Jejak di Awal juni 2002
Tanjung Bira sebuah tempat wisata yang tidak asing lagi bagi orang-orang sulawesi selatan. Tanjung bira yang terletak di Kabupaten Bulukumba merupakan tempat wisata yang indah dengan pantai yang berpasir putih dan tebing-tebing yang terjal serta batu karang yang berdiri kokoh di tepi pantai. Dan dari kejauhan berderet beberapa pulau dan salah satu pulau tersebut adalah pulau selayar yang telah dimekarkan menjadi kabupaten selayar, menambah keindahan panorama alam tanjung bira.
Pada hari sabtu tanggal 2 juni 2002 sekitar pukul 13.00 wita, kami Gank Primitif yang pada umumnya anak 3 IPS 1 berangkat ke Tanjung bira untuk mengendorkan otak yang selama seminggu berperang habis-habisan di medan Ebta-Ebtanas. Kami berangkat dengan 23 jumlah personil dengan menumpangi dua mobil yaitu mobil Rusdi (Panter) dan Mobil Irfan (Kijang GLX). Dari jumlah ke 23 personil ini terhitung dari aku, Zamran, Syarifuddin, Bahar, Sabri Dj, Adel dan dua temannya, Ashar, Ijha, Umrah saleng, Irfan , Husaini, Saulfaida Noer, Fitri, Opeck, Arman, Asdar, William, Kurniawan, Fifit, dan dua sopir pribadi.
Dalam perjalanan menuju tanjung bira kami gak pernah berhenti bercanda . apapun yang terlihat di pinggir jalan selalu saja menjadi bahan lelucon. Setiap ada cewek berkerudung di tepi jalan , langsung aja kami teriaki “SARIMAH” dan selebihnya hahahaha…… Siapa tuh Sarimah ? Sarimah itu sebangsa manusia yang berjenis kelamin Perempuan , adik tingkat kami yang selalu pakai jilbab kesekolah, tapi bukan karena jilbabnya yang membuat dia populer, tapi karena wajahnya yang cantik didukung dengan bodi yang super bahenol membuat mata makhluk sebangsaku pada jelalatan. Sekita pukul 17.00 wita , kami sampai ditanjung bira dengan muka ceria dan diselimuti perasaan bahagia walaupun sebetulnya tubuh kami letih karena berjam-jam naik mobil.
Beberapa orang dari kami pergi mecari Villa yang kosong yang bertebaran di sekitar Areal wisata tanjung bira dan sebagiannya termasuk aku berdiri di tepi tebing memandangi laut biru sambil berdecak kagum atas keindahan alam ciptaan Tuhan.
Tak lama kemudian tim pencari Villa menyewa villa yang terletak tak jauh dari pinggir tebing , kami pun segera menurunkan barang-barang kami dari mobil dan membawanya ke Villa. Setelah barang-barang tersimpan rapih, kami langsung pergi jalan-jalan untuk menikmati panorama pantai tanjung bira. Aku, Kurniawan, Husaini, Syarif turun ke pantai dan bermain Volli bersama Adel dan kedua temannya. Karena banyak cewek-cewek yang nongkrong di atas tebing, aku lansung overacting dan teriak-teriak demi menarik perhatian para cewek-cewek dan para pengungjung tanjung bira.
Pukul 19.00 wita.
Aku , Sabri, Bahar, Husaini, Syarif keluar dari Villa untuk menikmati suasana malam hari di Tanjung Bira. Kami mampir di Cafe, entah Cafe apa namanya. Kami mampir hanya sekedar ingin menonton sepak bola PIALA DUNIA 2002 di jepang-korea. Pertandingan pertama di buka oleh Tim Jerman vs Arab Saudi yang disiarkan secara langsung oleh RCTI. Karena pertadingan tidak begitu menarik akhirnya kami pergi menuju ke pantai dibawah sana. Diperjalanan turun kepantai anak yang lain balik ke Villa sementara aku dan Syarif terus berjalan menuju ke pantai. Di pinggir tebing yang sudah dipagari dengan besi aku melihat Wawan dan Asdar yang lagi ngobrol dengan makhluk asing.
Aku dan syarif langsung samperin mereka dan aku lansung overacting, pura-pura gak kenal ama Wawan dan Asdar dan mengajak berkenalan, biar terkesan anak gaul, siapa tau cewek asing itu langsung simpati ama aku.
“ Hei, kenalkan Namaku Eko” kataku sambil menjabat tangan Asdar dan wawan . Trus ku ulurkan tanganku mengajak kenalan ama dua cewek asing itu. Dan dia pun menyambut tanganku.
“ Kenalkan , Eko”
“ Oke” ujarnya dengan membalik namaku dengan mengikuti dialek bicaraku.
“ jangan bercanda”
“Okey deh, namaku Ani”
Trus aku menjabat cewek yang di sebelahnya.
“ Eko” kusebut namaku
“Ririn”
sambil melepas tanganku, aku langsung nyerocos lagi
“ ngomomg-ngomong kamu orang apa?”
“ oprang Indonesia” jawab Ani cuwek
“ Ah, kalian ini dari tadi bercanda terus”
“ siapa yang bercanda , aku ini orang Indonesia asli”
bangsat , itu mah gak perlu kamu kasih tau lo wong dari kulitmu yang item kamu ini orang Indonesia yang paling bersal dari udik.. batinku jengkel. Kurniawan alias Wawan langsung mengajakku pergi meninggalkan cewek dari planet Pluto tersebut. Aku dan Wawan terus berjalan menuju ke pantai sedangkan Asdar dan Syarif langsung pulang ke Villa.
Aku dan Wawan menelusuri pantai yang berpasir putih , air laut berkilauan tersiram sinar bulan.
“Kita cari yuk anak IPS 3”
“ ayo” jawabku. Mengiyakan. Memang anak IPS 3 juga berkunjung ke tanjung bira . mereka menyewa bus dan tadi sore kami lebih dulu nyampenya karena bus mereka mogok .
Kami menelusuri pantai menuju ke barat. Tak lama kemudian kami menemukan Arman yang lagi asyik berpeluka dengan ceweknya.
“ Hei, mana anak-anak yang lain ?” Tanya wawan . mereka langsung kaget karena memang tidak melihat kedatangan kami dan buru-buru melepaskan pelukannya .
“ Ah, sialan kukira siapa” ujarnya ketika ngeh bahwa yang datang adalah kami “ itu mereka “ sambungnya sambil menunjuk ke arah barat . aku dan Wawan langsung samperin mereka. Kami ngobrol sekedarnya saja karena kelihatannya mereka lagi sibuk dan keenakan dengan cewek mereka masing-masing dan kami teman yang baik tidak ingin mengganggu kesengan mereka.
Aku dan Wawan balik ke Villa. Di Villa kami menemukan anak-anak lagi sibuk bikin Coffemix. Aku langsung menerobos dan ikut membuat koffemix.
Dengan menenteng segelas koffemix , aku berjalan menuju ke pinggir tebing untuk menikmati pemandangan laut di malam hari dengan di temani siraman sinar bulan mebuat suasana begitu romantis tapi sayang tak ada gadis disisiku. Andai ada Asrianti disini , sempurnalah kebahagiaanku. Saat ini, Ah, Asrianti, sedang apa dia sekarang.
Aku duduk di tepi tebing sambil memandangi laut yang berkilau-kilau terkena sinar bulan.. Ahmad datang dari arah barat yang sedang menenteng gitar. Ahmad duduk di tempat duduk yang terbuat dari semen yang tak jauh dariku. Ahmad langsung menggenjreng gitarnya. Mendengar suara gitar , wawan, Husaini, Opeck danSyarif langsung gabung dan bernyanyi bersama. Sambil berjoget. Semua lara hati terbang, lenyap . kini tinggal rasa gembira yang menyelubungi hati kami. Ah, indahnya dunia..
Malam belum begitu larut baru sekitar pukul 23.15 wita. Aku masih ingin menikmati malam ini dengan bernyanyi-nyanyi riang tapi mataku tersa berat. Mataku tak bisa lagi diajak kompromi. Aku ngantuk banget.
Aku meninggalkan teman-temanku yang masih berhappy-happy. Sesampai di Villa kutemukan Asriadi sudah ngorok dan memonopoli tempat tidur . aku menggeser sedikit tubuhnya yang gede agar aku dapat tumpangan yang layak. Kurebahkan tubuhku dengan berbantal tas tempat perbekalanku. Tak lama kemudian aku sudah tak sadarkan diri . lelap dalam mimpi yang indah.
Ketika aku terjaga dari mimpi indahku, wah ternyata sudah pagi. Pukul 05. 30 wita. Aku menoleh kesamping, ternyata Asriadi sudah tidak ada .. aku bangkit dari pembaringanku dan langsung cuci mata. Kuambil Tustelku yang sengaja aku bawa dari Watampone untuk mengabadikan momen di tanjung bira ini.
Kuberjalan menelusuri jalan setapak yang ditata sedemikian rupa oleh pengelola Tanjung bira. Pagi ini sangat cerah. Dari jauh aku melihat syarf di sebelah timur. Aku berjalan mendekatinya, sesampai disana ternyata dia tidak sendirian. Ada Kurniawan, Fitri, Sulfaida Noer, Umrah S, Awal, dan Opeck. Aku langsung mengajak mereka untuk berfoto-foto.
Setelah mengambil beberapa posisi dan mengabadikannya aku langsung ngeloyor pergi untuk mencari tempat yang bagus untuk dijadikan latar. Aku berjalan menuju kebarat, kearah Villa. Aku membidik Kafe yang berdiri jauh yang posisinya menjorok ke laut dan menjepretnya. Aku berdiri bagai patung menatap kelaut yang biru, angin laut bertiup membuat rambutku melambai-lambai . udara begitu segar dan aroma laut membuat sekujur tubuhku terasa adem. Aku menoleh kearah barat., rombongan William datang , entah dari mana mereka. Aku lansung meneriaki mereka “mau Foto-foto gak” sambil mengacungkan Tustelku.
“ Mau” jawab mereka serentak dan langsung berlarian menyerbuku.. Aku menyuruh Asdar untuk menjepret kami.
“ Seandainya kita foto-foto disana”ujar Husaini sambil menunjuk kearah timur
“ Iya, Vido, disana pemandangannya bagus. Kamu tadi kemana sih” kata baharuddin menimpali
“ aku belum bangun. Kalian kenapa gak bangunin aku”
“ mana kutahu kalau kamu masih tidur”
“Ya, sudah aku mau kesana sekarang” kataku sambil meninggalkan mereka.
Aku menelusuri jalan beraspal nan sunyi menuju ketimur mencari tempat yang dimaksud mereka.Tiba-tiba aku merasa takut, aku teringat tentang cerita orang-orang dan di surat kabar yang pernah kubaca yang konon katanya di tanjung bira ini ada penunggnya, hantu. Ih.. Takut ! dengan mengumpulkan seluruh keberanianku kuterus berjalan menembus kesunyian dan segala hayalan-hayalan hororku.. akhirnya aku tiba di sebuahn bangunan yang tak lagi terurus. Dindingnya udah pada retak. Di pinggir gedung terdapat sebuah kolam renang yang tak berair. Dinding-dinding kolam terdapat beberapa retakan yang sangat parah. Seperti habis terkena ombak tsunami.. aku berdiri di pinggir kolam , memandang kelaut sebelah timur. Terlihat dari jauh pulau selayar. Angin laut disebelah sini bertiup sangat kencang. Bajuku berkibar-kibar dibuatnya. Aku masih ingin berlama-lama disini tapi pikiran hororku terus menghantuiku memaksa aku untuk bergegas meninggalkan tempat ini.
Aaaku balik ke Villa untuk menyimpan Tustelku. DiVilla kutemukan Sabri yang tengah duduk bengong sendirian .
“ dari mana?:” Tanya Sabri
“ dari Sana” tunjukku kearah timur “ pemandangan disana bagus banget”
“Kesana yuk, temani aku” ajak Sabri. Akupun mengiyakan ajakannya karena memang tadi aku belum puas menikmatinya karena dihantui hal-hal yang menyeramkan.
Sesampai disana akupun menikmati pemadangan disana dengan perasaan tenang. Kalaupun ada hantu, paling tidak aku tidak pingsan sendirian.
Setelah kami puas menikmati pemandangan disekitarnya. Aku dan Sabri balik keVilla. Baru beberapa meter kami meninggalkan kawasan itu , tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara gemuruh dari dalam semak-semak yang makin lama makin dekat suara gemuruh itu. Jantungku langsung gedebuk-gedebuk. Bulu kuduku merinding. Aku dan sabri saling pandang gak bisa bersuara. Diam kayak sombie. Jangan-jangan inilah yang dibilang orang, HANTU. Batinku. Suara itu semakin mendekati kami. Kukumpulkan keberanianku. Aku mengambil dua batu jalanan, sabri pun demikian. Bila makhluk ini berwujud maka mampuslah kau, kan kulempari batu dan berteriak “Help Me”.Suara itu tinggal beberapa meterl agi, semakin dekat, dekat, dekat dan……. Muncullah dua ekor makhluk yang berbulu hitam kecoklatan dan salah satu makhluk itu mengeluarkan suara” mbehehe, mbehehe”. Astaga ternyata seekor kambing yang diuber-uber anjing. Bangsat aku kira hantu. Syukur,syukur Alhamdulillah. Setelah kepanikan kami berakhir kami langsung tertawa . hahaha…..!
Sesampai di Villa kami menemukan Villa dalam keadaan kosong. Entah kemana mereka semua. Aku mengajak Sabri kepantai, mungkin mereka ada dibawah sana.. sesampai disana ternya benar, meraka sedang main bola. Aku dan sabri langsung masuk kearena dan ikut main bola. Setelah capek main bola klami langsung terjun ke laut. Berenang, lompat-lompat dan berfoto-foto.
Pukul 10.00 wita
Kami berkemas untuk pulang ke Bone dan meninggalkan segala keindahan alam Tanjung bira.. dalam perjalanan pulang kami tak banyak bicara lagi karena kami kecapean, khususnya aku yang baru beberapa kilo meningggalkan tanjung bira , langsung tidur .
Sekitar pukul 16.00 wita kami telah sampi di Watampone dengan selamat. Suatu perjalanan yang sangat melelahkan tapi begitu indah untuk dikenang dan suatu saat nati aku akan kembali lagi untuk menciptakan kenangan yang lebih indah.
Kurniawan di tahun 2013
Syarifuddin di tahun 2013
Sabri Djamil di tahun 2013
******
TINGGALKAN JEJAK ANDA DI KOLOM KOMENTAR
anda sopan kami pun segan







No comments:
Post a Comment