Bulan
agustus. Bagi warga negara indonesia, bulan agustus adalah bulan di
proklamasikannya kemerdekaan indonesia. Bulan agustus, selain sebagai bulan bersejarah
bagi bangsa indonesia, juga sebagai salah satu bulan yang memiliki banyak kenangan dalam hidupku. Di bulan
agustus di tahun 1995 aku pertama kali aku belajar mandiri jauh dari ibu. Ikut berkemah
dengan anggota pramuka gudep esde inpres 6/75 cabbeng. belajar bagaimana hidup
tanpa berteriak “emakkk..lapar” . Belajar menggunakan otak untuk bertahan hidup,
yang biasanya otak hanya dipakai buat bermain.hehehe.
Merasakan
betapa horornya harus mandi disungai yang konon ada buayanya. Merasakan betapa
beratnya membawa jerigen penuh air kiri kanan untuk di bawa ke tenda. Merasakan betapa sakitnya perut saat menahan
boker diujung tanduk karena bingung mau boker dimana. Dan betapa kesalnya
ketika mengendap-endap mencari tempat boker yang strategis tiba-tiba menginjak
e’ek manusia yang masih hangat. Amazing…
Ketika
pagi tiba pemandangan kebun cokelat di sekitar perkemahan akan dihiasi
pemandangan yang serba kuning. Kotoran anak-anak pramuka yang bertebaran di
hampir setiap pohon cokelat. Dan aku adalah salah satu pelakunya. Biar pohonnya
subur. Hehehe…
Di
bulan agustus di tahun itu juga untuk pertama kalinya aku tampil di muka umum.
Aku dipilih menjadi anggota tim SKJ sekolahku, SD inpres 6/75 Cabbeng. Bumi
perkemahan Unyi jadi saksi bisu bagaimana aku mengalahkan grogiku di pelototin
para penonton.
Di
bulan agustus di tahun itu juga aku menjadi tumpuan harapan bagi tim sepak bola
dan sepak takraw sekolahku, namun aku gagal mempersembahkan kemenangan bagi
sekolahku. Aku gagal mengeksekusi finalty. Tendangan kerasku hanya mengenai
tiang gawang hingga tiang yang terbuat dari bambu roboh. Smashku gagal
membuahkan hasil gemilang. Ya tak apa lah. Memang bintang tak selamanya bersinar.
Mungkin lagi mendung.
Di
bulan agustus ini juga tepatnya tahun 1997 aku di tunjuk mewakili kelasku,
kelas II C untuk mengikuti lomba menyanyi solo dalam porseni esempe satu dua
boocoe. Dulu waktu aku esempe kata temanku Kasmiana, aku tu punya suara emas. Tapi
suaraku jadi rusak gara-gara mentorku menyuruh aku teriak-teriak di dalam air
dan itu membuat pita suaraku pecah. Mungkin aku tidak ditakdirkan menjadi
penyanyi. Karena yang meminta aku buat mewakili kelasku adalah cewek gebetanku,
akhirnya aku mengiyakan meskipun aku sudah panas dingin membayangkan diriku
tampil sendirian diatas panggung. Asli horor banget. Maklum aku orangnya nervousan.
Aku pun diantar sama abangku pergi latihan menyanyi. Karena lagu yang akan aku
bawakan belum pernah aku dengar jadi harus belajar menyanyikannya sama orang
yang menguasai lagu tersebut. 3 hari berturut-turut aku diantar abangku pergi
ke kelurahan unyi yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Dan satu hari
sebelum hari H aku berdoa semoga aku sakit sehingga aku gak perlu mati berdiri
diatas panggung karena nervous. Namun doaku tidak terkabul. Akupun cemas
sekali. Apa yang harus aku lakukan. Akhirnya aku memutuskan pura-pura sakit. Untung
saja waktu itu belum ada telepon jadi gak diteleponin buat segera tampil. Wkwkwkwk…
mungkin aku harus diterapi untuk menghilangkan nervousku yang kelewat batas. Enam
tahun kemudian aku baru mulai bisa mengendalikan nervousku meski tampilnya
tidak sendiri. tampil berdua diatas panggung di pelototin ratusan mata itu
bukan hal yang mudah bagi jiwa-jiwa yang nervousan seperti aku. Butuh keberanian
untuk melakukan itu. Butuh energi yang besar untuk mengendalikan nervous. Agustus
itu aku ditunjuk untuk mewakili KKSS mendampingi Dini untuk memperkenalkan
budaya bugis di tanah borneo. Dan alhamdulillah aku behasil melakukan tugasku
dengan baik begitu pun dengan Dini. Eh apa kabarnya Dini. Si pemilik wajah yang
mirip Dian Sastro bila dia tersenyum.
Di
bulan agustus ditahun 1998 aku mengangkat tropi juara I sepak bola antar desa. Tim
yang selama ini selalu merindukan bulan
berhasil terbang memetik bulan. Tim juara bertahan yang selama ini ditakuti
lawan-lawannya berhasil kami tumbangkan dengan kemenangan telak 3-0.
Bulan
agustus di tahun 2002 adalah bulan agustus yang paling tidak terlupan. Agustus di tahun
itu aku bisa lebih dekat dengan gadis gebetanku. Aku dan dia ditunjuk ikut
dalam tim obade desa cabbeng yang nantinya akan mengikuti lomba paduan suara se
kecamatan dua boccoe. Tiap malam kami latihan bersama. Hari terakhir latihan,
cintaku yang sekian lama aku
timang-timang dalam lubuk hatiku akhirnya bersemi tanpa kata-kata. Ya hanya
sebuah isyarat mata dan sebuah gandengan tangan membuat hati kami satu. Hem..apa
kabarnya dia sekarang. Semoga dia bahagia, sebahagia aku saat ini bersama
bidadari kecilku dan jagoan kecilku yang selalu membuat aku tertawa dan berdecak kagum dengan pola tingkahnya yang banyak
akal. Dasar si otak kanan. Hidup otak kanan, Itu Muhammad Alif Husain Palawero.
Agustus
selalu berhasil menggelitik hatiku. Membongkar laci-laci memori otakku. Meluncur,
melaju dan memeluk kenangan yang jauh telah tertinggal. Apa kabarnya kalian
yang dulu ikut meramaikan agutusku?
No comments:
Post a Comment