FIDOBONE

TARO ADA TARO GAU'

Wednesday, 19 November 2014

ARIANI SI GADIS TANGGUH (Lika liku hidup menuju kejayaan)

Hari itu aku berangkat meninggalkan semuanya. meninggalkan kampung halamanku yang selama ini memberiku udara untuk bernafas. Meninggalkan adik-adikku yang lucu. Meninggalkan Ibu yang selama ini dengan gigih dan sabar membesarkan aku. Meninggalkan semua orang-orang yang aku cintai. Itu semua aku lakukan untuk sebuah harapan, sebuah cita-cita yang besar. mengubah kehidupan keluarga kami. Sebagai anak sulung, aku memegang tanggun jawab untuk memberikan kebahagian sekecil apapun buat mereka meski aku hanya seorang anak perempuan yang masih belasan. Atau paling tidak aku tidak perlu lagi membebani Ibu untuk kebutuhan hidupku. Semenjak Ayah meninggal karena penyakitnya yang tidak terobati, Ibu sendirian membesarkan kami bertiga. Ya aku memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah. Semenjak aku dinyatakan lulus di SMP negeri 2 Tanah Tumbuh, aku membulatkan tekat untuk tidak membebani orang tuaku dengan biaya sekolah yang semakin hari semakin mahal. Cukup sudah Ibu kubuat terseok-seok selama ini. terlalu berat beban Ibuku yang hanya seorang buruh tani dengan penghasilan yang pas-pasan untuk membiayai kami bertiga.
Pelukan itu masih bisa aku rasakan beta hangatnya pelukan ibuku. Pelukan yang tak seperti biasanya. Pelukan kali ini terasa tak ingin dilepasnya, begitupun sebenarnya dengan aku. Tapi aku harus tegar. Aku harus harus bisa melepaskan pelukan itu. Pundakku terasa basah oleh air mata ibuku. Sesak rasa dadaku. Perlahan kulepaskan pelukan ibu. Dan ketika kutatap matanya yang bergenangan air mata. Tak kuasa lagi aku menahan sesak didadaku. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Kupeluk erat kembali ibuku. Tersedu sedan dalam pelukannya. Aku berusaha mengendalikan diriku. Cukup sudah air mata ini. cukup. Aku dapati kembali ketangguhanku. Kulepaskan pelukan ibu. Kupeluk satu-persatu adik-adikku.
“ jaga ibu ya dek”
“ya kak”
Kutatap dalam-dalam atap rumahku. Kata orang tua “tatap atap rumahmu sebelum kau berangkat, agar kau ingat ingat pulang ke kampung halaman dan kembali dengan selamat”
“assalamu alaikum” merupakan kata terakhir yang aku ucapkan pada mereka. Aku pun melangkah menuju angkot yang telah menungguku di halaman rumah. Dari rumah aku harus naik angkot ke terminal. Di terminal aku akan naik bus menuju kota Jambi yang memakan waktu 8 jam perjalanan. di pelabuhan talang duku, kota jambi ini lah tanah terakhir yang kupijak di sumatera. Aku akan mengadu nasip ke Jakarta. kata ibuku aku punya paman disana yang memiliki warung makan. Aku akan bekerja disana. Jadi pramusaji, tukang cuci piring. Pekerjaan itu sudah tak asing bagiku. Waktu aku sekolah di SLTP dulu, aku pernah bekerja di warung makan milik tetanggaku. Sepulang sekolah setelah ganti baju aku langsung berakat bekerja di warung tetanggaku tersebut, lumayan upahku untuk mengurangi beban ibuku.
Pukul 14.30. kapal yang kunaiki perlahan-lahan bergerak meninggalakn pelabuhan talang duku menuju ke pelabuhan tanjung priuk.
Sesamapai di tanjung priuk, aku langsung dijemput oleh pamanku.
Warung pamanku tidak terlalu besar. namun pengunjung tidak pernah sepi. Aku pun melakukan pekerjaanku dengan telaten. Pamanku pun senang dan puas melihat setiap apa yang aku kerjakan. Di sini aku hanya bisa bekerja karena pamanku tidak memiliki uang lebih untuk menyekolahkan aku. Aku pun ikhlas menjalani itu. biarlah aku bekerja dulu mengumpulkan uang sediki-sedikt. Kalau sudah cukup aku akan melanjutkan lagi sekolahku. Sembari menabung hasil upahku bekerja di warung, aku pun tak pernah lupa untuk menyisihkan uang untuk kukirimkan ibuku di Jambi sana.
Satu bulan aku bekerja di warung, tiba-tiba tante Mirna yang tinggal di palangkaraya (aku dan tante Mirna keluarga jauh) menelpon pamanku kalau dia butuh orang untuk menjaga anaknya ketika dia pergi bekerja. Pamanku pun menyarankan aku untuk pergi ke palangkaraya, karena tante Mirna berjanji akan menyekolahkan aku. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. aku langsung mengiyakan untuk tinggal dengan tante Mirna.
Akupun menjali kehidupan baruku bersama tante mirna bersama keluarganya. Tante mirna memiliki 2 orang anak, satu masih TK dan yang satunya baru SD. Hari-hari kulalui dengan rutinitas rumah dan mengurus anak-anak tante mirna. Cuci piring, bersih-bersih rumah, ngepel lantai, masak, memandikan anak-anak, memberikan makan ke anak-anak. Waktu istirahatku hanya waktu sholat saja. Selebihnya siaga menunggu perintah dari tante mirna. Aku dan tante mirna berbeda keyakinan. Pada awalnya, terkadang kalau aku sholat dan dia mencari aku, mereka teriak-teriak memanggil namaku “arini” …
“dari mana kamu, saya teriak-teriak gak dijawab” tanyanya ketika aku muncul dari dalam kamar “tadi saya sholat tante” ooo…
Semenjak saat itu bila mereka memanggil dan aku tidak menjawab berarti saya sedang sholat. Hari-hari terus berlalu dengan melakoni aktivitas yang sama. Sangat melelahkan. kadang bila ada waktu luang kuisi dengan membaca novel, komik untuk mengusir rasa jenuhku. Lumayan itu bisa membuatku terhibur. Tiap hari aku berdoa agar Allah memberikan aku kesabaran.
Dan tahun ajaran baru pun tiba, aku disekolah tanteku di sebuah smu swasta yang ada di kota palangka raya. semenjak sekolah, rutinitasku semakin padat. Mengurus rumah, anak-anak, dan belajar. Dari jam 04.30 aku sudah bangun. Tak lupa aku menunaikan kewajibanku pada sang pencipta. Setelah sholat subuh aku langsung mengambil buku pelajaran untuk kubaca-baca. Pukul 05.30 aku menyiapkan sarapan pagi anak-anak. Setelah anak-anak berangkat kesekolah, aku membereskan semua pekerjaan rumah. Bila ada waktu yang tersisa, aku mengambil lagi buku pelajaran untuk aku baca-baca. Terkadang bila jam pulang sekolah, aku yang menjemput anak-anak . setelah itu menyiapkan makan siang buat anak-anak. Setelah pekerjaan semua selesai aku pun menyiapkan diri untuk berangkat sekolah. Jam masuk disekolahku pukul 13.30 dan pulang pukul 17.00.
Rutinitas ini aku lalui dengan sabar. Sholatku pun tidak pernah aku tinggalkan bahkan sholat tahajut dan dhuha rutin aku kerjakan. Dengan tujuan agar Allah meridoi jalan hidupku. Hingga akhirnya akupun lulus smu. Ya Allah sungguh besar karunia yang kau berikan kepadaku. Terima kasih tante sudah membiayai sekolahku sampai aku lulus.
Lulus sekolah tanteku menyarankan aku kerja di travel milik temannya. Disinilah pertama kali aku merasakan bagaimana rasanya mendapakan gaji. Aku sangat bahagia. Walau gajiku tidak seberapa, aku tetap menyisihkan gajiku untuk ibuku di Jambi sana. Setengah tahun aku bekerja di travel, aku mengajukan lamaran jadi honorer di pengadilan negeri palangka raya dan akupun diterima bekerja disana. Sekarang aku pun bergelut dengan dunia kantoran, beraktivitas bersama dengan orang-orang berseragam. para penegak hukum. Meski hanya sebagai honorer aku merasa bangga bisa memakai seragam penegak hukum. Ibu, anakmu sekarang sudah kerja kantoran,berseragam, anggun. Andai ibu bisa melihat aku sekarang. Pasti dia sangat bangga.
Sambil melakoni tambahan rutinitas baruku, aku juga mengantar kue jualan tanteku ke bandara. Aku menitipkan kue-kue tradisional di rumah makan ayang ada di bandara cilik riwut palangka raya. setiap pagi sebelum aku berangkat ke kantor, aku mengantar kue-kue tersebut.
Satu tahun aku jadi honorer di pengadilan negeri palangka raya, aku mengajukan lamaran pekerjaan di instansi pemerintahan, Kementerian hukum dan HAM RI tanpa sepengetahuan tanteku. Tepatnya pada tahun 2009. Dengan ucapan bismillahi rahmani rahim, Tahap demi tahap, tes demi tes aku lalui pada penjaringan PNS di kementerian tersebut. Dan serasa tidak percaya ketika di hari pengumuman kelulusan aku melihat namaku tepampang disana. Aku merasa tidak berpijak ditanah. Aku ingin berteriak bahagia namun malu sama orang-orang disekelilingku. Akhirya aku hanya berteriak dalam hati. Ya Allah terima kasih atas karunia yang indah ini ya Allah. Aku pun bergegas menelpon ibuku. Ibuku menangis bahagia ketika mendengar anak sulungnya berhasil memijakkan kakinya di tangga menuju kejayaan. Aku memejamkan mata menikmati rasa bahagia itu menjalari seluruh pembuluh darahku. Alhamdulillah ya Allah.
Sesampai dirumah, aku menyampaikan kabar bahagiaku pada tanteku. Namun dia tidak percaya kalau saya di terima di kantor kementerian yang beribu-ribu orang yang menginginkan bekerja disana. “kapan kamu daftarnya? Gak mungkin kamu bisa lulus disana. Hanya orang-orang berduit yang bisa lulus disana” tanteku tidak percaya sampai aku memperlihatkan namaku di lembar pengumuman kelulusan itu. Dia pun memelukku bahagia.
SK penempatanku pun saya terima. Aku di tempatkan di Lapas Klas II A Palangka Raya. tempat penampungan orang-orang bermasalah dengan hukum. Aku di tempatkan di bidang pengamanan khusus di hunian narapidana wanita. Tak henti-hentinya aku bersyukur kepada Allah atas nikmat hidup yang diberikan kepadaku, karena disini aku melihat banyak orang-orang yang tidak beruntung dan harus mendekam di dalam jeruji besi. Satu tahun aku bekerja di bagian pengamanan, aku ditarik ke bagian penggeladah di pintu utama. Mengeledah tamu wanita yang ingin berkunjung ke dalam lapas. Setengah tahun di penggeledahan, aku ditarik ke bagian umum. Tiga tahun bekerja di Lapas Klas II A palangka raya, Allah lagi-lagi mencurahkan kebahagiaan tak terhingga kepadaku, aku dilamar oleh teman sekantorku. Aku menangis bersimpuh kepada Allah. Terima kasih ya Allah telah memberikan jodoh kepadaku.
Setelah menikah aku tidak tinggal lagi bersama tanteku. Aku tinggal dengan suamiku di sebuah rumah kecil namun cukup kami tempati berdua. Aku pun menjalani masa-masa bahagiaku dengan suamiku tercinta. Hingga akhirnya Allah mengaruniai kami anak laki-laki. Sempurnalah kebahagiaanku sebagai seorang wanita. Ibuku pun kuajak untuk tinggal bersama dengan keluarga kecilku, sedangkan adikku masing-masing sudah memiliki keluarga juga. Kini semuanya telah aku miliki. Semuanya telah aku raih berkat usaha dan doaku, doa ibuku. Alhmdulillahi rambil alamin.

No comments:

Post a Comment