FIDOBONE

TARO ADA TARO GAU'

Monday, 30 July 2018

PENCARIAN DI PENGHUJUNG MALAM

Jejak di bulan Desember 2012
Hari ke 5 pasca pelarian

Dipenghujung malam ini telah kubulatkan tekadku. Kukemasi perlengkapanku. Kayu bakar yang aku ambil dari dapur telah siap. Pisau lipat  di saku celanaku. Borgol siap untuk kucengkramkan. aku rasa itu sudah cukup. Sebelum aku meningkalkan menara ini, Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling menara  memastikan semuanya aman.
Akupun turun dari menara v menuju kesebuah ruangan dimana kunci pintu tersimpan. Malam ini begitu sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Yang seharusnya terjaga pun  terkapar diatas meja. Mengedap-endap aku mengambil kunci yeng terletak di belakang meja. Tak ada suara sepatu saat kakiku melangkah. Irama jantungku berlarian. Degap degup. Takut kalau dia terjaga dari tidurnya. Akupun mengambil kunci dengan aman. Aku menghampiri pintu yang berjarak 7 meter dari ruangan kunci. Kumasukkan anak kunci pada gembok pintu. Pintu berderit pilu saat pintu aku tarik perlahan. Aku berhasil keluar tanpa sepengetahuan siapa pun. 
kupacu kuda besiku menuju kesatu arah dimana aku bisa menemukan dia. Menara v menatap diam kepergianku. Aku pun hilang di telan gelap malam.
Jalan sangat gelap. sunyi. Hanya suara deru angin yang terdengar menembus pengaman kepalaku, bersaing dengan suara deru kuda besiku. Dingin tubuhku tanpa jaket. Hanya kaos yang bertulis nama kesatuanku yang melekat di tubuhku. Dinginnya angin malam tak dapat mendinginkan darahku yang mendidih oleh dendam. Terlalu sakit hati ini.
Kuda besiku menembus jalan menuju bukit rawi. Cahaya lampu kuda besiku menembus pekatnya malam. Kiri kanan jalan gelap gulita. Aku seperti melihat puluhan bayangan hantu dari balik pohon yang terkena bias cahaya lampu kuda besiku. Bayangan hantu yang berseliweran diujung mataku, tak cukup untuk mengurungkan niatku untuk memburunya. Al Mukarram, dari beberapa nama pembangkang, hanya nama itu yang mendidihkan darahku. Dendam ingin memberangus tubuhnya jadi debu. Dendamku membuat aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan. Mempercayai dukun. Dan menembus malam ini karena mempercayai omongannya.Ya Allah ampuni hamba.
Mataku siaga mengawasi jalan didepanku ketika melewati tikungan. Kata sang dukun dia berada diantara danau lais dan bukit rawi. Malam ini dia akan keluar dari persembunyiannya pada pukul 01.30 dini hari, dan dia akan melanjutkan pelariannya menuju ke kampung halamannya dengan berjalan kaki menelusuri jalan beraspal karena tidak mungkin dia melakukan perjalan melewati hutan karena daerah danau lais air sedang pasang.
Dari jauh terlihat sosok yang sedang berjalan kaki terkena sorot lampu kuda besiku. Jantungku berdegup kencang. Ini dia orangnya dalam hatiku. Aku hapal banget perawakannya yang cungkring. Kutambah kecepatan kuda besiku. Aku tak sabar ingin menerkamnya. Kuambil kayu yang aku jepit didepanku. Tangan kiriku menggengam erat kayu bakar yang siap aku ayunkan ke kepalanya. Kutambah kecepatan kuda besiku. Ketika jaraknya sudah dekat, aku ayunkan kayuku ke udara, dan...plakkk..kuhantamkan kayuku dengan kekuatan penuh tepat di kepalanya. Dia tak sempat menghindar. Dia terjatuh. Sersungkur pada aspal.
Seperti itulah yang ada dikepalaku saat ini ketika nanti dia muncul malam ini. Aku sudah mempersiapkan  tindakan apa yang akan aku lakukan untuk melumpuhkannya.
Namun ini sudah sampai di wilayah bukit rawi tetapi al mukarram bulum juga keliatan diujung sorot lampu kuda besiku. Aku sudah mulai curiga. Jangan-jangan dukun itu menipuku. Kurang ajar.
Akupun memutar kuda besiku kembali ke menara v. Pencarianku malam ini tak membuahkan hasil. Aku sudah termakan tipu daya sang dukun.
                                                                                                                    

No comments:

Post a Comment