FIDOBONE

TARO ADA TARO GAU'

Tuesday, 6 October 2015

KABUT PASTI BERLALU

Udara yang segar, pemandangan yang indah dan Tampak gunung Mampu (nama sebuah Gunung) yang berdiri kokoh, menambah keindahan alam desa Cabbeng. Sebuah desa yang terletak di sebelah barat kota Watampone. Di desa Cabbeng terdapat sebuah wisata alam yaitu Goa Mampu yang terletak di Gunung Mampu , sehingga desa Cabbeng banyak dikenal khususnya di Sulawesi Selatan. Pagi itu desa Cabbeng tampak cerah , di sebuah rumah mungil seorang anak lelaki sedang bersiul-siul ria . Sudah hampir sejam ia bersiul. Sejak ia bangun dari mimpi indahnya . Cuci muka, bersiul. Mandi, bersiul. Mencuci, bersiul. Sampai-sampai sikat gigi pun ia juga bersiul, hihihi... Siapa sich anak ini ? dia adalah Vido, anak yang baru lulus esema . Ia bersiul-siul karena ia lagi seneng banget, lagi bahagia . Bahagia ? iya, soalnya tadi malam, di pesta kawinan anaknya Pak Sukri , anak ini jadia dengan cewek yang di incarnya sejak esempe. Anak ini mengincar cewek itu sejak kelas dua esempe dan ia baru menembaknya setelah lulus esema . suatu perjuangan cinta yang mengagumkan. Tapi kebahagiaan Vido hanya berlangsung beberapa hari saja karena ia akan meninggalkan kekasihnya , kota kelahirannya. Ia akan pergi merantau. Ya, itulah salah satu jiwa yang tertanam dalam diri seorang keturunan bugis. Pagi itu , matahari masi malu-malu menampakkan sinarnya. Vido mengajak kekasihnya, Putri ke puncak gunung mampu. “ Aa..., segar sekali ” seru Putri tatkala sampai di puncak “Mas coba lihat pemandangan dibawah sana, sawah-sawah yang berair dibawah sana seperti laut, indah sekali ya, Mas ? ” sambung Putri dengan nada yang sangat ceria sekali. Tapi Vido yang di ajak ngobrol hanya diam. “ Mas, kamu kenapa ? kok dari tadi kamu diam terus ” tanya Putri heran karena tidak biasanya kekasihnya murung seperti itu ,Vido yang di kenalnya adalah seorang anak yang tidak suka diam, suka melucu, tapi kok hari ini dia hanya diam dan murung. “ Aku nggak apa-apa kok. Ee, tadi kamu bilang apa. Oh iya , memang indah kok ” ujar Vido berusaha memperlihatkan keceriaan . “ Jangan bohong. Mas , menyembunyikan sesuatu, iya khan ?” Ucap Putri yakin kalau kekasihnya menye bunyikan sesuatu darinya. Vido menarik nafasnya dalam-dalam. “ Put, mungkin keindahan desa cabbeng ini merupakan yang terakhir kali aku melihatnya ” Suara Vido terdengar sangat berat. “ Kok Mas, berkata seperti itu ?” tanya Putri mersa aneh terhadap ucapan Vido barusan. “ Iya, karena aku akan meninggalkan desa ini. Aku akan pergi ke Palangka Raya untuk mengadu nasip di sana ” Ucap Vido dengan suara sendu. Putri kaget. “ Benner kamu akan pergi meninggalkan desa ini, meninggalkanku ?” tanya Putri tidak percaya. Ia menatap Vido penuh harap, semoga Vido hanya bergurau. “ Iya, karena kalau aku disini, aku mau jadi apa ?” Ujar Vido. “ Kapan Mas berangkat ” “ Sebentar jam delapan ” “ Secepat itu kah ?” tanya Putri dengan mata berkaca-kaca. “ Iya” “ Mas, tega sekali. Padahal kita baru jadian seminggu yang lalu . Tiba-tiba saja Mas mau pergi meninggalkan aku ” Ujar Putri, air mata yang sedari tadi ditahannya kini mengalir bagai air hujan yang tercurah dari langit. “ Aku harus pergi, Put. Ini kulakukan demi masa depan kita ” Vido memberi pengertian “ Jangan menangis. Aku ingin kita berpisah tanpa air mata karena pertemuan kita ini bukanlah pertemuan yang terahkir karena aku akan kembali untuk kamu ” . Putri menatap Vido dalam-dalam, mencari kebenaran ucapan kekasihnya itu. “ Percayalah, aku akan kembali untuk kamu karena aku tak mau kehilangan kamu. Aku sangat mencintaimu ” Vido meyakinkan sambil memeluk kekasihnya . Tangis Putri mulai reda , ada rasa lega di dada Putri setelah mendengar perkataan Vido itu.. “ Put, kapan kamu ke Makassar ?” Tanya Vido sambil melepaskan pelukannya. “ Minggu depan” “ Kamu mau kuliah dimana nanti ?” “ Di Atro. Ee, nanti disana kamu jangan lupa nelpon aku ya !” “ Baik tuan putri ” ujar Vido . Putri tersenyum dan kembali ceria . Mereka terus berjalan bergandengan tangan menelusuri jalan setapak yang bersemak. Mereka bercanda dan tertawa riang. Burung- burung beterbangan, kaget mendengar tawa mereka yang membahana. **** “ Hallo, Putri ada ? ” “ Tunggu sebentar ya ” ucap suara perempuan di seberang sana. “ Put, ada Telpon untukmu” terdengar sayup-sayup teriakan diseberang sana . Tak lama kemudian “ Hallo, Assalamu alaikum” “ Wa’alaikum salam. Hei Put, ini aku” “ Hei Mas Vido !” teriak Putri girang , senang bukan main dapat telpon dari kekasih yang jauh disana. “ kamu sekarang di mana, di Palangka Raya, ya ?” “ Ya iyalah, dimana lagi. Dalam kubur ?” canda Vido .Putri tertawa. “ Gimana kabarmu, kabar-kabari dong. Hihihi... Baik – baik aja khan ” ujar Putri ngikik. “ Alhamdulillah , baik-baik saja. Eh, gimana kuliahnya, lancar-lancar saja ?” “ Iya, tapi nggak seru soalnya nggak ada kamu ” Ucap Putri manja. “ Eh, tau nggak , kemarin aku beli sepatu. Waktu ku nyobain ternyata pas , langsung aja kubayar. Sesampai di rumah, aku membukanya dari kotak dan ingin memakainya, aku kaget soalnya sepatunya sebelah kanan semua” Kisah Vido sambil ngikik. Diseberang sana Putri terpingkal-pingkal. “ Makanya , teliti dulu sebelum membeli , artinya sebelum kamu membayarnya kamu bawa dulu ke laboratorium biar ditliti dulu sama Profesor ” ujar Putri tambah ngakak kak kak kak. Maereka terus ngobrol sampai lupa pulsa, yang penting rindu mereka terobati walau hanya lewat telpon. Setiap minggu Vido nelpon untuk mengobati rasa rindunya. Tapi beberapa bulan ini Vido tidak menelpon Putri karena dompetnya hanya tersisa seratus ribu rupiah , sedangkan dia belum punya pekerjaan . Persediaan logistik hampir habis, tinggal beberapa bungkus mie, mana lagi untuk bayar kost . Vido pusing delapan keling (saking pusingnya sampai-sampai delapan keliling, hihihi...) . Siang itu, Vido menggeliat geliat diatas ranjangnya kayak cacing kepanasan . Dia stres berat mikirin Britney Speas, eh, duit. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar. Ia buru- buru membuka pintu, siapa tau ada malaikat yang datang dan memberikanya uang. Aa, Ternyata Pak Pos. “ Apa benar anda yang namanya Vido ” “ Iya Benar ” ujar Vido . Pak Pos langsung mengulurkan sebuah surat dan menyuruhku mem- paraf tanda terimanya , setelah itu Pak Pos pun pergi. Aku buru- buru melihat siapa pengirim sutar tersebut. “ Aa, Putri ” Vido senang bukan main , iya benner tidak main karena ia seneng banget. Ia melompat-lompat kayak teletubies yang lagi kegirangan. Ia masuk kekamarnya dan mengungci rapat kamarnya , takut kalau kebahagiaannya terbagi-bagi, malu kalau-kalu ada tikus yang ngintip dia. Hihihi... Tapi tiba-tiba kebahagian Vido hilang ketika ia membaca beberapa kalimat dalam surat tersebut . “ Maaf, mulai sekarang kamu jangan pernah nelpon aku lagi ataupun mengirim surat, aku sudah terlanjur kecewa , beberapa bulan ini kau tak pernah menelponku dan satu hal lagi, aggap kita tidak pernah satu hati. Mungkin keputusan sepihak ini akan menyakitkan hatimu tapi aku lebih sakit. Setiap hari , setiap minggu aku menunggu telponmu tapi yang kutunggu takkkunjung datang . Ya, memang semua yang ada di dunia ini akan berakhir termasuk cinta kita dan mulai sekarang kita putus ! ” Vido menarik nafasnya dalam-dalam . Kepala Vido tambah pusing, yang tadinya delapan keliling kini menjadi sembilan keliling. Vido terkulai di lantai kamarnya . angannya menerawang mengingat semua masa lalunya yang indah bersama Putri . Ah, kini semuanya berakhir hanya karena aku tak punya uang untuk menelpon dia. Brensek ! . kepala Vido terasa ingin pecah jika mengingat semuanya. Tiba-tiba wajah Vido berubah jadi beringas, ia bangkit dan berlari menuju kedapur, ia mengambil sebilah pisau dan kembali masuk kekamarnya. Ia mengunci rapat kamarnya . “ Allahu Akbar ” teriak Vido sambil menusukkan pisaunya ke leher. Pisaunya penuh bercak darah dan seekor cecak terkapar dilantai “ Mampus lo ! ” geram Vido . ( hihihi... kirain bunuh diri, tenyata membunuh seekor cecak. Kok cecak jadi sasaran sich ? soalnya Vido lagi stres , Ee, cecak malah beol dan tainya pas bertengger di idung Vido . Siapa yang nggak naik darah). Sejak kedatangan surat itu Vido selalu menghabiskan waktunya diatas jembatan kahayan , jembatan terindah di kota Palangkaraya . Duduk menekuri air sungai kahayan yang mengalir tenang , menekuri nasipnya yang malang , tak habis beban di pundaknya kini ditambah dengan luka yang menggores hati. Apakah cinta harus selalu dibuktikan dengan menelpon, sebegitu sempitkah arti cinta itu . Ya, komunikasi memang penting tapi kau harus tahu bahwa betapa susahnya hidup di perantauan bila tak punya gawean seperti aku . Oh, sungai kahayan, bawa pergi kenanganku bersama lukaku . Vido membuka dompetnya . Ah, tinggal lima puluh ribu, bagaimana aku bisa hdup dengan uang segini, manalagi uang kostku belum dibayar. Ya, Allah berikan aku petunjukmu bagaimana caranya aku bisa mendapati selembar uang untuk menyambung hidup. Lamunan Vido buyar oleh suara nyanyian anak kecil yang berdiri dipinggir sungai bawah sana. “Anak itu punya bakat ” batin Vido sambil menyimak anak itu bernyanyi. Tiba-tiba Vido berteriak girang “ Yee... !” . Semua orang memperhatikan dia . Vido cuek aja. Vido kenapa sich ? Dia dapat ide. Vido ini punya bakat menulis, pernah juara dua lomba menulis cerpen antar esema se kabupaten . Ya, dia ingin mengembangkan dan mengasah terus bakatnya itu agar bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas. Vido pun menulis cerpen dan mengirimnya ke redaksi majalah-majalah remaja di Jakarta. Sudah tiga bulan berlalu tapi cerpenya belum juga di muat. Ia mengeluh dan dan putus asa. Ah, lebih baik aku berhenti menulis saja , lebih baik kalau aku cari gawean lain yang dapat menghasilkan uang. Tapi karena dorongan dan suport dari temannya , Sepmi , Vido kembali bangkit dan terus menulis . **** Hari ini adalah hari ulang tahun Vido yang ke 20 , tapi hari itu tak ada bahagia dalam dirinya karena hari ini Ibu kost akan datang menagih uang kostnya bulan ini beserta tunggakannya bulan lalu, bila tidak di bayar maka ia harus angkat kaki dari situ . Kepala Vido tersa ingin pecah memikirkan nasipnya. Tiba-tiba diluar sana terdengar suara ketukan pintu . Ia kaget, hatinya kecut, mukanya pucat, jantungnya berdegup kencang. Aduh ,mampus dah , Ibu kos datang. Gerutu Vido dalam hati. Dengan jalan lunglai ia membuka pintu . Allhamdulillah, ternyata Sepmi. Vido agak sedikit lega. “ Vido cerpenmu di muat !” Vcap Sepmi girang “ Ah , yang benner ?” tanya Vido nggak yakin. “ Benner ! ini.” Ucap Sepmi meyakinkan sambil menyerahkan majalahnya ke Vido “ Halaman 93 ” sambung Sepmi. Vido membuka halaman yang dimaksud Sepmi, dan benar , ia mendapati cerpenya disitu. “Alhamdulillah ” Ucap Vido bahagia. Ah, akhirnya usahaku tidak sia-sia, kini cerpenku di muat, aku akan lebih giat menulis .Terima kasih Ya Allah. Ucap Vido dalam hati. “ Eh, aku pergi dulu ya , aku Cuma ingin nyampein itu aja ” ucap Sepmi pamitan “ Mo kemana ?” “ Ke kampus ” “ Tanks, ya ” “ Yoi ” Sepmi pun berlalu pergi Ah , beruntung sekali aku punya teman sebaik dia. Aku yang pengangguran miskin begini dia masih mau berteman dengan aku. Tak lama Sepmi pergi, datang pak pos. “ Apa benar ini rumah Vido ?” tanya pak pos “ Ya, betul ” Jawab Vido . Pak pos menyerahkan sebuah surat kepada Vido . Jantung Vido berdegup kecang tak kala melihat siapa pengirim surat itu. Putri . Ada apa lagi perempuan ini. Tanya batin Vido .Dengan wajah penasaran Vido masuk kekamarnya dan membaca isi surat tersebut. ..........Vido, sorry ya sebig-bignya atas suratku beberapa bulan yang lalu karena kata-katanya sadis , tapi cukupkan buat ngerjain kam ? Selamat Ulang Tahun yang ke 20 , semoga tambah kece , banyak rejeki dan tambah sayang sama aku. “Astaga, rupanya surat kemarin cuma buat ngerjai aku doang. Ah, sialan ” Ucap Vido tersenyum bahagia. Terima kasih Putri atas cintamu, terima kasih Ya Allah atas nikmat yang kau limpahkan kepada hambamu ini. Kini tak ada awan di wajah Vido , kini dia cerah . Matahari telah bersinar terang di wajahnya. Bahagia telah datang dan menghapus segala duka dan beban dihatinya, dan kini Vido kembali beriul-siul sambil menulis cerpen selanjutnya. TAMAT PALANGKA RAYA, 25 JANUARI 2005 Pirdaus Palawero

No comments:

Post a Comment