Palangka Raya, 11 Mei 2008
Cerpen
BERMAIN BERSAMA LUMPUR
Oleh: Pirdaus Palawero
Pagi itu matahari bersinar cerah, cahayanya lembut dan terasa hangat. Seorang anak laki-laki berwajah ceria bersenandung sambil berlari-lari kecil diatas pematangan sawah. Kakiknya bersepatukan lumpur, bajunya kotor penuh lumpur dan tanpa ia ketahui di kedua telinganya penuh lumpur. Ia adalah Firman. Ia baru saja pulang dari sawah, sejak pukul empat lewat empat puluh menit pergi membantu ayahnya menyiangi rumput yang tumbuh liar diantara padi yang baru di tanah seminggu yang lalu. Sawah yang dikerjakan ayahnya adalah sawah Pak Ahmad, ketua RT di dusunnya. Bapaknya mengerjakan sawah tersebut dengan sistem bagi hasil. Enam puluh persen untuk ayahnya dan empat puluh persen untuk Pak Ahmad. Sawah tersebut tidak terlalu luas, panen yang lalu keuntungannya hanya sedikit setelah dipotong harga pupuk yang kian mencekik.
Firman mempercepat larinya karena matahari semakin tinggi. Ia tidak ingin terlambat datang ke sekolah. Ia tidak ingin ketinggalan pelajaran karena Ujian Nasional sudah dekat. Tinggal lima bulan lagi ia akan meninggalkan bangku SMP.
Firman memacu sepedanya. Jarak antara rumah dan sekolahnya sekitar 5 kilo metrer. Sesampai di sekolah ia merasa legah karena Pak Budi guru matematikanya baru saja masuk ketika ia masih berada di depan gerbang. Ia memarkir sepedanya dan langsung berlari menuju ke kelasnya. Firman masuk ke kelas sambil memberikan salam dan senyum pada Pak Budi. Dengan ramah Pak Budi mempersilahkan Firman duduk di bangkunya.
“Nak, tahun ini kamu gak usah sekolah dulu ya, soalnya bapak belum punya uang. Masuk ke SMU itu kan mahal dan ayah belum punya uang sebanyak itu. Sabar aja dulu ya. Isnya’allah tahun depan kamu bisa sekolah lagi” ujar ayahnya sedih. Firman hanya bisa menunduk dan mengangguk pasrah. Matanya basah tapi ia tahan agar tak meneteskan air mata. Ia memeras otaknya dan berpikir keras. Ia tak mau menunda sekolahnya tapi ia juga tidak mau menyusahkan orang tuanya. Tiba-tiba senyumnya mengembang. Ia dapat ide.
“ Firman, kerjakan soal nomor lima” perintah Pak Budi. Firman tersentak dari lamunannya. Ia kelabakan. Tapi ia bisa langsung tenang setelah melihat soalnya ternyata gampang saja.
Setelah pulang sekolah Firman langsung pulang kerumahnya untuk mengambil uang tabungannya. Jumlahnya seratus dua puluh ribu. Ia kemudian pergi ke pasar untuk membeli benih ikan emas. Ia membeli seribu ekor sebesar lidi.
Sore itu Firman sibuk mengurusi ikan yang baru saja dibelinya. Ia melepas ikannya di sawah yang digarap ayahnya. Ia membuat parit-parit di tengah sawah yang melintang dari timur ke barat, dari utara ke selatan. Ia juga membuat parit-parit berkeliling di pinggir pematang sawah yang nantinya menjadi tempat ikannya berenang bebas. Ia tak pernah mengeluh walau peluh kian bercucuran. Ia sangat menikmati pergumulannya dengan Lumpur. Ia mengerjakannya dengan hati gembira demi suatu cita-cita yang besar dan mulia.
Pagi sebelum berangkkat kesekolah dan sore setelah pulang sekolah ia dengan sabar memberi makan ikannya dengan dedak. Setiap pagi dan sore ia bermain pada Lumpur, bergumul dengan Lumpur. Dan malam harinya ia memfokuskan untuk belajar lebih keras lagi untuk mempersiapkan dirinya mengikuti Ujian Nasional.
Tak terasa lima bulan telah berlalu. Besok pagi pengumuman kelulusan sudah keluar. Ia cemas. Takut kalau-kalau ia tidak lulus. Namun bila ia melihat pada usahanya selama ini sudah sangat maksimal dan pada waktu ujian semua soal-soal dapat ia kerjakan dengan baik, tapi kita manusia hanya bisa berikhtiar dan semua hasil dari ikhtiar kita Tuhan-lah yang menentukannya. Tapi ia percaya Tuhan maha adil. Tuhan akan memberikan yang terbaik pada makhluknya yang telah berusaha. Dalam khusuknya ia berdoa agar dapat lulus dengan nilai terbaik.
Esok paginya, dengan hati berdebar-debar Firman mendekat ke papan pengu-muman. Ia mencari namanya dan akhirnya ketemu juga. Ia lulus. Matanya berkaca-kaca karena haru. Dalam hati ia memanjatkan puji syukur kepada Tuhan.
Sore itu Firman berencana memanen ikannya dan menjualnya ke pasar esok pagi. Ia akan menangkap ikannya semua dan memasukkannya ke dalam kolam kecil tempat penampungan yang ia buat. Jadilah sore itu ia kembali bergumul dengan lumpur. Firman membuka penutup pembuangan air, hingga airnya habis. Dengan penuh semangat ia mengejar ikan-ikan yang berlarian mencari selamat agar tidak tertangkap. Firman mengejarnya sampai kedalam selah-selah batang padi yang telah menguning. Ia melompati ikan di dalam lumpur. Jadilah seluruh tubuhnya berlepotan lumpur. Ia tertawa melihat dirinya penuh lumpur. Kadang ia sengaja berenang dalam lumpur. Bermain pada lumpur.
Dan ia tersenyum bahagia karena panen ikannya besar-besar dan jumlah bibit ikan yang dulu ia lepas hanya berkurang dua puluh persen saja. Dengan jumlah panen sebanyak itu impiannya untuk lanjut sekolah tahun ini sudah didepan mata. Ia sudah membayangkan dirinya berpakaian putih abu-abu.
Ia melirik pada lumpur yang pekat. Ada sesuatu yang bergerak di dalam sana. Ikan. Firman langsung melompati ikan tersebut. Lumpur muncrat kemana-mana. Di wajahnya, di kepalanya, diseluruh tubuhnya penuh dengan lumpur. Ia kembali bermain dalam lumpur bersama ikan yang akan membawanya pada impian terbesarnya.
**TAMAT**
No comments:
Post a Comment