Masa Kecil yang Ceria
Kenangan di tahun 1989 – 1996
Aku lahir disebuah desa kecil di sebelah timur kota Makasaar. Sebuah desa yang terletak di Kecamatan Dua Boccoe Kabupaten Bone. Desa Cabbeng. Ya itulah desaku, desa yang indah dengan pemandangan alamnya. Sawah terhampar luas dengan sungai yang senantiasa mengalirkan air yang cukup untuk padi dan hewan ternak para penduduk desa Cabbeng. Dikejauhan berdiri kokoh gunung mampu yang menambah keindahan desaku. Pada lereng gunung mampu terdapat sebuah goa yang kami sebut goa mampu. Keberadaan Goa Mampu merupakan kebanggaan bagi kami penduduk desa Cabbeng. Dari Goa Mampu ini membuat desa cabbeng banyak dikenal orang. Di dalam Goa Mampu ini banyak menyimpan maha karya agung dari sang pencipta, Allah SWT. stalastik yang berjuntai-juntai dilangit-langit goa dan stalakmid yang menjulang keatas yang banyak bertebaran di dalam goa. Banyak batu-batu yang bertebaran yang bentuknya ada yang menyerupai manusia, binatang, persawahan, pepohonan dan banyak lagi bentuk-bentuk yang membuat goa ini dianggap oleh moyang kami merupakan perkampungan yang terkena kutukan dan semua penduduk perkampungan berubah menjadi batu. Inilah yang membuat goa mampu banyak dikunjugi oleh orang untuk melihat keunikan-keunikan yang ada didalamnya dan mendengarkan cerita-cerita dari pemandu seputar bebatuan yang memiliki bentuk yang menyerupai manusia atau binatang. Selain untuk melihat dan menikmati keindahan isi goa tersebut ada juga yang datang untuk melakukan ziarah pada beberapa batu yang dianggap sebagai kuburan leluhur dan mereka meyakini bila memanjatkan doa dihadapan pusara leluhur tersebut doanya akan mudah terkabulkan. Seiring berjalannya waktu dan timbulnya kesadaran akan penting menjaga kelestarian alam goa mampu untuk menambah pendapatan daerah, maka pemerintah setempat menata sekitar goa dengan mendirikan bangunan tempat peristirahatan bagi para pengunjung serta membuat tangga-tangga di dalam goa agar tidak tersesat di dibanyak lorong-lorong di dalam goa. Memagari batu-batu yang bentuknya aneh dan unik yang mengandung cerita misteri didalamnya. Hingga pada akhirnya goa mampu terkenal sebagai tempat wisata baik oleh orang Sulawesi selatan maupun orang luar Sulawesi selatan bahkan wisatawan manca negara.
Di Desa inilah aku terlahir dari sebuah keluarga yang harmonis. Ibuku bernama Cinnong dan Ayahku bernama Lile. Karena kedua orang tuaku masih merupakan keturunan dara biru maka kedua orang tuaku masing-masing memiliki nama kehormatan. Untuk ibuku diberi nama Daeng Tawero dan Ayahku diberi nama Daeng Tapala.
Aku lahir sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara. Murni adalah kakak tertuaku dan dialah satu-satunya perempuan dari ketujuh saudaraku. Basri, kakak nomor dua. Muhammad Aras , kakak nomor tiga. Abdul Hafid , kakak nomor empat. Rijal, kakak nomor lima dan Suardi adalah kakak-ku yang terakhir.
Aku bersyukur karena aku terlahir dari keluarga yang mengerti bahwa betapa pentingnya pendidikan sekolah. Aku disekolahkan pada sebuah SD yang ada di desaku, yaitu SD 6/75 Cabbeng .
Pagi itu aku berangkat ke sekolah diantar sama Daeng Basri-ku. Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah. aku dibawa ke ruangan kepala sekolah untuk mendaftarkan namaku sebagai murid baru. Waktu itu kakakku mendaftarkan aku dengan nama Eko Pebrianto. Ia memberiku nama kejawa-jawaan supaya orang mengira aku orsng jawa, karena pada masa pemerintahan Suharto orang jawa dipermudah bila mencari pekerjaan khususnya menjadi PNS.
Setelah namaku didaftar, Daeng Basriku meninggalkanaku sendirian. Aku duduk terpaku di koridor depan kelasku menunggu jam pelajaran dimulai. Ketika lonceng berdentang sebagai tanda perintah masuk kekelas untuk menerima pelajaran. Aku duduk dibangku nomor tiga dari depan pada bangku deretan tengah, sebangku dengan anak yang beberapa hari baru aku tahu namanya “Sabaruddin”, mukanya bulat, matanya bulat dan kulit yang lebih putih dari aku yang memang pada dasarnya kulitku hitam kecoklatan. Hari pertamaku masuk sekolah aku hanya tahu satu nama dikelasku itu yaitu Ibu Guruku, namanya Ibu Icha. Orang cantik, kulitnya putih, suaranya lembut keibuan, pas banget ngajar anak-anak kelas 1 yang wajahnya masih lucu-lucunya, imut, menggemaskan (itu aku) yang sekali bentak langsung mau nangis. Hehehe…….
Setelah beberapa hari masuk sekolah aku sudah tahu semua nama teman sekelasku, ada yang namanya Andi Adi, Andi Aziz, Samsul, Basri, Anis, Andi Guntur, Sakka, Bungatang, Asrianti, Hasnawati, Sennawati, Rabasiah, Putri Indardewi, Andi Yusnita, Kisnawati, Jusmiati, Kasmawati, Sunarti, Sumarni, Jumarni….
Waktu aku kelas 1 dan 2, aku paling malas untuk kesekolah. Kalau malasku datang , aku menggunakan akalku untuk tidak kesekolah, kadang aku menyembunyikan celana sekolahku, pura-pura sakit, atau pun bersembunyi dibawah ranjang. Kalau pun aku kesekolah tak jarang aku tidak bolos, apalagi kalu ada penyuluhan kesehatan, wow seru banget karena bolos-bolosannya massal. Rame banget. Soalnya aku dan yang lainnya pada takut disuntik.
Pernah satu kali aku kena suntik , waktu itu tak ada pemberi tahuan, karna guru kami sudah tahu kalau kami diberi tahu pasti kami bolos sekolah. Hari itu sekitar pukul sembilan pagi, kami sedang asyik belajar tiba-tiba saja masuk beberapa orang berseragam putih dengan menyunggingkan senyum manis buat kami, lebih tepatnya senyum kemenangan karena berhasil menjebak kami. Setelah kami sadar bahwa kami akan disuntik, maka seketika itu ruang kelas kami bergemuruh dipenuhi suara tangisan serta suara bangku yang digeser berusaha untuk melarikan diri. Namun tak ada yang bisa keluar dari ruangan tersebut karena sudah dijaga ketat oleh guru kami, Ibu Ica dan Pak Rauf. Suara tangisan semakin menjadi jadi bahkan sebelum jarum suntik menembus kulit kami. Suara tangisku ikut menyumbangkan gemuruhnya ruang kelas kami. Dengan wajah dinginnya lelaki berseragam putih tersebut mendekati temanku, Jusmiati. Jusmiati semakin menaikkan volume suaranya. Pak Rauf dengan sigap memegangi Jusmiati agar tenang. Ketika Pak Rauf berhasil menguasai Jusmiati Lelaki berseragam putih tersebut langsung mengarahkan jarum suntiknya kearah pangkal lengan Jusmiati dan tanpa ampun jarum suntik itu tenggelam dan taningis Jusmiati semakin meledak. Aku semakin panik begitupun dengan teman-temanku namun ada juga sebagian yang berani seperti Asrianti, anak Pak Rauf. Mungkin ia sudah dirayu sama bapaknya dan dijanjiin akan dibelikan mainan bongkar pasang. Setelah beberapa anak yang seakan dibuat mati, kini lelaki berseragam putih itu yang di dampingi Pak Rauf mendekati aku. Tangisku pun semakin meledak, namun tak membuat mereka bersimpati dan kasihanan kepadaku. Bahkan tanpa bab bib bu Pak Rauf mencengkeram aku dan tanpa rasa belas kasih lelaki berjubah putih itu menancapkan jarum suntiknya di pangkal lenganku. Volume suaraku semakin kutinggikan sampai beberapa oktaf dari sebelumnya. Owe….!!! Bertambah gemuruhlah kelas kami. Dan esoknya aku langsung sakit demam. Aneh nggak, tuh ? bukannya tambah sehat... eh, malah sakit.
Naik kekelas 2 membaut hatiku senang walau sebenarnya aku masih belum layak naik kelas karena aku belum bisa membaca. Di kelas 2 aku sangat menikmati hari-hariku disekolah, tentunya waktu-waktu jam pelajaran belum dimulai. Di kelas 2 kami baru masuk kelas setelah anak-anak kelsas 1 pulang sekolah yaitu pukul 09.00 wita, karena sekolah kami kekurangan kelas.
Jadi sebelum masuk kelas atau pada jam istirahat aku dengan sahabat-sahabatku, Samsu, Sabaruddin, dan Andi Adi, selalu pergi bersama ke lereng-lereng gunung mencari jambu. Kebetulan esde kami berada di pinggir gunung mampu . Oh, Seru banget !
Pukul 12.00 wita, Lonceng tanda pulang sekolah pun berdentang membaut wajah-wajah ceria kami semakin ceria. Berbagai rencana di kepalaku sudah menari-nari dan menggelinjang-gelinjang untuk menghabiskan waktuku hari ini. Bermain. Ya, bermain adalah hal yang sangat kami tunggu-tunggu sejak malam menghentikan permainan kami, dengan sahabat-sahabatku, Herman, Baim, Anchu, Edi, Wardy, Samsuddin.
Bermain dengan taruhan seperti main wayang-wayang, main kelereng, main ketapel, main ma’becci. Bermain dengan skor seperti main kelereng lubang, main henggong, petak umpet, main kayu segitiga, main perang-perangan, dan berbagai permainan yang membuat hati kami ceria.
Main Wayang-wayang, Kartu bergambar yang dilempar dengan kartu lawan dan kartu siapa yang gambarnya tidak terbalik maka dialah pemenangnya dan wajib membayar dengan menyerahkan kartunya sesuai jumlah yang dipertaruhkan.
Main kelereng dengan mempertaruhkan kelereng itu sendiri, atau kartu bergambar, gelang karet. Bermain ketapel, Ma’becci, kedua pemainan ini menggunakan taruhan dengan gelang karet. Main ketapel, karet dipasang sejumlah besar taruhan pada tiang lidi dengan tinggi 3 cm atau kurang atau bahkan lebih tinggi. Karet pembidik dilempar, maka lemparan yang paling jauh dari sasaran yaitu karet yang dipasang tadi, maka dia yang paling duluan untuk membidik sasaran tersebut. Bila saran tersebut kena dan terlepas dari kaitan tiang lidi tadi maka ia berhak mengambil karet tersebut menjadi miliknya. Begitupun dengan ma’becci tetapi alat untuk membidik sasaran adalah lidi. Beberapa helai lidi yang diikat yang pada pangkalnya dibuatkan cantolan karet sebagai pelontal lidi tersebut. Maka lidi tersebut dikaitkan pada karet yang memalang antara ibu jari dengan jari telunjuk, ujung lidipun ditarik kuat kuat agar mengasilkan laju yang cukup untuk menjatuhkan taruhan yang dipasang, bak menari anak panah maka lidi tersebut melesat menuju sasaran dan yang paling jago membedik maka dialah yang jadi pemenang taruhan.
Aku dan sahab-sahabatku senantiasa bersama bermain, bercanda, tertawa lepas, namun tak jarang juga kami berkelahi. Tapi tak jarang juga aku tidak berkelahi dengan mereka . Pernah suatu hari aku berantem dengan Edi. Kami berguling-guling diatas rumput dan saling tonjok-tonjokan hingga pada suatu kesempatan aku menggigit telinga Edi sampai akhirnya ia menangis dan..... Aku menang....!!! (hihihi... aku curang ya ?)
Aku juga pernah berkelahi sama Samsuddin. Pada awalnya kami hanya saling ejek-ejekan yang pada akhirnya kami berkelahi ala anak-anak berpelukan kemudian berguling-guling diatas rumput, kadang aku diatas kadang aku dibawah.
Diantara teman-temanku itu, yang paling akrab denganku yaitu Herman dan Baim. Kami bertiga selalu bersama, kehutan untuk berburu buah-buahan (sebenarnya bukan hutan tapi kebun orang, hihihi...) dan berburu burung dengan ketapel. Asyik banget !
Hari Minggu, matahari masih terasa hangat dikulit aku, Herman dan Baim berkumpul dirumah. Pagi itu kami akan pergi berburu burung di hutan (sebenarnya tidak layak disebut sebagai hutan karena hanya ada beberapa pohon besar dan selebihnya semak-semak setinggi 2 meter). Kami mempersiapkan segala keperluan. Korek api, parang, garam, ketapel. Semuanya sudah lengkap. Batu peluru ketapel tidak perlu kami bawa karena dipingir hutan tersebut terdapat sungai yang banyak terdapat batu-batu kecil dan bundar, sangat bagus untuk dipakai.
Kami pun berangkat dengan wajah yang berbinar-binar. Kami yakin kami akan mendapat buruan yang bayak. Setelah berjalan sekitar 1 km melewati perswahan, kebun, dan padang rumput yang ditumbuhi puluhan pohon lontar dan semak-semak belukar, akhirnya kami sampai pada hutan tempat kami berburu burung. Sebelumnya itu kami turun kesungai yang dangkal untuk memungut batu. Setelah penuh tempat peluru yang masing-masing kami bawa, kami bertiga menyebar mencari burung apa saja yang tertangkap oleh mata kami. Aku mengenap-endap dibawah pohon, berlindung dibawah semak-semak. Tiba-tiba 3 ekor burung pipit bertengger tepat didepanku. Mereka tidak melihat aku karena bersembunyi dibalik semak-semak. Jantungku berdebar-debar lebih kencang, aku melambatkan gerakanku agar tidak menimbulkan suara yang berisik bila tanganku menyentuh dedaunan. Jarak yang sangat dekat memberikan peluang kalau burung itu akan mati. Aku mengambil batu yang paling bulat sebesar kelereng. Aku menarik tali ketapel sambil membidik salah satu burung tersebut. Setelah merasa tepat maka akupun melepaskan pelontar tersebut. Buss… peluru batuku meluncur menderu dan Bukk.. burung yang kubidik pun terjatuh sedangkan keduanya kaget dan terbang ketakutan melihat temannya terpental dan terjatuh. Mereka tidak tahu apa penyebabnya.
Akupun bersorak dalam hati dan senyum penuh kemenangan aku keluar dari persembunyian untuk mengambil burung yang berhasil aku lumpuhkan. Setelah matahari tepat diatas kepala, kami menyudahi perburuan kami. Aku mendapat dua burung, Herman 1 ekor, dan Baim 3 ekor. Kami turun kesungai untuk membersihkan burung hasil buruan kami. Setelah bersih, kami mencari tepat bernaung untuk membakar dan menyantap burung-burung tersebut.
Waktu kelas 3, aku pernah berantem di sekolah. Ni anak namanya Anis , anak laki-laki yang badannya nggede dan tinngi . Dia bilang “ Andi Guntur, coba kamu tarik telinganya Eko”. Trus Andi Guntur menari telingaku, itu dilakukannya berkali-kali , karena aku tak mampu lagi membendung emosiku, aku langsung berteriak “pukulan matahari” (kayak Wiro Sableng. Eh, tapi apa benner aku berteriak begitu, kayaknya nggak deh ?). Bersamaan dengan teriakanku itu , melayang pula kepalan tanganku kearah kepala tangan Andi Guntur. Dan apa yang terjadi saudara-saudara....
Bukannya Andi Guntur yang nangis, malah aku yang menangis (hihihi...kok bisa gitu ? lucu ya ? nggak tuh !!!)
Waktu aku kelas 6 , tepatnya pada tanggal 13 Agustus 1995 sekolahku mengikuti perkemahan yang diadakan oleh pemerintah kecamatan Dua Boccoe dalam rangka menyambut hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Perkemahan diadakan di peersawahan kelurahan Unyi. Seluruh siswa-siswi kelas 6 diwajibkan ikut. Berbagai lomba diadakan dalam menyemarakkan hari bersejarah tersebut. Aku mengikuti lomba SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). Hari kedua perkemahan aku sedang belanja di sebuah warung. Aku membeli teh celup sariwangi.
“ Bu, teh ini harganya berapa? ” tanyaku pada pemilik warung.
“ Limaratus rupiah” jawabnya
Aku merogoh kantongku untuk mengambil uang kertas lima ratus rupiah yang aku kantongi sebelumnya sambil memperhatikan bungkusan teh tersebut tanpa meperhatikan uang yang ada ditanganku seraya menyerahkan uang tersebut kepada si penjual.
“ Eh, Dek ! jangan main-main ya !” semprot penjual tersebut marah. Lho, kenapa penjual ini marah. Batinku. Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi menekuri bungkusan teh. Aku melihat ketangan kiriku yang tadi menyodorkan uang. Astaga ! pantasan penjual itu marah. Ternyata kertas yang aku sodorkan bukan uang, melainkan hanya kertas tak bernilai . aduh, aku malu banget. Mana lagi aku diperhatikan ama orang-orang yang belanja disitu.
“ maap Bu, aku salah ambil” ucapku buru-buru merogoh kantongku kemabali dan mendapati uang lima ratus rupiahku. Setelah uang itu aku sodorkan aku langsung buru-buru pergi. Aku malu banget. Ah, sialan.
Kami berkemah selama lima hari dan selama itu pula kami mandi disungai dekat perkemahan dan beol di kebun orang. Pagi itu aku lagi kebelet. Aku buru-buru mecari tempat strategis yang tidak kelihatan orang. Aku mengendap-endap sambil mataku mengawasi situasi disekelilingku, takut kalau ada pemilik kebun sedang menunggui kebunnya. Lagi tegang-tegangnya tiba-tiba kaki ku terasa menginjak sesuatu yang hangat. Aku mengangkat kaki ku pelan-pelan . Astaga ! aku nginjak ranjau darat, alias kotoran manusia. Ah, dasar sial. Ich, menjijikkan.
Hari-hari diperkemahan kami lalui dengan penuh suka dan duka, dan tak terasa seminggu telah berlalu. Semua kegiatan telah berakhir dan kami pun berkemas untuk pulang. Perkemahan kali akan selalu melekat dalam ingatanku karena ini kali pertama aku belajar untuk mandiri, pisah dari orang tua serta mendapatkan pengalaman yang berharga dan mengasyikkan.
Pada bulan Mei 1996, tepatnya setelah Ebta- Ebtanas. Aku dan teman-teman sepakat untuk mengadakan acara Jarojjo . Acara ini dilaksanakan dirumah Hasnawati.
Teman-teman yang hadir hanya yang gaul-gaul aja seperti Putri Indar Dewi, Andi Yusnita, Asrianti, Sumarni, Rabasia, Jumarni, Sennawati, dan Jusmiati. Laki-lakinya yang hadir hanya aku, Sabaruddin, Andi Azis, dan Sakka.
Satu minggu setelah acara jarojjo, kami siswa –siswi kelas enam yang telah dinyatakan lulus, bersama guru-guru kami sepakat untuk mengadakan acara perpisahan dengan piknik ke Lejja dan Ompo yang terletak di kabupaten Soppeng. Kami membawa dua mobil. Satu mikrolet milik Baharuddin yang dikaca bagian depan mobilnya terdapat tulisan “badar 99” dan satu mobil kijang yang atapnya bisa pasang cabut punya Pak Tola , guru kami. Aku naik di mobil Pak Tola. Ada Andi Asis, Sakka, Sumarni, Rabasia, Asrianti plus bapaknya yang sekaligus guru kami, Ibu Ida, trus... siapa lagi yah ? aduh aku lupa.
Yang lucunya baru sekitar 19 Km perjalanan, aku sudah sudah pusing , mau muntah. Sedikit-sedikit aku meludah lewat jendela mobil. Terakhir aku meludah , ludahku hampir kena orang yang sedang berdiri dipinggir jalan. Spontan aja ku bilang “ich, hampir kena ludahku tu orang”. Andi Azis yang duduk di sampingku langsung nyeletuk ngeledek aku “ Ludah kecil apa ludah besar ?”
“ Laudah kecil-lah” jawabku mangkel.
Tak lama kemudian aku muntah beneran, untung yang duduk disamping kiriku , Ibu Ida (guru agamaku) langsung saja ia mengambil topiku untuk dijadikat tempat muntahanku agar tidak berhamburan di lantai mobil. Ibu Ida meladeniku dengan baik, ia memijit-mijit leher belakangku . sejak itu aku nggak pernah bangun ,aku merebahkan terus badanku pada pahaku hingga akhirnya kami sampai di Lejja sedkitar pukul 12.30 wita.
Sesampai di lejja , kami langsung happy-happy tanpa memperdulikan rasa capek setelah berjam-jam naik mobil. Kami keliling-keliling menikmati udara segar pegunungan dan pemandangan sambil berfoto-foto. Tak henti-hentinya aku berdecak kagum pada ciptaan Allah yang begitu indah, pepohonan yang tinggi dal lebat, batu gunung teratur rapih. Diantara kerapihan itu keluar air yang panas dan jernih dari retakan batu gunung. Air itu mengalir mengairi kolam renang yang terletak agak dibawah. Kami tidak mandi di kolam ini karena kami berencana untuk singgah di Ompo (wisata permandian).
Setelah puas, kami pun pulang dan mampir di wisata permandian Ompo. Kami sampai di permandian ompo pada pukul 14.30 wita. Di Ompo kami langsung terjun ke kolam. Kami berenang dan berloncat-loncatan ria. Setelah puas berenang, kami membuka bekal dan makan siang bersama. Kami makan sambil menikmati pemandangan danau yang terletak di belakang area permandian ompo. Selesai makan ada diantara kami yang kembali berenang termasuk aku. Masih ingin rasanya kami berenang namun guru kami sudah memanggil kami untuk berkemas pulang.
Sepulang dari Ompo , kami mampir dirumah mertua Pak Tola (istri Pak Tola orang Soppeng). Kami sampai dirumah mertua Pak Tola ssekita pukul 6 sore. Kami makan malam disana.
Kami meninggalkan soppeng pada pukul 20.00 wita dan kami sampai di cabbeng kurang lebih pukul 23.07 wita. Sesampai dirumahku, teman-temanku pada berteriak “ Hei.... itu Eko bawa oleh-oleh barobbo” (alis muntahku yang masih tersimpan rapih di dalam tas). Dari dalam rumah aku masih mendengar tawa mereka dan akhirnya berlalu seiring berlalunya mobil Pak Tola.
No comments:
Post a Comment