FIDOBONE

TARO ADA TARO GAU'

Tuesday, 6 December 2011

Cinta itu Dari Hati

Cerpen
oleh: Pirdaus palawero

Pagi itu cuaca sangat cerah . Suara burung tetangga berkicau merdu. Di kamar mandi Rizal lagi bernyanyi riang ‘ jatuh bangunnya Megi Z’, ngebas banget. Inilah kebiasaan Rizal kalau lagi mandi, suka nyanyi-nyanyi (takut kesaing ama burung tetangga hihihi..). Ia pernah menyalurkan bakat nyanyinya ini, ia ikut audisi Indonesia Idol tapi baru selangka, udah gugur. Terang aja gugur, masa lagu yang dihafalinnya, dangdut semua , ngebas lagi. Lagian Indonesia Idol yang dicari , yang bisa nge-pop. Ee…, Rizal malah ngedangdut ria. Hihihi...Dasar sampret.
Selesai mandi, ia buru-buru berpakaian rapi dan meluncur kekampus karena sebentar lagi acara pembukaan pelaksanaan Ospek akan segera dilaksanakan. Sebagai panitia inti ia tidak boleh terlambat.
Sesampai dikampus, semua cama-cami sudah berbaris dilapangan samping aula. Rizal langsung gabung dengan barisan panitia yang berbaris di koridor samping aula.
“ Sal, itu ada cewek cantik” bisik Aldi menujuk cewek itu dengan menggoyangkan dagunya kedepan.
“ Yang mana ?” tanya Rizal belum liat.
“ Itu dibelakang yang gendut ”
“ Oo...itu..., itu namanya Rini, adiknya Ariani” jelas Rizal
“ Lho, kok kamu kenal ?” Aldi heran
“ Aku khan pernah kerumahnya”
Iya, Rizal memang udah kenal dengan cewek yang dimaksud Aldi, tapi cewek itu belum kenal Rizal . Rizal kenal cewek itu jauh sebelum Ospek ini, tapi kenalnya hanya sekedar tau nama saja . Waktu itu Rizal dan Kirjo menyamperin Ariani di rumahnya. Namun Ariani Tidak ada di rumah, malah yang keluar adalah seorang cewek cakep dan ketika ditanya ama adiknya Ariani yang paling bungsu, ternyata namanya Rini, adik Ariani juga.
****

Sudah dua hari ospek telah berlalu. Perkuliahan kembali aktif . Rizal , Kirjo dan Aldi lagi nongkrong di bawah pohon akasiah yang rindang.
“ Jo, Vido mana, kok gak pernah kelihatan ? ” Rizal menanyakan Vido yang merupakan anggota geng-nya
“ Tau tu . Sejak ia jadian sama Selvi , ia jarang kelihatan di kampus... sibuk kencan kali ” tutur Kirjo
“Sal, Sal... tu Rini . Dia makin cantik aja ” tunjuk Aldi . Rini baru keluar dari perpustakaan.
“ Emang kenapa ? kamu naksir ya ?” tembak Rizal
“ Siapa sih yang gak naksir dia ?”
“ Ya udah, tembak aja ”
“ Aduh, banyak saingan. Tajir-tajir lagi saingannya”
“ Siapa sich ?”
“ Sebangsa Allan, Rindo, Jendi ”
“ Wah, hebat juga Rini itu !”
“ Emangnya kamu gak naksir ? Kalau kamu nembak dia pasti diterima. Cewek bodoh manasih yang tega nolak kamu”
“ Kamu ini bisa aja”
Iya, emang bener tu kata Aldi , cewek manasih yang menolak cowok sekeren Rizal , Tubuh atletis, baik hati. Selain itu ia pintar bergaul dan juga humoris . Semua dosen mengenalnya dengan baik karena ia termasuk mahasiswa teladan. Dia termasuk salah satu cowok idaman cewek – cewek.
Pernah suatu hari ada seorang cewek fakultas ekonomi yang nekat menembak dia.
“ Zal, mau ‘gak kamu jadi pacarku ?”
“ Sory girl, burung gue lagi pusing !” jawab Rizal ngikik dan kemudian dengan tenang memberi alasan penolakannya tanpa menyakiti perasaan cewek tersebut dan cewek itupun mau mengerti. Itulah Rizal , ia tidak mau memanfaatkan ketampanannya untuk menggaet cewek sebanyak-banyaknya untuk dimainin. Ia tidak mau pacaran hanya untuk senang-senang . Ia ingin pacaran dengan cinta tulus, cinta murni, bukan cinta yang tumbuh karena napsu birahi. Itulah sebabnya sampai sekarang ia belum punya pacar karena belum ada cewek yang dapat membuatnya jatuh cinta, yang membuat jantungnya menggelepar-gelepar. Dulu ia pernah punya pacar dan itulah cinta pertamanya. Tapi dia harus pisah karena gadis itu dikawinkan dengan lelaki pilihan orang tuanya.
“ Iya bener, pasti kamu diterima jadi cowoknya” tegas Aldi mantap
“ Iya , tembak aja !” timpal Kirjo
“ Tapi aku... sama sekali gak ada perasaan sama dia ”
“ Cewek segitu cantiknya tidak membuatmu tetarik sama sekali ?” tanya Aldi gak ngerti.
“ Walaupun dia cantik , tajir, tapi kalu aku gak cinta , ya...tetap aja aku gak bisa... Cinta itu dari hati yang merupakan anugerah yang terindah dari tuhan dan cinta seperti itu yang aku cari ” jelas Rizal
“ Cinta atau gak cinta tembak aja. Masa’ cewek cantik gitu mau disia-siain ?”
“ Udah deh, aku mau keperpustakaan” ujar Rizal dan berlalu pergi .Aldi dan Kirjo hanya bisa saling pandang. Bengong.
****
Sebulan telah belalu. Di kamarnya , Rizal lagi asyik ngelamun. Gak biasanya ia melamun seperti itu. Melamun apa sich ? Ia lagi membayangkan Rini menjadi pacarnya dan semua orang berdecak kagum padanya karena punya pacar, cewek tercantik di kampusnya. Iya ya, kenapa aku gak nembak Rini saja ?. batin Rizal seakan menyesali saran Aldi yang dulu ditolaknya. Khan otomatis pamorku bertambah, bisa naklukin Ririn. Tapi dia kembali bimbang. Rizal masih ragu untuk mengutarakan isi hatinya untuk menjadikan Rini jadi pacarnya karena selain beda keyakinan, dia juga tidak ada perasaan cinta pada Rini. Apakah aku harus merekayasa cintaku demi memperjuangkan rasa egoku. Tapi karena rasa egonya yang tinggi ingin dibilang hebat . Hebat ? ya, teman-temanya pasti akan mengatakan dia hebat apabila cintanya diterima oleh Rini karena beberapa hari yang lalu sudah beberapa teman kampusnya yang di tolak cintanya oleh Rini, sebangsa Allan, Rindo, Jendi , Hedro . Rizal yakin kalau cintanya akan diterima karena ketiga temannya itu berada jauh di bawah ketampanannya . Hanya saja mereka menang di materi, mereka orang-orang tajir.
Akhirnya ia bertekat untuk menembak Rini .
****
Sore itu, Rizal datang kekampus berniat untuk memberikan sebuah amplop merah jambu yang berisikan puisi cinta. Puisi ini sebagai awal langkah Rizal untuk menembak Rini. Tapi sayang sore itu Rini tidak masuk. Yang ada Cuma kakaknya , Ariani . Rizal mendekati Ariani .
“ Hei, Arni !” Sapa Rizal sok imut.
“ Hei, juga”
“ Apa kabar ?” tanya Rizal sambil duduk di samping Ariani.
“ Baik”
“ Arni, aku punya tebakan, ni ” ucap Rizal basa-basi , sebenarnya dia ingin langsung menanyakan keberadaan Ariani , tapi takut kalau misinya ketahuan.
“ Gini, siapa yang paling jahat di India ?” Ucap Rizal mengeluarkan tebakannya.
“ Hm.., Perampok !” jawab Ariani yakin.
“ Salah, yang bener....”
“ Tungu, tunggu aku belum nyerah” Potong Ariani ‘gak mau nyerah. Ia menggaruk-garuk pantatnya (panuan kali !)
“ Kamu kenapa ?” tanya Rizal heran.
“ Aku lagi mikir, ni”
“ Mikir kok garuk-garuk pantat, biasanya tu kalo orang lagi mikir yang digaruk-garu jidatnya, bukan pantat”
“ Oh iya ya, aku lupa ” ucap Ariani nyengir.
“ Atau jangan-jangan kamu panuan ?” Ucap Rizal ngikik.
“ Sialan lo !” ujar Ariani mangkel.
“ Gimana, bisa ‘gak ?”
“ Emang jawabannya apa sich ?”
“ Tuan Takur !” ucap Rizal bangga tebakannya nggak ke jawab.
“ Lho kok tuan takur ?” Tanya Ariani nggak puas.
“ Iya, coba aja liat pilem India , dikit-dikit yang jadi penjahatnya tuan takur”
“ Oh iya ya hihihi...”
“ Eh Ariani , Rini – nya mana ?”
“ Di rumah”
“ Sama siapa dia dirumah ?”
“ Sendirian”
“ Mamah dan Papa-mu mana ?”
“ Lagi keluar kota”
“ Yes !” Aduh, kelepasan deh.
“ Kok Yes ?” Tanya Ariani heran.
“ Gak . Gak apa-apa kok ”
“ Kamu ngincar adikku ,ya !?” Tembak Ariani .
“ Sst..., aku pergi dulu ya” Rizal buru-buru kabur.
“ Yee..., ketahuan” ledek Ariani . Rizal cuek, pura-pura tidak dengar, ia terus berlalu dan menyongsong motornya.
Rizal meluncur kerumah Rini . Wah, ini kesempatan baik , aku nggak akan membuang kesempatan baik ini. Aku akan langsung nembak dia. Rencana Rizal yang tadinya hanya mau memberikan bingkisan kini berencana untuk sekalian nembak Rini dengan rekayasa cintanya. Ia sudah mempersiapkan kata-kata cinta yang ia ramu sedemikian puitis. Aku apakan nanti ya , kalau aku diterima ? aku potong-potong trus bikin sop buntut. Hihihi... kok aku jadi ngaur gini sich ? Emang sapi, apa ? Batin Rizal , sambil senyum-senyum.
Kini Rizal berdiri di depan pintu .
“ Permisi ” Teriak Rizal sambil mengetuk pintu . Tak lama kemudia Rini muncul dengan senyumnya yang khas. Rizal jadi deg-degan . Grogi. Lho kok aku bisa jadi grogi kayak gini sich. Ah, sialan. Maki Rizal pada dirinya sendiri. Rizal berusaha menguasai dirinya.
“ Masuk” Ajak Rini
“ Disini aja , lebih santai ” ujar Rizal yang telah menguasai dirinya. Rizal duduk di kursi teras tanpa menunggu perintah dari tuan rumah. Rini mengikutinya dan duduk disamping Rizal . hanya meja yang membatasi mereka . Ingin rasanya Rizal memindahkan meja itu agar dia bisa lebih dekat dengan Rini.
“ Ada apa ni, tumben datang kerumah”
“ Gini, aku mau memberikan sesuatu sama kamu. Tadi aku ke kampus tapi kamu nggak ada, waktu kutanya Ariani, katanya kamu lagi ada dirumah , jadi aku datang aja kesini ” tutur Rizal panjang lebar.
“ Emangnya kamu mau ngasi apa sama aku ?”
“ Ini ” kata Rizal sambil memberikan amplop merah jambunya pada Rini .
“ Apa isinya ?” Tanya Rini penasaran.
“ Buka aja sendiri”
Rini merobek pinggir amplop gede tersebut dan menarik isinya keluar.
“ Puisi ya ” ujar Rini setelah mengetahui isinya.
“ Iya, kamu suka?”
“ Iya. Makasih ,ya” Rini kelihatan senang banget dengan peberian Rizal .
“ Rini ” panggil Rizal lembut
“ Ya” Ririn tak kalah lembutnya
“ Aku mau ngomong sesuatu sama kamu ”
“ Ngomong apa ?”
“ Aku mau bilang kalau aku ..., aku...aduh, gimana ya, ngomongnya” kambu deh groginya.
“ Kenapa ?” tanya Rini heran.
“ ‘Gak, tolong dulu ambilkan air putih” pinta Rizal tersengal-sengal saking groginya mau ngatakan cinta. Rini masuk dan kembali membawa teko yang berisi air putih beserta gelasnya.
“ Glek, glek, glek.., aah...” Rizal meneguknya beberapa kali, siapa tau dengan air ini groginya akan hilang.
“ Kamu tadi dari mana ? kok kamu kelihatan haus sekali ?” tanya Rini.
“ Gak kemana-mana, mungkin karena grogi ngobrol dengan cewek cantik kayak kamu ” rayunya.
“ Kamu bisa aja”
“ Iya, serius. Kamu itu cewek yang paling cantik yang pernah aku lihat ” Rizal mengeluarkan jurus ampuhnya. Rini tersipu malu.
“ Udah deh, tadi kamu mau ngomong apa ?”
Rizal menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya . Kencang sekali.
“ Aku mau bilang kalau aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu. Kamu gimana?” ucap Rizal tebata-bata. Di wajah Rini tak ada perubahan ekpresi, terkejut ataupun senang. Rini tetap santai. Hanya Rizal kelihatan cemas menunggu jawaban Rini.
Hening sejenak.
“ Aduh Gimana ,ya. Sebenarnya aku tu, gak mau pacaran, aku hanya ingin sendiri dulu.... Kita temenan aja yah” tolak Rini, halus. Rizal kaget mendengar jawaban Rini . Ia tidak pernah membayangkan kalau rekayasa cintanya akan di tolak. Muka Rizal memerah karena malu.
“ Duh Rin, jangan gitu dong ” Rizal mengiba, dengan harapan Rini akan mengubah keputusannya .
“ Harus gimana lagi. Aku nggak bisa” Rini tetap lembut dan hati-hati, takut menyakiti hati Rizal .
“ Yah, mungkin aku memang tak pantas untuk kamu. Kau bak peri sedang aku bak monster , lalatpun takut menyapaku ” tuturnya tanpa ekspresi, berusaha menarik simpati Rini dengan kata yang menyedihkan.
“ Jangan berkata seperti itu dong, aku jadi nggak enak” ucap Rini merasa nggak enak hati.
“ Nggak usah merasa tidak enak, emang kenyataannya begitu kok” ucap Rizal frustrasi.
“ Nggak kok , kamu keren... Baik hati ”
“ Trus kenapa kamu nolak cintaku ?”
“ Aduh gimana, yah. Cinta itu khan gak tumbuh karena ketampanan, tapi cinta itu tumbuh dari hati yang dalam...gak bisa dipaksakan” terang Rini . Rizal hanya diam karena yang dikatakan Rini itu memang benar, cinta memang gak bisa dipaksakan, seperti pula hatinya, ia nggak bisa memaksakan dirinya untuk mencintai Rini, dia menembak Rini hanya karena untuk mendapat sanjungan, pujian dari teman-temannya. Akhirnya Rizal malu sendiri.
Kini Rizal pulang dengan perasaan lemas nggak kayak tadi waktu berangkat kerumah Rini. Tulang-tulangnya tersa remuk, ia sakit hati, sakit hati bukan karena cintanya yang ditolak tapi karena harapannya untuk mendapatkan sanjungan telah hancur malah hanya mendapat malu. Malu pada Rini , malu apabila teman-teman tahu kalau ia ditolak oleh Rini . Hancur dah Image – ku !
Ah, menyesal aku nembak Rini . Gara-gara dia aku mersa tidak PD lagi. Aku merasa gak punya harga lagi ... ah, Rini . Sebelumnya Rizal selalu merasa keren abis, tapi setelah ia ditolak, ia merasa kerennya habis, tinggal jeleknya . ( hihihi ....) Ah, ternyata nasipnya tidak jauh beda dengan beberapa temannya. Pasti teman – teman akan menertawakan aku bila mereka tau kalau aku ditolak abis oleh Rini . Ah, sialan .
“ Rini tunggu pembalasanku !” teriak Rizal dalam lamunannya. Dia tidak melihat grobak bakso didepannya dan Bruk...!
Kini Rizal terbaring di rumah sakit, lukanya tidak begitu parah, hanya lengan, lutunya dan keningnya aja yang tergores. Vido, Selvi ,Ariani , Kirjo, Aldi dan Allan membesuknya. Selain mereka membawa buah mereka juga memberikan selembar kertas spesial padanya . Rizal membaca tulisan di kertas tersebut ‘SELAMAT , ANDA MASIH BERUNTUNG DAN KAMI BERKABUNG ATAS CINTAMU YANG TIDAK KESAMPAIAN . HAHAHA.....!”
“ Sialan lu !” teriak Rizal pura-pura marah untuk menyembunyikan rasa malunya yang gak ketulungan . Vido , Selvi , Ariani ,Kirjo, langsung terpingkal-pingkal dan akhirnya Rizal ikut tertawa.
****

No comments:

Post a Comment