FIDOBONE

TARO ADA TARO GAU'

Friday, 23 January 2015

BACO LISU, Salah Satu Manusia Terunik di Dunia

Aku ingin bercerita tentang salah satu manusia terunik di dunia. Cerita ini sudah lama ingin aku tuangkan dalam halaman blogku ini tapi aku sangat sibuk mengurus dunia persilatan. Akhir-akhir ini dunia persilatan menyuguhkan banyak tugas untukku sehingga tidak sempat menulis cerita ini. Ceritaku ini mulai terekam saat aku masih kecil, kira-kira waktu itu aku masih berumur 7 tahun dan terus terekam sampai aku berumur 19 tahun karena setelah itu aku pergi merantau dan tidak pernah dengar kabarnya lagi.
Di kampungku, Desa Cabbeng ada sosok yang unik. Unik karena dia memiliki kebiasaan yang tidak lazim pada makhluk bernama manusia. Dia memiiki tinggi sekitar 165 cm. Perawakannya proporsional, tidak gemuk tidak kurus. Pada waktu aku masih kecil,  mungkin umurnya sekitar 35 tahunan. Kesehariannya adalah mengembalakan sapi pamannya yang berjumlah sekitar 20 ekor. Baco lisu. Seperti itu lah aku mengenalnya. Nama ini bukan nama sebenarnya, bukan nama pemberian orang tuanya. Saya tidak pernah tahu siapa nama sebenarnya. entah siapa yang mulai melekatkan nama tersebut padanya, tapi memang nama itu sangat menggambarkan perilakunya yang unik.
Setiap pagi di berangkat mengembalakan sapinya untuk mencari makanan di tengah sawah yang sudah di panen atau di tengah padang rumput di seberang persawahan yang jauh ke timur. Hampir tiap pagi dia terlihat melintas di depan rumahku. Seingat aku pakaian yang di kenakannya tidak pernah ganti atau mungkin dia punya selusinan dirumahnya. Baju hem lengan pendek berwarna biru gelap polos. Celana kolor dengan dengan warna yang sama dengan bajunya. Sarung kotak-kotak warna merah kecoklatan dengan garis-garis warna hitam yang selalu di selepangnya. Topi purun yang selalu menutupi kepalanya kala panas dan hujan. Dan sebilah kayu kecil panjang yang selalu tergenggam di tangan kanannya sebagai pecut untuk mengendalikan arah sapi gembalaannya. Terkadang dia membawa buntalan yang berisi makanan sebagai bekalnya untuk makan siang karena dia baru pulang kerumah setelah sore tiba.
Dan aku pun bertanya-tanya ketika memperhatikan dia berjalan. kenapa dia berjalan seperti itu. berjalan kadang lurus, kadang sigsag, meloncat kekiri kekanan seakan-akan menghindari lobang atau sesuatu yang akan menyakitinya. tapi jalanan yang di lewatinya baik-baik saja tidak ada lobang atau duri atau sesuatu yang harus di loncati. Terdiam dengan mata tertuju pada jalan yang akan dilewatinya, seakan-akan dia memeriksa apakah jalanan ini aman atau tidak. Setelah itu dia akan meloncat melangkahi sesuatu. Selanjutnya dia akan berjalan lurus hingga sekitar 10 meter dia berhenti seakan berpikir dengan wajah kebingungan. Beberapa detik kemudia dia berbalik. Berjalan menelusuri jalannan yang tadi dilewatinya. Sampai beberapa meter dia kembali menyusul sapinya. Selalu seperti itu. bolak balik seperti ada yang tertinggal. Terkadang dia tertinggal jauh oleh sapi-sapinya karena di selalu bolak-balik sedangkan sapinya terus berjalan jauh mencari makan.
Mau dibilang gila tapi tidak gila. Mau dibilang waras tapi perilakunya seperti orang gila. Dia tidak gila karena dia masih bisa diajak berkomunikasi dan tahu jumlah sapinya. Ketika dia di tanya kenapa kau berjalan maju mundur. Kanya penyakitnya yang membuat dia seperti itu. Entah apa penyakitnya karena tidak pernah dibawa ke dokter saraf.

Ya itu lah keanehan sosok yang pernah hidup di kampungku. Berjalan maju mundur sigsag meloncat kekiri dan kekanan.

1 comment: