FIDOBONE
Tuesday, 3 November 2015
KELUARGAKU INSPIRASIKU
Aku tiga bersaudara, dan aku anak bungsu, kakak pertamaku laki – laki selisih 8 tahun usia nya dengan aku, dan kakak kedua ku perempuan hanya selisi 3 tahun dengan ku, hingga kami sering di kira anak kembar. Bapak seorang Kopral Kepala TNI AD dan ibu seorang ibu rumah tangga punya kesibukan berdagang buah saat aku duduk di kelas 5 SD. Disiplin tinggi yang di terapkan kedua orang tua ku pada kami anak – anaknya membuat kami bisa bertanggung jawab atas diri kami. Sikap tegas serdadu sangat kental di lingkungan keluargaku. Penghasilan yang pas – pasan membuat kami anak – anaknya tidak banyak menuntut, yang penting bagi ku dan kedua kakakku bisa sekolah itu sudah cukup. Tahun 1988 kakak pertamaku masuk kuliah, dan aku masuk SMP. Ternyata semakin sulit perekonomian keluarga kami, setiap bayar keperluan sekolah atau SPP ibu harus mengambil pinjaman di kantor bapak. Hal tersebut membuat kami anak – anaknya mencoba untuk memahami kondisi tersebut. Mas Pur kakakku akhirnya ambil inisiatif untuk meringankan beban orang tua dengan bekerja sebagai satpam di salah satu rumah sakit baru di kotaku. Aku salut sama mas Pur yang tidak malu dengan profesi itu padahal dia juga mahasiswa. 19 – 9 – 1991 adalah waktu yang merubah kehidupan kami, bapak sebagai tulang punggung keluarga meninggalkan kami untuk selamanya. Malam itu, ibu berteriak memanggil kami, tengah malam keluarga kami ribut untuk membawa bapak ke rumah sakit, rumah sakit daerah terletak tepat di depan rumah kami, dengan becak bapak di bawa ke UGD, tapi bapak telah tiada tanpa sakit sebelumnya. Derai airmata mengiringi kepergian bapak, dengan diiringi tembakan senjata salto dari pasukan TNI Kostrad bapak dimasukkan ke liang lahat. Selamat jalan bapak, smoga amal ibadah mu di terima Allah SWT. Amin.
Akhirnya ibu seorang diri merawat kami tiga orang anaknya. Beban yang sangat berat. Mas Pur yang akhirnya membantu meringankan beban ibu, setidaknya untuk biaya kuliah mas Pur bisa membiayai sendiri dengan gaji satpam yang dia terima. Setelah lulus SMA aku bingung karena UMPTN tidak berhasil membuatku masuk ke PTN. Aku tak berani meminta ijin ibu untuk sekolah di PTS karena kasihan ibu pasti biayanya mahal. Tiba – tiba suatu hari mas Pur bertanya,” arep daftar kuliah neng ngendi duk ?” ( mau daftar kuliah dimana dik ?), aku diam sejenak tidak tahu harus jawab apa, “ra ngerti mas, aku bingung”, (tidak tahu mas, aku bingung) jawabku. “Aku pingin di Akper, boleh nggak ?’, sahutku kemudian, “Ojo!”, tiba – tiba ibu menyahut, aku diam, langsung tertunduk takut jika membuat ibu marah, “ Yo wis, sesok daftar,aku sing mbayari kuliahe wuri, Ibu beten sisah kawatir, wuri tanggel jawab kulo”. (Ya sudah, besok kamu daftar, aku yang biayai kuliahmu, Ibu nggak usah kawatir, wuri tanggung jawab saya). Kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing – masing.
Akhir tahun 1994, hidayah datang pada keluarga kami mas Pur lolos seleksi SEPA PK ( Sekolah Perwira Prajurit Karier) dan masuk matra Polisi. Setelah lulus kuliah mas Pur keluar jadi satpam dan selanjutnya di terima menjadi guru di STM swasta di kota kami, dan setalah 1 tahun mengajar, mencoba peruntungan dengan mendaftar SEPA PK. Sujud syukur dan ucapan alhamdulillah tidak berhenti di bibir kami. Sebagai rasa syukur ibu, selama masa pendidikan mas Pur ibu berpuasa, subhanalloh. Saat itu aku masih di semester 1 Akademi Perawat di solo. Rencana awal biaya sekolahku di tanggung mas Pur, akhirnya berubah, ibu yang membiayai seluruh sekolahku. Saat itu SPP ku per semester Rp. 325.000; awal semester ibu pasti kerumah Pakde untuk pinjam uang, kemudian di cicil setiap bulan, begitu lunas, awal semester pinjam lagi seterusnya hingga aku lulus kuliah.
Tahun 2000, tugas ibu usai, sudah menyekolahkan anak – anaknya dan telah menikahkan kami bertiga. Wajah tua dan lelahnya jelas terbaca pada raut mukanya yang mulai keriput. Satu demi satu anaknya pergi meninggalkanya mengikuti suami masing – masing, sedangkan mas Pur dinas di Jakarta. Kami bertiga sudah sepakat, begitu menikah tidak boleh lagi meminta apapun kepada ibu termasuk warisan, kecuali memang ibu berkeinginan untuk memberi. Sebisa mungkin kami bergiliran menengok ibu yang tinggal sendirian di rumah. Hanya mbak Puji yang tinggal di kota yang sama dengan ibu yang lebih sering menengok ibu. Aku sendiri belum tentu sebulan sekali pulang, mengingat anak – anak masih kecil, dan keadaan ekonomi kami yang masih pas – pasan.
Seiring bertambahnya waktu, mas Pur yang dulu satpam, selanjtnya menjabat Ka. Bag. Operasional, Waka Polres selama 2 kali menjabat di Polres yang berbeda, selanjutanya Ka. Bag Analisi di wilayah Polda di negeri ini. Mbak Puji sudah punya usaha membuka perlengkapan konveksi, dan aku sendiri menjadi seorang Dosen. Allah mendengar doa – doa ibu. Terimakasih ibu atas jerih payah dan doa ibu yang tak pernah putus buat kami.
Hari itu kami perjalanan pulang setelah menengok ibu, tiba – tiba suamiku bilang,” Nok, kalau ibu papa biayai naik haji bagaimana ?”, pertanyaan singkat suamiku tidak langsung aku jawab, antara bahagia dan malu, suamiku yang hanya anak menantu punya pikiran yang begitu mulia, “Terserah papa”, jawabku singkat, dan aku tak kuasa menahan air mata, terimakasih Ya Allah Kau beri hamba suami yang begitu baik. Niat suami di sampaikan pada mas Pur lewat telepon, di sebrang ku dengan suara mas Pur bergetar, seperti menahan tangis, “ sampaikan om Aziz, terimakasih dan maaf ku, aku yang anak laki – lakinya malah belum punya pikiran kesana”. Dan sebenarnya, sejak dulu ibu adalah pemegang keputusan di keluarga, tak ada satupun diantara kami yang berani membantah beliau. Tapi ibu lupa, saat kami telah menikah, kami punya kerajaan sendiri yang punya aturan sendiri, tidak lagi ibu yang mengambil keputusan. Keadaan itulah yang membuat ibu merasa di tingglakan oleh anak – anaknya. Apapun yang kami lakukan lebih sering salah dari benarnya, marah – marah dan selalu salah kami di matanya. Sering keluar masuk rumah sakit bukan karena sakit fisik, ibu hanya ingin kami anak – anaknya berkumpul. Akhirnya kami putuskan ibu agar ikut salah satu diantara kami agar ada yang merawat dan mengawasi. Bergantian terserah ibu maunya ikut siapa. Saat sudah mulai bosan ibu pasti membuat masalah seakan kami tidak perhatian sama ibu. Keadaan itu terus berulang. Keberangkatan ibu ke tanah suci makin dekat, bukanya semakin siap ibu malah semakin khawatir dan panik, akhirnya dengan ridho Allah dan kebesaran hati suamiku, akhirnya alhamdulillah aku dan suami juga bisa turut berangkat ke tanah suci. Besar harapan kami, sepulang dari tanah suci ibu berubah, lebih iklas dan sabar, lebih taat beribadah. Ibu sangat rajin beribadah, duha dan tahajud tidak pernah di tinggalkan, puasa senin kamis pun rajin beliau lakukan.
Harapan kami sia – sia, ibu tetep saja sering marah, selalu menyalahkan dan menuduh kami, anak – anaknya tidak sayang sama beliau, rasanya sangat sakit sekali. Aku selalu diam jika beliau marah padaku, aku takut kata – kataku menambah sakit hati ibuku. Karena aku tahu sebenarnya ibu sangat menyayangi kami, tapi mungkin itu cara ibu menunjukkan rasa sayangnya. Hingga sekarang aku selalu hati – hati dalm bicara karena takut jika ibu tersinggung. Kecewa, sepertinya apa yang sudah aku, suami dan saudara – saudaraku lakukan untuk membahagiakan ibu masih jauh dari harapan. Ibu, jerih payahmu membesarkan kami, membekali kami ilmu, kini saat anak – anakmu sudah mampu mewujudkan mimpinya, dan ingin membalas membahagiakanmu, tapi kanapa ibu masih beluam merasa bahagia. Katakan apa lagi yang harus kami lakukan agar ibu bahagia. Ijinkan kami selalu mendapatkan doa – doamu, ijinkan kami membuatmu tersenyum, jangan biarkan kami jadi yatim piatu ibu, kami sangat menyayangimu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment