduk disamping cowok tersebut. Tak lama kemudian Doni kembali menelponku. Aku kemudian memberitahukannya daerah dimana aku berada. Tak lama kemudia dari jauh aku melihat Doni sudah datang.
“ Kamu masih mau disini ? aku mau pergi” tanyaku seraya berdiri hendak menuju jalan yang tak jauh dari tempat kami duduk.
“ Iya, kamu duluan aja sana. Aku masih mau disini” katanya dengan nada sendu.
Doni sudah menunggu dipinggir jalan. Aku kemudian berpamitan pada cowok itu dan berjalan menuju kearah Doni.
Aku langsung naik dibelakang Doni. Doni pun membawaku pergi entah kemana.
Akhirnya kami sampai pada sebuah pinggiran sungai. Tempat ini memang sering kami gunakan untuk duduk-duduk menanti senja datang. Tempat ini memang indah dan tenang.
Doni turun dari mator dan duduk dibawah pohon yang agak rindang dipinggir sungai. Doni memintaku turun dari motor dan duduk didekatnya.
Aku pun turun dan duduk didekatnya.
“ Kamu kenapa sih jalan sendiri kepinggir hutan ? kamu ada masalah ?” tanyanya kemudian.
“Gak, aku gak kenapa-napa” jawabku, karena memang aku gak mengerti kenapa aku seperti ini.
Ia diam. Akupun diam.
Aku kembali teringat dengan cowok dalam mimpiku tersebut di ikuti rasa yang tak dapat kutafsirkan tersebut kembali memenuhi kepalaku dan semakin menyiksaku.
Aku pun kembali menangis.
“ Kenapa kamu menangis?” tanya Doni keheranan.
Aku tak menjawab. Aku hanya diam dan air mata itu terus mengalir. Aku merasa tersiksa rasanya. tapi aku gak tahu gimana caranya menghilangkan rasa ini.
“ Kalau kamu merasa tidak tenang, ada menjanggal dihatimu, kamu berdoa kepada Tuhan agar kamu diberi ketenangan hati, kebahagiaan hati” ujarnya memberi nasehat.
Aku kemudian berdoa dalam hati mengikuti nasehat Doni.
Selang beberapa menit kemudian, air mataku sudah berhenti menetes. Akupun sudah agak tenang. Doni merebahkan tubuhnya diatas rerumputan. Matanya terpejam. Aku beruntung punya pacar seperti dia yang sangat menyayangi aku. Aku ikut merebahkan tubuhku disampingnya.
Cowok dalam mimpiku tersebut datang lagi. Masih dengan pakaian serba putihnya. Wajahnya semakin pucat.
“ Maaf ya bila aku mengganggu kamu. Terima kasih, kamu udah mau berteman dengan aku” ujarnya. Aku diam. “ kalau kita ketemu lagi, boleh kan aku ngobrol lagi dengan kamu ?” sambungnya lagi. Aku hanya tetap diam.
Dia kemudian berbalik dan berjalan menjauh dariku dan hilang dibalik pohon akasia.
“ Ah…” teriakku kesakitan.
Doni memukul nyamuk di lenganku cukup keras membuat mimpiku buyar.
Ah, Cowok itu datang lagi dalam mimpiku. Gumamku dalam hati.
Aku ingin langsung bangun, namun badanku terasa berat. Tapi anehnya, hatiku merasa damai, tenang, adem. Beberapa menit kemudian, akau sudah bisa bangun. Badanku terasa enteng. Tak ada lagi rasa tak nyaman itu menjanggal dikepalaku.
Dan seketika aku tersadar kalau aku baru saja mengalami kejadian yang aneh. Aku mengingat semua detil sebelum aku mengalami kejadian aneh tersebut, mulai dari ada suara yang memanggil aku sampai pada seorang cowok yang berwajah pucat pasi yang berpamitan padaku.
Aku kemudian menceritakan semua kejadian yang aku alami sejak malam tadi sampai senja ini. Setelah aku menceritakan semuanya, aku kemudian bertanya pada Doni untuk meyakinkan diriku kalau cowok itu nyata atau hanya semu belaka karena aku melihat ada yang aneh dari cowok tersebut.
“ Sekarang aku mau tanya. Saat pertama kamu menjemput aku, waktu aku jalan kaki, apakah kamu melihat ada cowok berbaju putih disampingku ?”
“ Gak ada”
“ Masak gak ada sih, padahal sekitar dua puluh meter sebelum kamu samapi ke aku, dia masih ada disampingku” ujarku berusaha untuk meyakinkan kalau cowok tersebut nyata.
“ Gak ada” sekali lagi Doni menegaskan kalau cowok yang aku ceritain tersebut gak ada.
Jangan-jangan…………??? Tiba-tiba bulu kuduku merinding.
**TAMAT**
No comments:
Post a Comment