FIDOBONE

TARO ADA TARO GAU'

Tuesday, 6 December 2011

BERHORA HORE RIA

Jejak di Bulan Juni 2002

Hari ini tanggal 7 juni 2002, hari ini merupakan hari yang paling mendebarkan, hari yang paling kami tunggu-tunggu, hari yang paling menentukan bagi kelanjutan masa depan kami, hari dimana akan dikumandangkan pengumuman kelulusan siswa-siswi yang berhasil dalam pertempuran Ebta-Ebtanas.
Yang biasanya aku yang selalu bangun jam setengah tujuh , hari ini aku bangun Pagi-pagi sekali padahal tadi malam aku tidurnya dini hari , aku susah memejamkan mataku,aku sangat gelisah gara-gara mikirin “lulus gak ya ?”
Aku sudah gak sabaran untuk berangkat kesekolah, tapi jam baru menunjukkan jam enam pagi belum ada orang di sekolah. Aku memutusakan sarapann dulu. kurebus sebungkus Mie sebagai penjanggal perutku. Tapi aku gak berselera memakannya padahal biasanya aku selalu menghabiskan dua bungkus Mie Instan. Mungkin ini semua gara-gara aku terlalu cemas dan gelisah memikirkan pengumuman kelulusan sebentar, Lulus gak ya ?
Biasanya aku yang selalu kesekolah dengan jalan kaki tapi karena hari ini aku pengen cepat-cepat sampai kesekolah akhirnya aku mengorbankan uang bakwanku. Kukira aku yang paling duluan sampai disekolah tapi ternyata aku yang paling lambat datangnya . teman-temanku udah pada ngumpul di koridor kelas 3 IPS 1.
Wajah-wajah teman-temanku pada diselimuti rasa cemas, mungkin wajahku juga demikian dan mungkin lebih para dari mereka.
Suasana lapangan basket sudah disulap jadi panggung dan di naungi tenda biru untuk para tamu dan guru-guru. Kami anak kelas tiga ini perlu berterima kasih pada adik tingkat khususnya anggota osis yang sudah mempersiapkan panggung dan tenda birunya.
Aku mengedarkan pandanganku ke koridor Kelas 3 IPS 4, disana ada Syamsuri, Ambas dan Syamsuri serta teman-teman yang lain. Aku mengedarkan Pandanganku kebawah tenda Biru, gerombolan anak Kelas 3 IPA 1 sedang duduk dengan santai sambil ngerumpi tak memperdulikan adik kelas yang lagi menghir dengan lagu-lagunya. Aku mengenal semua wajah-wajah anak IPA 1 tapi kemana anak itu kok dia gak gabung dengan mereka. Kuedarkan pandanganku keseluruh penjuru angin tapi aku tetap tidak menemukan batang hidungnya Asrianti. kemana anak itu? Padahal tak lama lagi akan di umumkan kelulusan siswa siswi oleh pak Kepala sekolah, Sulam mangampara. Ah, kenapa juga aku memikirkan dia padahal dia juga gak pernah mikirin aku.
Setelah menunggu dengan sabar akhirnya tiba juga acara yang kami tunggu-tunggu. Pak Kepsek naik keatas panggung untuk membacakan pengumuman kelulusan. Semua diam, suasana jadi hening, semua diselimuti perasaan cemas, semua tegang. Jantungku berdegup kencang, aku menunduk dan berdoa “ya Allah semoga aku lulus”
Dari sound system , suara pak kepsek terdengar sangat jelas ditelingaku yang sedikit agak budek ini. Ia berbasa-basi telebih dahulu dan akhirnya “ berdasarkan keputusan menteri pendidikan nasinal dengan ini saya menyampaikan secara resmi bahwa untuk kelas 3 IPA 1 dan IPA 2 dinyatakan lulus seratus persen” semua anak IPA pada berloncatan bergembira ria sambil berteriak meluapkan kebahagiaan mereka, aku tersenyum kecut melihat mereka, aku belum bisa tersenyum bahagia karena kau masih berada di ujung tanduk.
Pak kepsek menyambung lagi omongannya yang sempat terhenti karena keributan anak-anak IPA “ Untu kelas 3 IPS 1, IPS 2, IPS 3 dan IPS 4 dinyatakan hampir tidak lulus artinya semua lulus seratus persen”
“ Allhamdulilah, aku lulus” kataku sambil tos-tosan dengan teman-temanku. Perasaanku sudah legah. Aku sangat bahagia, bahagia banget. Aku tak henti-hentinya mengucapkan puji syukur pada Allah SWT.






Cewek-cewek anak IPS langsung peluk-pelukan cium-ciuman . Anak-anak yang memang udah terkenal pada badung-badung langsung mengomandoi teman-teman untuk mem-pilox baju mereka walaupun pak kepsek sudah melarang tindakan pemborosan ini. Karena larangan itu anak-anak masuk kekelas dan menguncinya rapat-rapat dan sreeet… sreeett… sreeet. Biru, kuning , merah membentuk sebuah tulisan “ lulus”. Aku yang sedari tadi hanya menonton langsung gabung untuk ikut lomba mewarnai. Baju dan rambutku penuh warna. Kusuruh semua teman-temanku untuk menulis namanya di bajuku dengan spidol. Makin banyak tulisannya makin rame. Akhirnya sekarang warna bajuku top abizz.
Setelah corat-coret baju, kami semua lansung turun kejalan membentuk sebuah konvoi dan memperlihatkan pada semua orang bahwa “gue lulus !”
Semuanya berlalu terasa cepat. Teriakan hura-hura telah berlalu. Masa esema telah berlalu. keceriaan di esema telah berlalu, kisah-kisa di masa esemma telah berlalu dan tak akan mungkin terulang kembali dan tak akan pernah. Dan kini kuterduduk di kamarku, termenung memikirkan masa depanku. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan untuk merajut masa depanku yang cerah. Apakah aku harus kuliah? Aduh, aku sudah jemu dengan buku-buku pelajaran. Aku sudah capek untuk menghapal berbagai macam teori ini, teori itu.
Aku bingung, aku tangan ingin salah memilih karena ini sangat menentukan masa depanku. Kupetik gitar tuaku, tak ada irama, nadanya tak juntrungan arahnya. Begitupun hatiku saat ini. Aku bimbang . kulia, enggak, kuliah, enggak. Ah , pusing. Tiba-tiba aku teringat kata-kata Daeng Arasku bahwa kalau kamu mau kuliah nanti setelah kamu dapat kerjaan. Kurasa mungkin itu lebih baik untuk aku, mengingat orang tuatu bukan orang kaya sedangkan kami adalah keleluarga besar, tujuh bersaudara . kalau aku kuliah maka beban Ettaku akan bertambah karena biaya kuliah saat ini sangat mahal . Ya, kayaknya ini yang harus aku jalani.

No comments:

Post a Comment