FIDOBONE
Tuesday, 6 October 2015
SERIBU BADAI KAN KUTERJANG
Artad teman sekelasku yang merupakan siswa pindahan dari kolaka (sebuah kota di sulawesi tenggara) mengajakku berlibur ke kota kolaka. Ajakan Artad langsung kuterima dengan senang hati.
Hari sabtu yang cerah , aku baru pulang dari sekolah. Batinku terasa plong karena aku telah melalui ulangan umum cawu II (kelas 3) dengan sukses, walau sebagaian dari soal-soal mata pelajaran ada yang tidak bias kujawab dengan benar tapi paling tidak aku telah menjawabnya, lumayan dapat nilai poin satu sebagai imbalan menulis.
Pukul 13.00 wita, Artad menjemputku dirumah , di jalan Husain Jeddawi (Husjed). Setelah aku mengemasi pakaianku, aku dan Artad langsung berangkat keterminal bajoe untuk naik angkot menuju pelabuhan Bajoe. Aku berangkat dengan bekal Rp. 17.000,-, suatu jumlah yang sangat sedikit untuk sebuah perjalan yang jauh. Ongkos naik angkot kebajoe Rp.2000,-. Kami turun di gerbang pelabuhan Bajoe . dari gerbang kami berjalan kaki menuju pelabuhan yang berjak sekitar 2 kilometer. Pukul 14.15 aku cs baru sampai di pelabuhan. Mungkin karena telah melakukan perjalanan yang jauh sehingga menyebabkan perutku terasa lapar dan minta segera di isi. Aku membeli roti dengan harga Rp 3000,-, dengan roti itulah aku menjanggal perutku paling tidak cacing-cacing di dalam perutku dapat hidup dengan damai tanpa harus menjebol dinding lambungku.
Pukul 15.00 wita, aku cs naik ke kapal pengangkut barang untuk menikmati angin laut yang bertiup sepoi-sepoi basah. Aku duduk santai di pinggiran kapal sambil menikmati pemandangan disekelilingku. Didalam air yang berwana biru kehitam – hitaman, ikan –ikan kecil bergeromolan, bermain dengan ceria tak seceria hatiku yang lagi bete karena kapal yang akan kami naiki baru akan berangkat pukul 19.00 wita, itu artinya aku harus menunggu beberapa jam lagi dan menunggu adalah pekrjaan yang sangat aku benci. Setelah aku menghabiskan roti, aku merasa sangat haus, akhirnya aku haruas merelakan uangku melayang Rp 2000,- untuk membeli air mineral. Diatas kapal aku menunggu dengan sabar , saking sabarnya aku merasa mengantuk . aku melihat jamku, baru pukul 15.30 wita , ah, masih lama. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur seadanya diatas kursi panjang yang terbuat dari kayu. Pukul 17.45, aku baru terbangun dari tidur lelapku.
Satu jam lagi aku harus menunggu. Aku cs berjalan menelusuri dermaga sambil melihat kapal I meniggalkan dermaga.
Tak lama Kapal I meninggalkan dermaga, kapal Ke II (kapal yang akan kami tumpangi) berlabuh di dermaga. Aku cs naik keatas kapal, seorang anak menawariku dagangannya. Aku membleli dua bungkus nasi dengan Harga Rp 5000,-.
Aku dan Artad adalah penumpang gelap karena kami gak punya cukup uang untuk membeli tiket. Tak lama kemudian kapal Ferry bergerak meninggalkan dermaga , ini adalah perjalananku yang pertama dengan naik transportasi air dan sekaligus unuk yang pertama aku keluar propinsi.
“ Artad, coba lu liat tu perempuan. Pede banget. Pake Walkman dengan eiaphon ditelinga sambil mengangguk-anggukkan kepala. Apa dia itu gak nyadar kalo giginya tuh tonggos abis. Face ketuwaan lagi. Hahaha…”
Artad yang tadinya gak ngeh , lansung ketawa,hahaha….
Setelah makan malam dengan nasi bungkus yang tadi aku beli, kami ngorol ngolor-ngidul . malampun semakin larut, kamipun mengantuk.Karena tak punya tiket akhirnya aku dan Artad tidur di luar ruangan yang tak beratap. Ditengah tidur nyenyakku tiba-tiba mimpi indahku dibuyarkan oleh gemuruh air hujan. Ah, sialan, gerutuku. Aku cs dan penumpang yang lain yang tidur luar langsung berhamburan mencari tempat perlindungan. Aku cs berjalan ke sisi kiri kapal, disini aku menemukan tempat yang strategis tepatnya disamping tangga. Aku dan cs tidur disamping tangga dengan beralaskan Koran .oh, suatu pemandangan yang sangat menyayat hati. Memprihatinkan. Lagi asyik-asyiknya tiduran, tiba-tiba ada yang membasahi kami.aku dan Artad buru-buru bangun. Ternyata air hujan yang terbawa angin. Dengan perasaan dongkol kami meningglakan tempat itu. Kami utrun kelantai dasar . banyak truk-truk yang penuh dengan barang.
“ kita tidur disini saja” tuturku pada Artad “ kayaknya disini kita akan aman , jauh darim air hujan.”
“ iya ayo kita bobo disitu. Dibawah truk itu.”
Aku dan Artad merangkak kebawah truk. Lagi-lagi dengan beralaskan Koran.
Adu Rtad, lantainya panas” keluhku pada Artad
“ mungkin dibawah situ ada mesin kapal”
“ ayo kita pindah dari sini. Cari tempat yang lebih adem”
akhirnya kami pindah dan mencari tempat yang lebih nyaman.
“ kayaknya disini bagus” tutur Aartad
aku merangkak kebawah truk untuk memeriksa lantai, apakah lantainya panas atau tidak.
“ iya, disini gak panas, ayo kita tidur disini saja”
akhirnya kami tidur disitu. Tak lama kemudian kami telah tertidur .
Pukul 04.00 wita, kami terbangun. Kami naik kelantai dua dan duduk di luar menikmati lampu bagang yang kelihatan dari jauh . setengah jam kemudian lampu-lampu kota kolaka sudah terlihat.
Pukul 05.00 wita , kapal berlabuh di pelabuhan Kolaka
Aku sampain di kolaka dengan berbekal Rp 5000,-
Aku dan Artad naik becak menuju ke jalan ceria, rumah Artad.
Sesampai dirumah kami lanssung semaput dan tertidur pulas. Pukul 08.00 wita aku baru bangun . cuci mata, gosok gigi, trus pergi ke TPI (tempat pelelangan ikan) dan melihat-lihat pemandangan kota kolaka. Sepulang dari TPI aku lansung membeli sandal jepit karena sepatu yang kupakai dari rumah telah rusak (dasar barang murahan, manalgi tu sepatu bukan sepatuku, tu sepatu sepatu cap pinjam, sepatunya Puang Serang. Mampus dah )
Dengan membeli sandal jepit itu artinya uang perbekalanku telah habis karena harga sandal jepit Rp 5000,- ah, apakah aku mampu hidup tanpa uang sesen pun. Aku harus bisa mnghasilkan uang. Jadi buru kasar , kayaknya ini ide yang bagus , tapi aku gak punya pakaian bekas untuk bekerja. Ah , kerja apa yah ? aku pusing.
Pukul 11.15 wita
Aku dan Artad pergi jalan-jalan untuk melihat-lihat kota Kolaka. Bener-bener jalan-jalan soalnya jalan kaki. Sambil menikmati pemandangan kota , aku mencari-cari ide, pekerjaan apa yang akan aku lakukan untuk bisa menghasilkan uang. Tapi sepanjang perjalanan , aku tak mendapatkan ide satupun juga. Akhirnya kubulatkan tekat untuk pulang ke Bone.
“ Artad, ada gak kapal yang ke Bone ntar malam ?” tanyaku pada Artad
“ Ada , emang kenapa ?”
“ Aaku mau balik Ke Bone”
“ Laho, katanya mau tinggal seminggu”
“ Rencananya sih gitu tapi aku gak punya uang. Gak tenag pikiranku hidup di negeri orang tanpa uang”
“ khan ada aku “
“ aku gak enak merepotin keluargamu”
“ Tearserah kamu deh”
Pukul 12.30 wita
Aku dan Artad pulang kerumah karena selain udah capek berjalan juga perut udah terasa lapar . setelah makan siang , aku langsung tidur .
Pukul 16.15 wita, aku pergi kedermaga untuk memancing ikan sekalian menikmati pemandangan pantai . sore itu sangat cerah tak ada awan hitam sedikitpun, tapi kecerahan sore itu tak membawa keberuntungan pada diriku. Aku yang sedari tadi memancing dengan khusuk, tak mendapatkan ikan seekorpun. Akhirnya aku pulang dengan tangan hampa.
Pukul 18.00 wita
“ Artad, jam berapa kapalnya berangkat ?” tanyaku diselah kesibukanku mengemasi pakaian-pakaianku yang tadi pagi kucuci.
“ Jam delapan”
setelah aku mengemasi pakaianku, Artad mengajakku jalan-jalan menikmati enaknya Sarabba dan goring singkong di tenda gaul , di pinggir pantai.
Tenda gaul berjejeran di sepanjang pantai. Selain warung makanan terdapat juga tenda tempat karaoke, full music yang merupakan tempat yang cocok untuk menghilangkan stress dan sekalian yang kepengen menjajal kupu-kupu malam.
Pukul 19.35 wita
Artad mengantarku ke pelabuhan dengan membekaliku uang sebesar Rp 7.500,-. Dijalan menuju pelabuhan terdapat pos pemeriksaan tiket. Aku dan Artad memutar otakku agar lolos dari pengecekan tiket dari petugas, soalnya aku gak punya tiket. Akhirnya aku dapat Ide. Koran yang kubawa dari rumah untuk kujadikan alas tempat tidur nantinya diatas kapal, kumasukkan kedalam tasku yang sudah gemuk dengan pakaian dan sepatu cap pinjamku. Aku dan Artad berpisah, aku disebelah kanan jalan, Artad di sebelah kiri jalan agar kita gak ketahuan kalo aku calon penumpang gelap.
Sesampai didepan pos, akupun menjalankan rencanaku. Kamera Action.
“ Hei, mo kemana ?” tanya petugas yang tubuhnya yang agak ceking sambil mendekatiku, sedangkan yang satunya tetap duduk ditempatnya.
“ Jualan Koran Pak” jawabku mantap “ bapak mau lihat” ujarku sambil pura-pura mau melepas tasku. Ya, Allah mudah-mudahan gak ketahuan kalo didalam tasku ini hanya ada selembar Koran dan yang lainnya … Oh tidak. Kayaknya aku harus mengeluarkan ajian halimun nih kalau ia benar-benar mau melihat isi tasku.
“ Gak usah” oh, my good, terimah kasih “ sana pergi” sambungnya mempersilahkan aku lewat. Selamat dah .
aku pun melenggang dengan tenang.
Sesampai diatas kapal , Artad pun meninggalkanku sendirian . Tak lama kemudian kapal dengan perlahan-lahan meniggalkan dermaga.
Aku berjalan ke sisi kiri kapal untuk melihat keindhan lampu-lampu kota kolaka. Tiba –tiba aku diselimuti rasa takut, kalau-kalau kapal ini tenggelam maka matilah aku. Ya Allah , aku memohon kepadamu berikan aku umur yang panjang. Jauhkanlah aku dari marabahaya. Ya Allah bila aku sampai di Bone dengan selamat , aku akan berpuasa satu hari karena engkau ya Allah. Doaku dalam hati. Setelah berdoa hatikupun kembali tenang karena kuyakin Allah akan mendengar doaku. Aku pun kembali menikmati pemandangan sambil melamun tanpa rasa cemas.
Lagi asyik-asyiknya ngelamun, tiba-tiba ada sesuatu yang kurasakan dipunggungku. Seseorang mencolekku. Aku menoleh. Siapa ini , sok kenal banget mentowel aku. Batinku.
“ Dek, Tiketnya” aduh mampus dah, ternyata dia petugas. Mana aku gak punya tiket lagi. Aku harus jawab apa ni. Kepalu tiba-tiba kosong karena nervaus campur ngeri. Sedetik kemudian , aku teringat dengan pesan Artad sebelum meninggalkanku tadi.
“ Anu pak, aku chifnya Pak Samsul Rijal.” Jawabku agak sedikit gugup. Tanpa banyak Tanya , ia pun berlalu meninggalakanku.
Pukul 07.30 wita
Aku telah sampai dengan selamat di pelabuhan Bajoe. Watampone. Dari dermaga aku jalan kaki menuju gerbang bajoe yang berjarak 3 kilometer. Tapi aku tidak mersa capek karena perj alananku kuselingi dengan memancing ikan dan Alhamdulillah aku dapat 12 ekor ikan teri. Kecil tapi meriah.
Pukul 10.00 Wita.
Aku telah sampai dirumah dijalan husain jeddawi , Rumah tante Norma. Semua orang di rumah pada heran melihat aku karena waktu aku pamitan aku bilang ingin bermalam selama seminggu.
Pukul 17.00 Wita.
Karena liburan sekolah selama seminggu akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampoeng , Cabbeng, kota kelahiranku dengan mengendarai sepeda Merk Mustang.
Jaket tebal dibadan, Tas ransel dipunggung, sepatu kats dikaki dengan semangat empat lima kukayuh sepedaku sambil bernyi-nyanyi kecil.jarak antara cabbeng dengan watampone sekitar 28,5 km. Di kilometer 14 ( desa waji) tiba-tiba air tertumpah dari langit, aku mengamankan diri ku dibawah pohon asam yang tumbuh subur di pinggir jalan. Tiba-tiba hatiku cemas , takut kalau-kalau sepedaku macet , mampus dah gua . untuk menghilangkan kecemasanku , aku menengadahdan melafalkan wirid yang hampir tak tyerdengar “ Ya Allah , bila aku sampai di ciberem dengan selamat, aku akan berpuasa 1 hari karena engkau ya Allah.”Hujan agak reda , kukayuh kembali sepedaku walau gerimis masih terus terjatuh dari langit, aku gak ingin terlalun kemalan sampai rumah. Aku gak mau terlalu kemalaman sampai di Bulu-bulu Becce (nama sebuah bukit) yang konon katanya banyak penuggunya.
Sesampai di Wide (km 24) aku udah merasa agak legah, agak nyaman karena rumah udah dekat, ya tinggal 4 km lagi. Karena pantatku terasa sakit, sesekali aku turun mendorong sepedaku sambil bernyanyi dalam gelapnya malam yang sunyi senyap untuk mengalahkan rasa takut yang kadang menghampiriku, kalau-kalau ada hantu raksasa yang muncul dihadapanku. Ich takut…!
Deaangan pantat ngilu akhirnya tepat pukul 20.30 aku telah sampai dengan selamat dirumah tercinta. Dengan pakaian basah kuyup dan kotor karena terkena percikan Lumpur jalanan.
Orang dirumah pada heran melihatku, soalnya gak ada suara pesawat, mobil , motor eh, tiba-tiba aku muncul dengan wajah cengar-cengir.
“ kapan kamu dating ?” Tanya ayahku
“ Barusan”
“ Naik apa”
Aku nyengir “ naik sepeda”
Orang serumah pada tertawa, tepatnya orang-orang yang lagi duduk didepan televisi. Mendengar pengakuanku yang kony ol. Masa’ disaman semodern ini masih ada anak , anak diusia yang penuh kegengsian lagi, naik sepeda menempuh jarak 28,5 km , sungguh gak masuk akal. Kalo ditaun 70-an ini sudah lumrah tapi ini mah disaman seba canggih, tinggal penyet , sampai deh ! ( emang ada tinggal penyet, sampai ?)
Bener-bener nekat , perlu dicatat di Guines Book of Record.
Aku naik kelantai dua , menemui Daeng Rijalku dan teman-temannya (ewax and Bordi)yang lagi kumpul dirumah untuk nonton liga Italia ,bareng.
Aku menceritakan semua pengalamanku mulai berangkat ke kolakaa sampai naik sepeda menuju cabbeng. Daeng Rijal cs langsung ngakak. Ditengah tawanya Ewax ia berkata sambil bergurau “ polesi tu lasana Eko, naik sepeda hahaha….!”
Kami teruss terpingkal-pingkal sampai perut tertasa sakit sampai-sampai air mata pada bercucuran. Semua tertawa kecuali setan-setan yang edang berssedih.
Polesitu lasana eko = kambuh lagi penyakitnya eko ( gila)
****
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment