Aku ingin bercerita tentang salah
satu manusia terunik di dunia. Cerita ini sudah lama ingin aku tuangkan dalam halaman
blogku ini tapi aku sangat sibuk mengurus dunia persilatan. Akhir-akhir ini
dunia persilatan menyuguhkan banyak tugas untukku sehingga tidak sempat menulis
cerita ini. Ceritaku ini mulai terekam saat aku masih kecil, kira-kira waktu
itu aku masih berumur 7 tahun dan terus terekam sampai aku berumur 19 tahun
karena setelah itu aku pergi merantau dan tidak pernah dengar kabarnya lagi.
Di kampungku, Desa Cabbeng ada
sosok yang unik. Unik karena dia memiliki kebiasaan yang tidak lazim pada
makhluk bernama manusia. Dia memiiki tinggi sekitar 165 cm. Perawakannya proporsional,
tidak gemuk tidak kurus. Pada waktu aku masih kecil, mungkin umurnya sekitar 35 tahunan. Kesehariannya
adalah mengembalakan sapi pamannya yang berjumlah sekitar 20 ekor. Baco lisu. Seperti
itu lah aku mengenalnya. Nama ini bukan nama sebenarnya, bukan nama pemberian
orang tuanya. Saya tidak pernah tahu siapa nama sebenarnya. entah siapa yang mulai
melekatkan nama tersebut padanya, tapi memang nama itu sangat menggambarkan
perilakunya yang unik.
Setiap pagi di berangkat
mengembalakan sapinya untuk mencari makanan di tengah sawah yang sudah di panen
atau di tengah padang rumput di seberang persawahan yang jauh ke timur. Hampir tiap
pagi dia terlihat melintas di depan rumahku. Seingat aku pakaian yang di
kenakannya tidak pernah ganti atau mungkin dia punya selusinan dirumahnya. Baju
hem lengan pendek berwarna biru gelap polos. Celana kolor dengan dengan warna
yang sama dengan bajunya. Sarung kotak-kotak warna merah kecoklatan dengan
garis-garis warna hitam yang selalu di selepangnya. Topi purun yang selalu menutupi
kepalanya kala panas dan hujan. Dan sebilah kayu kecil panjang yang selalu
tergenggam di tangan kanannya sebagai pecut untuk mengendalikan arah sapi
gembalaannya. Terkadang dia membawa buntalan yang berisi makanan sebagai bekalnya
untuk makan siang karena dia baru pulang kerumah setelah sore tiba.
Dan aku pun bertanya-tanya ketika
memperhatikan dia berjalan. kenapa dia berjalan seperti itu. berjalan kadang
lurus, kadang sigsag, meloncat kekiri kekanan seakan-akan menghindari lobang
atau sesuatu yang akan menyakitinya. tapi jalanan yang di lewatinya baik-baik
saja tidak ada lobang atau duri atau sesuatu yang harus di loncati. Terdiam dengan
mata tertuju pada jalan yang akan dilewatinya, seakan-akan dia memeriksa apakah
jalanan ini aman atau tidak. Setelah itu dia akan meloncat melangkahi sesuatu. Selanjutnya
dia akan berjalan lurus hingga sekitar 10 meter dia berhenti seakan berpikir
dengan wajah kebingungan. Beberapa detik kemudia dia berbalik. Berjalan menelusuri
jalannan yang tadi dilewatinya. Sampai beberapa meter dia kembali menyusul
sapinya. Selalu seperti itu. bolak balik seperti ada yang tertinggal. Terkadang
dia tertinggal jauh oleh sapi-sapinya karena di selalu bolak-balik sedangkan sapinya
terus berjalan jauh mencari makan.
Mau dibilang gila tapi tidak
gila. Mau dibilang waras tapi perilakunya seperti orang gila. Dia tidak gila
karena dia masih bisa diajak berkomunikasi dan tahu jumlah sapinya. Ketika dia
di tanya kenapa kau berjalan maju mundur. Kanya penyakitnya yang membuat dia
seperti itu. Entah apa penyakitnya karena tidak pernah dibawa ke dokter saraf.
Ya itu lah keanehan sosok yang
pernah hidup di kampungku. Berjalan maju mundur sigsag meloncat kekiri dan
kekanan.
Kedengarannya emang unik.
ReplyDelete