FIDOBONE

TARO ADA TARO GAU'

Wednesday, 14 October 2015

WERO AKU MERINDUKANMU

wero, sosok yang selalu membuat aku menangis bahagia, menangis sedih. sosok yang selalu aku teriakkan namanya ketika kusakit. sosok tempat aku selalu bermanja-manja. wero sosok yang melahirkan aku, merawat aku, membesarkan aku penuh cinta.
ketika aku hendak berangkat pergi merantau, pelukannya begitu erat. pipiku basah oleh air matanya. aku berusaha tegar untuk tidak menangis.karena bila aku menagis, semakin berat aku untuk meninggalkan weroku. namun ketika kulepas pelukan weroku dan mataku jatuh pada matanya... gemuruh didadaku pun pecah. aku memeluk kembali dengan erat weroku. aku menagis sejadi jadinya. aku memang cengeng. tapi kali ini berbeda. ini pertama kalinya aku akan jauh dengan weroku.
Di perantauan, ketika senja datang, sepi itu datang menyusup memenuhi ruang di kepalaku. air mataku menetes tak tertahankan. merindukan weroku di pulau seberang. Mungkin karena aku belum punya teman di kota baruku ini sehingga hampir saban hari sepi itu menghantuiku dan rindu itu pun datang. aku pun menangis lagi.
Akhirnya aku hanya sanggup bertahan satu bulan di perantauan. Rindu ini tak terbendung. aku pun pulang dengan niat akan ku kumpulkan kekuatanku dan kembali di kota perantauanku ini dan takkan kembali sebelum kudapatkan apa yang aku cari.
lagi-lagi air mataku tak tertahankan ketika aku akan kembali merantau setelah sebulan di kampung melepas rindu. telah kutanamkan dihatiku untuk tidak kembali dari perantauan sebelum kutemukan apa yang aku cari.
Keberangkatanku kali ini tidak begitu menyesakkanku seperti saat pertama kali aku merantau. Sekarang aku sadar bahwa mau tidak mau ini memang harus aku lakukan demi menggapai sebuah kata sukses di tanah rantau seperti kisah-kisah sukses para perantau bugis di tanah seberang. karena di kampung, aku tidak tahu harus meraih sukses dengan pintu yang mana. Mau bertani namun itu tidak menjanjikan karena pengeluaran perawatan sangat mahal. Harga pupuk sangat mahal tapi harga beras hanya segitu-gitu saja. Mau kuliah tapi tak punya biaya.
Selama di perantauan, hanya lewat suara sebagai pengobat rinduku pada wero kala kutelpon. Itu pun kalau weroku ada dikota karena di kampung tidak ada telpon yang bisa dihubungi sedangkan hp jaman itu masih langka. Hanya orang-orang kaya yang memiliki hp. Di kota, itu pun aku menelpon tetangga rumah karena di rumah sendiri tidak ada telpon. Baru lima tahun kemudian baru ada hp dirumah. Setiap kali aku menelpon, weroku selalu menangis sedih karena merindukan anak bontotnya.
Lima tahun di perantauan akhirnya Allah membukakan salah satu pintu rezkinya. Aku di terima disalah satu kementerian di republik ini. Sambil menunggu pemanggilan masuk bekerja, aku sempatkan untuk melepas rindu pada weroku dan Ettaku (panggilanku pada ayah).
Tahun 2010 aku sempat pulang kampung melepas rindu pada weroku dan Ettaku. Ditahun 2012 aku pulang lagi karena daengku meminta aku untuk pulang karena wero semakin pikun. Ini penyakit karena umurnya masih 60an. Sendangkan kakaknya weroku masih kuat beraktifitas dan tidak pikun. Terkadang weroku merancau. Menyebut nama-nama orang yang sudah meninggal dunia. Betul saja. Ketika aku sampai dirumah. Weroku tidak menangis ketika melihat aku datang, padahal biasanya wero selalu memelukku erat sembari menangis.
Dipertengahan tahun 2013 aku pulang menjemput weroku untuk kubawa ke kota perantauanku. Weroku naik duluan keatas kapal yang akan membawa kami ke kota seberang. weroku duduk di dekat dinding. Namun belum sempat aku naik, kapal itu berangkat meninggalkan aku. Aku hanya bisa melihat weroku yang duduk di lantai luar, bersandar di dinding sambil mendekap buntalan bekal beliau. Kapal trus menjauh dan hilang dari pandanganku. Tiba-tiba aku sudah berada di kota perantauanku. Berharap weroku sudah sampai namun weroku tidak pernah sampai ke kota perantauanku.
Diawal tahun 2014 aku kembali menjemput weroku. Lagi-lagi kapal itu membawa pergi weroku dan meninggalkan aku dengan wajah sedih. Aku hanya bisa berharap semoga weroku tidak tersesat sampai kerumah. Aku pun sampai di kota rantauku, namun lagi-lagi weroku tidak pernah sampai kerumah.
Terakhir aku menjemputnya di pertengahan 2014. Kali ini bus yang akan aku tumpangi dengan weroku berangkat lebih dulu dan meninggalkan aku. Aku mencari weroku. Kata mereka sudah berangkat dengan bus yang pertama. Aku menyusul weroku dengan bus yang kedua namun bus yang aku tumpangi itu mogok. Lagi-lagi weroku tak terkejar. Berangkat mendahuluiku. Aku tetap berharap weroku sampai lebih dahulu di rumah namun ketika aku sampai di kota perantauanku, weroku tak ada di rumah. Weroku tak pernah sampai.
Semenjak mimpi itu, bila ada yang menelpon dari kampung, aku selalu cemas jangan-jangan telah terjadi apa-apa pada weroku.
Pada bulan puasa tahun 2014, ketika aku menelpon Erni, ponaanku yang sulung bilang kalau wero habis jatuh dari kursi. Hatiku remuk. Namun aku sempat terhibur karena tidak apa-apa katanya. Namun ketika aku menelpon daeng Murniku, kakak pertamaku.
“maga ni keadaanna wero”
“nappongeng bawa lewu wero. Denulle poto alena”. jawab daeng murni di seberang sana. Hatiku menangis.
“Taddampengika daeng, de ubattingngi jampangi wero”
Seminggu kemudian Erni bilang weroku masuk rumah sakit. Karena tidak ada perkembangan dan weroku sudah tidak betah dirumah sakit, akhirnya weroku dirawat dirumah saja.
Di akhir bulan November, daeng Basrik, kakak nomor 2 menelponku dan menyuruh aku pulang. Wero semakin parah, tidak bisa mengenali orang lagi. Aku pun menangis…
Tanggal 27 November 2014, Aku pulang dengan hati pilu. Dalam perjalanan menuju bandara, air mataku terus meleleh.
Sesampai di kampung. Di pintu daeng murni menghampiriku dengan air mata berlinangan. Memelukku erat. “wero mana?” tanyaku dengan nada serak. Ada gemuruh yang tertahan.
Kudapati weroku terbaring dengan mata tertutup. Tidur. “wero, iya’ana’ta Pire?” panggilku. Weroku membuka mata. Namun tatapan itu kosong. Aku memeluknya setengah menahan tubuhku agar weroku tidak kesakitan aku tindih. Aku mencium pipinya. Tangisku pun meledak. Sedu sedan. Perih sekali. “ wero, taddampengika…wero, taddampengika” tuturku pada wero memohon maafnya. namun tak ada jawaban. Wero tidak sanggup lagi berbicara. Hanya isyarat anggukan yang bisa wero lakukan. Ada luka di punggung dan pinggul weroku karena panas berbaring terus. Kasihan wero. Pasti sakit sekali. Aku meringis membayangkan rasa sakit weroku.
Ya Allah ampuni weroku, sembuhkanlah weroku ya Allah. Ya Allah pindahkanlah penderitaan weroku kepadaku. Aku tak sanggup melihat dia menderita Ya Allah. Pintaku dalam hati.
Tiga hari saja aku bersama weroku, karena aku harus pulang. cutiku dari kantor hanya tiga hari. Wero maafkan anakmu ini. Ya Allah sembuhkanlah penderitaan Weroku.
Tanggal 2 Desember aku sampai di kota perantauanku.
Tanggal 4 Desember 2014. Aku berangkat kekantor seperti biasa. Terlebih dahulu aku mengantar istriku ke kantor. Baru beberapa meter meninggalkan kantor istriku, tiba-tiba ada telpon. Aku melihat dilayar. Daeng Basri. Hatiku cemas.
“hallo, assalamu alaikum”
“ndi, deni gaga wero” kata daeng basriku diseberang sana. Aku tercekat. Aku tak bisa mengeluarkan suara.
“sabbarakko ndi” sambungnya lagi
“iye..”
“koniro pale. Assalamu alaikum”
“waalaikum salam” telpon terputus. Tatapanku nanar. Ya Allah ampuni dosa weroku. Aku meneteskan air mata namun tak sesedih waktu aku pulang menjenguk wero. Mungkin karena aku berpikir penderitaan weroku telah berakhir. Aku mau pulang namun percuma karena tidak akan bisa keburu. Aku hanya bisa mendoakan weroku dari jauh.
Jam 16 aku bbm erni. Katanya blum dikebumikan. Menunggu daeng basriku dari kota Makassar. Hanya aku anaknya yang tidak ada. Keenam kakakku hadir semua.
Jam 16.45 aku menelpon.
“dimana?” tanyaku pada erni “di kuburan. Sementara mau dimasukkan di liang lahat”
“jangan kau matikan hpnya. Aku ingin mendengarkan sampai selesai di kuburkan”
Pukul 18 aku menelpon daeng rijalku. Tangisku meledak. Sedihku tak tertahankan mendengar suara sendu daeng rijalku. Aku terbata bata disela tangisku. Kumatikan hpku. Aku menagis sejadi-jadinya di ruang dapur. Baru aku merasa sangat terpukul kehilangan wero. Ya Allah ampuni dosa weroku. Berikan tempat terbaik disisimu ya Allah.**********
KAMUS AKSARA LONTARA
1. maga ni keadaanna= bagaimana keadaannya
2. nappongeng bawa lewu = hanya selalu berbaring
3. Denulle poto alena= tidak bisa bangun sendiri
4. de ubattingngi jampangi =tidak membantu merawat
5. iya’ana’ta = saya anakmu
6. taddampengika= maafkan aku
7. ndi, deni gaga= adik, tidak ada lagi
8. sabbarakko = bersabar
9. iye’= iya
10. koniro pale= sudah dulu

No comments:

Post a Comment