itu hanya kebetulan semata. okey...kalau paham anggukkan kepala, kalau belum, segera hubungi seseorang untuk memberi pemahaman kepada Anda.
19-11-1995
Sore itu langit cerah. Sebuah penjara yang terletak di pinggiran kota begitu terlihat sepi. Bagunan itu seperti tak berpenghuni. Tak ada makhluk yang berseliweran. Seperti itu lah penjara di sore hari bila tampak dari luar. Hanya dari depan saja penjara itu tampak seperti bangunan kantor sedangkan dari sisi samping kiri, kanan dan belakang hanya tampak sebuah dinding beton setinggi 5 meter ditambah 2 meter pagar kawat berduri. Namun siapa sangka kalau di balik kebisuan dan kokohnya dinding beton tersebut terdapat ratusan manusia-manusia dengan aktivitasnya masing-masing. Manusia-manusia tersebut adalah para narapidana (napi). Napi tersebut sibuk dengan pekerjaanya yang sudah terprogram maupun yang tidak namun tetap pada jalur yang sudah ditetapkan oleh aturan penjara. Di dalam penjara ini seperti layaknya sebuah kota kecil dengan kesibukan masing-masing penghuninya. Rismanto merupakan salah satu napi di penjara itu yang tinggal di blok E. Karena dia punya pengalaman berjualan maka dia diperbantukan oleh Margo untuk membantunya berjualan di koperasi. Sudah dua bulan ini Margo mengelola koperasi penjara. Untuk mempermudah komunikasinya dengan Rismanto, Margo membekali Rismanto sebuah handpho. Bila ada barang yang kosong di koperasi, Rismanto bisa dengan segera menghubungi Margo lewat handphon.
Sore itu pukul 15.30 wib, di dalam sel Rismanto sedang menggunakan Handphon. Entah siapa yang dia sms. Karena saking asiknya sms-an Rismanto tidak tahu kalau Yogi sudah berdiri di belakangnya yang kebetulan sedang kontrol ke dalam blok E. Karena adanya aturan tidak boleh napi menggunakan handphon dan tidak tahu kalau handphon tersebut adalah handphon seniornya Margo, maka Yogi pun menyita Handphon tersebut dan langsung pergi.
Pada pukul 18.30 wib. Margo datang kesel Rismanto. Rismanto langsung melaporkan kejadian tadi sore kalau handphonnya di sita oleh Yogi. Mendengar handphonnya diambil oleh Yogi, Margo langsung mendatangi Yogi di rumahnya dan memarahi Yogi.
20-11-1995
Pagi itu Yogi piket pagi. Yogi menyimpan geram di hatinya. Geram pada Rismanto. Yogi menganggap gara-gara Rismanto lah dia di marahi oleh Margo. Yogi menceritakan kegeramannya tersebut pada Ardi dan Wawan. Akhirnya mereka sepakat untuk memanggil Rismanto untuk di beri pelajaran karena tidak tahu terimakasih padahal sudah diberi keringanan tidak di jebloskan ke sel pesakitan. Pukul 09.15 wib Yogi, Ardi, dan Wawan bergerak menuju ke blok E untuk menjemput Rismanto. Ketika melewati blok D, Ardi belok menuju ke pos blok D untuk memanggil Fadli yang sedang bertugas di blok D. Fadli di ajak untuk ikut ke blok E namun dia tidak tahu untuk apa dia diajak ke blok E. Akhirnya jadilah mereka berempat menuju ke blok E. Mereka langsung menuju ke kamar sel Rismanto. Namun Rismanto tidak ada. Kata temannya dia ada di koperasi. Ardi memanggil Gerandong, salah satu napi yang kebetulan lewat di depan Ardi.
“Gerandong, panggil Rismanto kesini. Bilangin kalau dia dipanggil sama Fadli” ujar Ardi pada gerandong. Gerandong langsung berlalu menuju ke koperasi.
Yogi, Wawan, Ardi, Fadli menunggu di pos blok E. Tak lama kemudia Rismanto datang. Napi yang berumuran 23 tahunan itu menghampiri Fadli.
“ada apa bapak memanggil saya?” tanyanya penuh hormat pada Fadli. Karena setahunya yang memanggilnya adalah Fadli. Fadli kelihatan bingung karena merasa tidak pernah memanggilnya. Namun belum sempat Fadli menjawaab pertanyaan Rismanto, Ardi langsung menampar pipi kiri Rismanto. Disusul kemudian Wawan melayangkan tendangan ketubuh Rismanto. Tak ketinggalan Yogi ikut memberikan pukulan dan tendangan pada Rismanto. Jadilah Rismanto mendapat serangan bertubi-tubi tak ada hentinya. Fadli yang tidak mengerti permasalahannya hanya bingung melihat temannya membabi-buta. Karena kasihan melihat Rismanto, Fadli berusaha menghentikan amukan temannya. “hei sudah sudah”. Namun teguran Fadli tak dihiraukan. Beberapa napi yang melihat itu hanya bisa terdiam dengan hati ciut.
Rismanto di gelandang menuju ke posko utama. Dalam perjalanan menuju pos utama tak henti-hentinya Rismanto mendapatkan tendangan dan pukulan dari polisi penjara tersebut. Dari dalam blok D dan C puluhan mata napi menyaksikan kejadian itu. Begitupun yang ada dilapangan ikut menyaksikan kejadian itu. Mereka hanya bisa terdiam tidak bisa berbuat apa-apa. Melawan petugas sama halnya dengan bunuh diri. Dari sebuah sudut, seorang napi menyaksikan kejadian itu dengan penuh amarah. Hatinya ter iris-iris melihat Rismanto di perlakukan seperti itu. Seketika bibit dendam tumbuh di hatinya. Tangannya di kepalkan. Tubuhnya bergetar menahan amarahnya. “Tunggu saatnya”. Batin napi tersebut.
***
Rizal duduk sambil menikmati teh di gelas besarnya. sesekali Rizal mengedarkan pandangannya ke sekitar menara V, untuk memastikan keadaan disekitar menara V dalam keadaan aman terkendali. Ya, itulah tugas utama polisi penjara diatas menara. Mengontrol dan mengamankan daerah steril area wilayah barat, jangan sampai wilayah tersebut digunakan narapindana untuk melarikan diri dari penjara. Narapidana yang berada di wilayah tersebut tanpa seisin petugas maka petugas yang mengamankan wilayah tersebut berhak menegur dan memberi peringatan, namun apabila teguran dan peringatan tersebut tidak diindahkan maka petugas tersebut dapat menembak narapidana tersebut.
Jam sudah menunjukkan pukul 09:15 wib, sudah 15 menit Rizal berada di atas menara V. Sebelumnya Rizal bertugas di blok D. Roling dilakukan setiap 2 jam sekali.
Tiba-tiba Rizal dikagetkan dengan suara dentuman dan suara teriakan dari arah ruangan komandan jaga. Pasti ada lagi yang dipukul ni. Batin Rizal. Siapa lagi yang bikin masalah di pagi yang cerah ini.
Wah, kebetulan ni, aku mau uji nyaliku dulu ah. Sepukul dua pukulan lah buat yang bikin onar itu. Batin Rizal. Rizal langsung turun dari menara V yang kebetulan tak jauh dari ruang komandan jaga. Jantung Rizal berdegup kencang karena ini akan menjadi pengalaman pertamanya memukul narapidana. Aku harus mengasah mentalku agar bermental baja. Batinnya. Niat Rizal sudah bulat, sebuah tendangan atau pukulan akan didaratkannya ke tubuh sang pembuat onar. Selang satu menit Rizal sudah sampai di ruangan komandan jaga.
“Mana orannya”. Tanya Rizal dengan suara lantang dengan gaya super galak.
“O ini to orangnya” hardiknya setelah melihat sang pembuat onar. Namun batinnya langsung tercekat karena orang tersebut adalah Rismanto, orang yang sering membantunya untuk membuat kopi atau keperluan yang lainnya.
“ Kenapa lagi ini” ujarnya masih dengan suara galaknya, berusaha menyembunyikan perasaan tak teganya pada Rismanto .
“Kurang ajar banar itu, mas” jawab Yogi penuh amarah.
Rizal langsung maju dan menendang lutut Rismanto yang sedang duduk sila di lantai. Namun tendangannya tidak kencang sekencang niatnya waktu masih belum mengetahui pelaku keonaran tersebut. Rizal sungguh tidak tega melihat wajah pesakitan Rismanto. Wajah itu terus terpekur menatap lantai. Ketakutan dan kecemasan tersirat diwajahnya. Pukulan, tendangan sedahsyat apalagi yang akan mendarat ditubuhnya. Apakah dia masih sanggup untuk menahan hantaman yang akan dia terima. Terlihat bercak darah di sudut bibirnya.
Untuk mencairkan suasana horor diruangan tersebut, Rizal mengambil botol Fanta yang ada di kusen jendela tempat Fadli bersandar. Dia berlagak hendak memukulkan botol fanta ke kekepala Rismanto. Namun Rizal hanya menenteng botol itu lalu lewat di depan Rismanto tanpa menyentuhnya sedikit pun. Sontak yang melihat tingkah Rizal langsung tertawa sedangkan yang tingkat amarahnya masih memuncak hanya mampu untuk tersenyum geli.
“bangsat, kurang ajar banget lo ya” bentak Yogi pada Rismanto dengan aksen banjarnya yang sangat kental. Sepertinya Yogi masih belum puas meluapkan amarahnya. Melihat kondisi itu sepertinya penderitaan Rismanto akan terus berlanjut. Rizal yang tak sanggup melihat Rismanto dipukuli akhirnya meninggalkan ruangan itu dan kembali ke menera V. Dan selanjutnya Rizal tidak tahu lagi apa yang terjadi pada Rismanto.
***
Pukul 13.40 wib.
Di salah satu kamar yang ada di blok D terlihat Manang sedang terlibat perbincangan serius dengan Arsel dan Bambus. Manang merupakan orang yang dituakan di blok D tersebut. Sedangkan Arsel dan Bambus adalah orang kepercayan Manang. Tangan kanan Manang.
“mereka sudah keterlaluan. Sebesar apa sih salah Risman sampai harus di pukuli kayak gitu. Nempeleng, nendang 1 kali 2 kali itu tidak apa-apa. Ini di tempeleng ditendang sampai berdarah telinga Risman”
“Ya Bang. Mereka sudah keterlaluan” ujar Arsel menimpali
“Trus kita harus bagaimana Bang?” tanya Bambus pada Manang.
“kita balas. Kita gebukin mereka bertiga. Tapi jangan sampai mati ya...ingat itu” tegasnya pada kedua anak buahnya
“kapan kita gebukin mereka bang..?” tanya Bambus bersemangat
“karena besok mereka libur, jadi lusa kita gebukin mereka. Pada saat mereka piket siang. Kita tunggu mereka masuk ke dalam blok” jelas Manang “Arsel, kamu yang kordinir anak-anak. Ketika mereka masuk ke dalam blok, kamu langsung beri aba-aba anak buahmu untuk menyerang secara serempak”
“ok bang”
“hubungi semua anak buahmu, beritahu mereka rencana kita ini. Ingat jangan sampai rencana kita ini bocor” tegas manang mengingatkan anak buahnya.
“baik bang” jawab Arsel dan Bambus bersamaan
“ Kalau begitu kami pamit dulu, bang” ujar Arsel
Manang mengangguk mengiyakan. Arsel dan Bambus keluar dari kamar Manang. Mereka berpisah untuk melaksanakan tugas masing-masing.
***
Pukul 18.30 wib.
Hujan turun sangat deras membuat Rizal datang terlambat begitu pun teman seregunya yang lain. Rizal tiba di kantor pada pukul 18.20 wib yang seharusnya jam pergantian regu jaga (aplusan) pada pukul 18.00 wib, sehingga komandan jaga, Manduki yang kebetulan rumahnya di Komplek Perumahan penjara yang dekat dengan kantor harus turun tangan untuk mengecek para Napi. Setiap pergantian regu jaga, regu yang menerima penjagaan berikutnya terlebih dahulu mengecek lengkap tidaknya jumlah narapidana. Setelah memastikan jumlah narapidana lengkap, keadaan aman serta barang inventaris lengkap semua maka komandan Manduki pun menerima tanggung jawab pengamanan penjara. Setelah serah terima pengamanan lapas, Komandan Manduki langsung pulang untuk makan malam dirumahnya, dengan terlebih dahulu menyerahkan tanggung jawab penjagaan pada wakil komandan, Wawan. Yang kebetulan baru tiba dikantor. "Pak Wawan, saya pulang dulu, mau makan" ujarnya sambil menyerahkan kunci lemari senjata.
Tidak lama setelah Komandan pulang, Ardi, Yogi, Fadli, Anton yang merupakan anggota regu jaga kami tiba di kantor. Ardi, Yogi, Anton langsung kumpul di ruang komadan. jadilah mereka berlima di ruangan itu bersama dengan wakil komandan, Wawan dan Fery anggota regu jaga IV yang belum pulang. Mereka sedang berbincang namun Rizal tidak tahu apa yang mereka perbincangkan karena suara meraka terhalau suara hujan yang masih deras. Sesekali derai tawa mereka terdengar menembus suara hujan. Jarak Rizal dengan mereka juga memang agak jauh, sekitar 6 meteran dan juga dipisah oleh sekat tembok yang dihubungkan sebuah pintu, dan sebuah jendela tanpa daun jendela ataupun kaca penyekat.
Sedangkan Fadli langsung duduk di kursi dibelakang meja yang tak jauh dari Rizal. Fadli sibuk dengan HP N70 nya, mungkin dia lagi main mig33. Sedangkan Rizal sendiri sibuk menulis nama-nama anggota regu jaga dipapan penempatan tugas anggota regu.
Sekilas Rizal melihat Margo datang dengan memakai payung, sandal jepit, celana pendek dan baju kaos berkerah warnah kream. Margo adalah senior Rizal. Umurnya mungkin sekitar 40-an. Dia seakangkatan dengan komandan Manduki. Dia masuk ke ruangan komandan jaga dimana Ardi, Yogi, Anton, Fery, Wawan sedang duduk ngobrol. Aku mendengar Margo ngomel-ngomel, entah siapa yang dia omelin. Wah, bakal terjadi pemukulan ni. Batin Rizal. Takut bakal terjadi apa-apa, Rizal segera melangkah menuju ke jendela dan melongokkan kepala lewat jendela hendak melihat siapa yang bakal kena pukulan. Karena cuma ngomel-ngomel saja, Rizal kembali melanjutkan kerjaannya di papan tulis.
Ardi keluar dari ruang komandan jaga dan berdiri di dekat Rizal sambil menyandarkan tangannya diatas meja memperhatikan Rizal sedang menulis. Saat Rizal lagi konsentrasi menulis, Margo datang dari ruang komandan jaga langsung mendekati Ardi. "ini.. pegawai baru macam-macam" ujarnya penuh amarah, setelah berucap, Margo langsung mengayunkan payung yang sudah disimpulnya kearah Ardi. Rizal yang berdiri di dekat Ardi, hampir saja wajahnya terkena ujung payung. suara deru payung saat lewat didepan wajahnya terdengar nyaring pertanda betapa hampirnya wajahnya terkena ujung payung. Air sisa hujan yang belum menetes habis terciprat ke wajah Rizal. Payung itu mendarat di bahu kiri Ardi. Ardi yang dipukul hanya mengangkat tangan kanannya seperti layaknya sebuah lambaian seraya berkata "oke oke... ya ya..." kemudian menjauh dari Margo. Margo yang masih dikuasai emosi berusaha memburu Ardi. Anton yang kebetulan akrab dengan Margo langsung menangkap tangan Margo dan berusaha menenangkannya seraya berujar "sudah pak... sudah lah". Margo berusaha melepaskan diri dari Margo "Memang anak itu sekali-kali harus di beri pelajaran" ujarnya berapi-api. Margo sepertinya kewalahan menahan Margo. Rizal yang melihat demikian langsung ikut memegang tangan kanan Margo. "Sudah pak, sudah" ujar Rizal ikut menenangkannya. "ah...lepaskan aku, emangnya aku orang gila di pegang seperti ini" ucapnya sambil menghentakkan tangannya agar terlepas. Rizal dan Anton akhirnya melepaskannya. Ia terus ngomel-ngomel. bolak balik kayak setrikaan. Setelah puas meluapkan amarahnya barulah ia pergi, keluar menerobos hujan. Ia membiarkan hujan membasahi tubuhnya. mungkin dia lupa kalau yang ada di tangan kirinya adalah payung. Amarah memang membuat orang bisa jadi lupa.
23-11-1995
Pukul 13.45 wib Fadli bertugas di blok D. Dia duduk di pos blok D ditemani segelas kopi. Facebook atau migg33 sebagai kawan setianya menghabiskan waktu agar tidak membosankan. sesekali dia berjalan masuk mengontrol keadaan dalam blok. Kembali duduk dan menyeruput kopinya yang masih mengepul. Dance seorang napi kasus pemerkosaan menghampiri Fadli. Ikut mengintip layar handphon Fadli. Mungkin hanya sekedar inprofisasi untuk memulai sebuah obrolan dengan Fadli. Fadli dalam bersosialisasi dengan napi cukup baik sehingga para napi tidak pernah sungkan untuk sekedar mengoblol dengan Fadli. Begitu pun dengan Dance. Mereka berbincang-bincang santai. Obrolan mereka terhenti ketika seorang dari dalam blok berlari keluar. "Ada apa.?" Tanya nya pada Dance dengan isyarat memerintah untuk melihat apa yang terjadi. Namun belum sempat Dance berdiri, 2 orang berlari keluar menyusul orang yang pertama tadi, Kemudian disusul pula dengan kerumunan orang yang di iringi dengan teriakan yang tidak jelas. Suara semakin gaduh terdengar di depan blok D. Fadli berlari keluar. Dia terperangah menyaksikan apa yang terjadi. Dia mematung. Tubuhnya terasa tidak bertenaga. Kengerian menyelimuti tubuhnya. Fadli berdiri 6 meter dari Yogi yang sedang dipukuli oleh puluhan napi. Pukulan bertubi-tubi mendarat di sekujur tubuh Yogi. Fadli meringis menyaksikan kengerian itu. Fadli ingin berteriak lantang menghentikan amukan napi yang disulut amarah itu. Dia ingin menerjang memukuli para napi yang memukuli teman seregunya tersebut. Tapi entah kenapa mulutnya terasa terkunci, kakinya terasa terpasung dan tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya bisa berdiri melongo dengan perasaan tidak percaya apa yang dia saksikan di hadapannya. Dia hanya bisa berharap agar segera terbagun dari mimpi ini. Dia terperanjat dari keterpakuannya mendengar teriakan lantang dari jauh.
“woi bangsat...hentikan!!!”
Fadli mengarahkan pandangannya kearah suara tersebut. Sesosok tubuh dengan langkah panjang dengan tangan diacungkan kearah gerombolan napi yang memukul Yogi. Sosok itu adalah Sigar. Umurnya sudah 48 tahun. Dia petugas senior yang sangat ditakuti di penjara tersebut. Para gerombolan napi tersebut langsung berhaburan mengamankan diri masing-masing ketika mengetahui yang datang adalah Sigar. Seketika kegaduhan itu mejadi senyap. Seperti tidak terjadi apa-apa. Para gerombolan napi yang mengeroyok Yogi telah hilang dari pandangan. Tiggal Fadli dan beberapa napi yang prihatin melihat kondisi Yogi yang masih terlihat. Yudo salah satu napi berlari menangkap tubuh Yogi yang sempoyongan. Dua napi ikut membantu Yudo untuk membopong tubuh Yogi yang terkulai lemah. Fadli mengikuti Yogi yang dibopong menuju ke poliklinik penjara.
23-11-1995
Pukul 15.00 wib, saatnya untuk roling. Rizal turun dari pos III. Ketika sampai di depan Posko utama Rizal melihat banyak orang. Mereka berkelompok-kelompok sambil berbincang-bincang. Ada yang didepan ruangan KAMTIB, di depan klinik dan tidak satupun Rizal kenali dari mereka. Dan di pinggir kolam Ada Asep, Sadik, Fery, Andre. Orang yang tidak kukenal itu mungkin teman-teman seangkatan Andre yang pada ngumpul. Batin Rizal. Soalnya mereka lagi mengikuti prajabatan dan mungkin Andre membawa teman-temannya untuk melihat-lihat penjara. Rizal kembali mengedarkan pandangannya kesekeliling dan mencoba mengenali orang-orang tersebut. Tetap tidak ada yang dia kenal namun ada beberapa orang yang dia ketahui kalau orang tersebut adalah polisi, terlihat dari seragam yang dia pakai. Polisi itu berdiri di depan pintu klinik Penjara. Berarti bukan teman Andre. Batinnya. Atau mungkin ada razia narkoba di dalam penjara. Rizal mendekati Sadik yang berdiri di dekat kolam untuk mencari informasi.
"ada apa ini.?" Tanya Rizal pada Sadik.
"Coba kamu lihat temanmu Yogi di dalam" jawabnya menunjuk ke dalam klinik.
Pasti baru saja terjadi insiden. Batin Rizal . Luka parah berlumuran darah pasti Yogi itu. Rizal merasa ngeri membayangkannya. Bergegas dia menuju ke klini. Didapatinya Yogi terbujur di tempat tidur. Rizal tidak melihat ada darah ditubuh Yogi. Syukurlah berarti dia tidak luka parah seperti yang dia bayangkannya. Ditusuk dengan benda tajam.
"Kenapa pak..?" Tanya Rizal dengan nada penuh simpati.
"dikeroyok napi" jawabnya dengan suara agak berat.
"Berapa orang"
"15 orang, sampai 20 orang" ujarnya berusaha mengingat-ingat banyaknya orang yang memukulnya.
"Siapa-siapa aja? "
"Ga tau tapi aku ingat wajahnya"
"Dikeroyok dimana.?"
"Di depan blok D"
Rizal diam. pikirannya menerawang, membayangkan detail pengeroyokan itu berdasarkan imajinasinya sendiri. Sebenarnya masih banyak yang ingin dia tanyakan tapi kasihan Yogi. Kondisinya tidak memungkinkan untuk bercerita panjang lebar. Rizal menawarinya air minum sambil mengulurkan air minum gelas kearah Yogi. Dia pun meminum air tersebut dengan memiringkan sedikit kepalanya untuk menjangkau ujung sedotan. aku mencermati seluruh wajahnya. Wajahnya di beberapa titik merah lebam. Ditengkuk dibawah telinga pun juga memar.
Tak selang kemudian Fredi, kepala keamana penjara datang. Rizal langsung mundur memberi ruang kepada Fredi.
"Kamu tahu orangnya yang memukul kamu?" Tanya Fredi.
"Aku tahu aja pak wajahnya" jawab Yogi kepkepayaha
"bisa berdiri gak? Kita masuk kedalam mencari orangnya" tanyanya kemudian. Fredi langsung keluar tanpa menunggu persetujuan Yogi. Yogi bangkit dari tempat tidur. Dengan di bantu oleh dua orang polisi Yogi berdiri dan berjalan menyusul Fredi yang bergerak menuju ke dalam blok. Rizal dan beberapa petugas penjara serta polisi mengekor di belakang Yogi. Semua kelompok-kelompok kerumunan tadi yang ada di depan klinik dan depan KAMTIB maupun yang ada di ruang posko utama bergerak menuju kedalam blok D.
Dengan dipapah oleh dua orang polisi, Yogi mengikuti Fredi masuk ke dalam blok D dan menyisir kamar sel. Setiap penghuni sel disuruh berbaris, selanjutnya Yogi diminta untuk mengenali wajah-wajah setiap penghuni sel. kemungkinan salah satu dari mereka yang ikut mengeroyok Yogi. Sudah 3 kamar yang di periksa namun belum ada wajah yang dia kenal. Kamar 4 kembali disuruh berbaris. Dan Yogi pun menunjuk salah satu dari 5 penghuni kamar tersebut. Napi itu pun langsung diamankan. Tangan kanannya dikunci dengan cara menekuk jempol tangannya. Arsel nama napi tersebut. Jamri yang merupakan salah satu polisi penjara, langsung menonjok dgu bagian bawah Arsel, meluapkan emosinya yang sedari tadi ditahan karena belum tahu pada siapa amarahnya itu akan dilampiaskannya. Jamri langsung ditenangkan oleh aparat kepolisian yang ikut membantu pencidukan tersebut. Arsel diminta untuk menyebutkan nama temannya yang ikut melakukan pengeroyokan. Namun dia mengatakan tidak tahu. Penyangkalannya itu membuat emosi Wedeng memuncak dan langsung meninju kepala Arsel. Akhirnya Arsel dituntun untuk menyisir setiap sel dan menunjuk temannya. Kuncian di jempolnya di kencangkan sehingga dia kesakitan. Akhirnya dia menyerah dan menunjuk teman-temannya yang ikut melakukan pengeroyokan. Sehingga didapatilah sepuluh napi yang ikut melakukan pengeroyokan tersebut. Delapan napi dari blok D dan dua napi dari blok C. Kesepuluh napi tersebut, Arsel, Bambus, Ali, Adit, Jarik, Wiwin, Japra, Iwan, Royes, dan Amat langsung di bawa ke sel. Mereka di introgasi satu-persatu untuk mengetahui apa modusnya dan siapa dalang dari semua ini. Sedangkan Yogi langsung di bawa ke rumah sakit untuk diberikan perawatan.
***
Pukul 18.30 wib
Rizal, Ardi, Fadli, Wawan, Anton berjalan menuju ke sel di mana kesepuluh napi yang mengeroyok Yogi di kurung.
“semuanya berdiri.!!!” bentak Wawan. Serempak mereka berdri “semuanya mendekat ke terali besi. Kedua tangan di letakkan di terali besi”
Keempat anak buah wawan bergerak dan memborgol semua tangan napi. Satu borgol untuk 2 orang napi. Borgol di sangkutkan di terali besi sehingga meraka tidak dapat duduk ataupun menjauh dari terali besi. Wawan mengambil tongkat listrik diambil yang diselipkan di pinggangnya. Begitupun keempat anak buahnya. Bahkan anak buahnya memegang dua tongkat. Satu tongkat listrik, satu tongkat rotan. Dan jeritan pun terdengar dari ruangan sel tersebut.
“ini akibat kalau napi berani melawan petugas” bentak wawan
“ampun pak”
“tak ada ampun bagi kalian”
Sreetttt.....bak buk.....suara setruman dan tongkat bersahutan di tubuh mereka. Satu persatu mereka pingsan. Mereka di sadarkan kembali dengan guyuran air. Setruman dan rotan pun kembali mendarat di tubuh mereka.
“sampaikan pada teman-temanmu, jangan pernah melawan petugas bila tidak ingin bernasib sama seperti kalian....!!”
*****
No comments:
Post a Comment