
Gadis cantik itu hampir tiap hari ketemu dengan aku tapi hanya sebatas berpapasan, saling melirik dengan ekor mata masing-masing. Tak ada sapa, tak ada isyarat. Awalnya dia tampak biasa-biasa saja dimataku, tak ada yang istimewa. Hari berganti hari dan pergantian hari itu pula yang selalu mempertemukan aku dengan gadis itu. Dan semuanya berubah, dia tampak begitu sempurnah di mataku. Wajahnya terlihat cantik, matanya yang indah ketika tak sengaja pandangan kami bertemu. Bibirnya yang merah delima, hidungnya yang mancung, alis bak semut yang berbaris rapi. Semua yang ada pada dirinya tampak indah. Dan jantung ini berubah jadi berdetak lebih kencang kala berpapasan dengannya. Semua ini berawal saat mataku dan matanya beradu pandang, pada detik selanjutnya ia tersenyum. Aku tak menyangka ia memberikan senyum terindahnya untukku. Aku pun membalas senyumnya dengan senyum terindahku pula. Dan mulai saat itu aku tersadar kalau dia bukan gadis biasa, dia memiliki pesona dan daya pikat yang membuat kaum adam tidak bisa enak makan, tidak nyenyak tidur, itu semua karena semua energinya terkuras untuk memikirkan gadis cantik itu.
Setiap pagi saat berangkat kesekolah, saat aroma farfum masih belum bercampur keringat, saat wajah masih segar oleh air dingin pagi tadi. Di sekitar tikungan lorong jalan itu aku selalu berpapasan dengan dia. Jilbab putih, baju hem lengan panjang putih dan rok panjang warna biru. Dan di jilbab putihnya tertulis MTs Negeri 1 Watampone. Sekolah yang sederajat dengan SLTP yang letaknya di jalan Kyai H. Ramli. Antara rumah dengan sekolahnya terbilang cukup jauh. Begitupun dengan sekolahku yang letaknya 3 Km dari rumahku. Rumahku dengan rumah gadis cantik ini berada di antara sekolahku dengan sekolahnya. Aku kebarat bila berangkat sekolah dan ia ke timur bila ia berangkat ke sekolah.
Jalan yang aku lewati berangkat kesekolah adalah lorong jalan pintas untuk sampai di sekolahku. Gadis cantik ini tinggal di lorong yang belum berspal tersebut. Jalan yang hanya pernah mendapat pengerasan dengan batu dan kerikil sehinga bila aku berjalan arahku tidak lurus karena mencari jalan yang rata dan terkadang aku terantuk batu yang menonjol sebesar kepalan tangan. Dengan pakaian seragam sekolah lengkap, tas ransel yg selalu nangkring di punggungku. Gaya rambut belah tengah dengan sedikit minyak rambut brealcream. Dengan Farfum murahan yang kusemprotkan ke seluruh pakaianku, membuat orang bergumam "ada malaikat nyasar lewat" karena aroma farfumku menyengat hidung mereka yang radius puluhan meter sudah tercium baunya.
Dengan langkah panjang aku menelusuri lorong berharap gadis itu ada dibalik tikungan dengan seragam putih birunya. Ketika sudah dekat dengan tikungan tersebut aku mengubah langkahku dengan kubuat semanis mungkin. Jantung ini langsung berdetak kencang ketika dibalik tikungan muncul wajah cantik berkerudung putih. Dia berjalan menunduk. Ia tidak berani menatap aku begitupun aku menunduk malu. Hanya ekor mataku yang berusaha untuk melihat wajahnya meskipun dari sudut yang tersulit. Seketika aku mengangkat wajahku dan menatap kearahnya. Tanpa kusadari ia juga mengankat wajahnya dan kamipun saling beratatapan. Ia tersenyum dan akupun tak mau kalah, kuberikan senyum terindahku. Namun itu tidak berlangsung lama karena langlah kami telah memisahkan kami dan meninggalkan desir aneh di dadaku.
*bersambung*
kapan sambungannya.....
ReplyDelete