Jejak di bulan Desember 2012
Hari ke 5 pasca
pelarian
Dipenghujung malam ini telah kubulatkan tekadku. Kukemasi
perlengkapanku. Kayu bakar yang aku ambil dari dapur telah siap. Pisau
lipat di saku celanaku. Borgol siap
untuk kucengkramkan. aku rasa itu sudah cukup. Sebelum aku meningkalkan menara
ini, Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling menara memastikan semuanya aman.
Akupun turun dari menara v menuju kesebuah ruangan dimana
kunci pintu tersimpan. Malam ini begitu sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan.
Yang seharusnya terjaga pun terkapar
diatas meja. Mengedap-endap aku mengambil kunci yeng terletak di belakang meja.
Tak ada suara sepatu saat kakiku melangkah. Irama jantungku berlarian. Degap
degup. Takut kalau dia terjaga dari tidurnya. Akupun mengambil kunci dengan
aman. Aku menghampiri pintu yang berjarak 7 meter dari ruangan kunci.
Kumasukkan anak kunci pada gembok pintu. Pintu berderit pilu saat pintu aku
tarik perlahan. Aku berhasil keluar tanpa sepengetahuan siapa pun.
kupacu kuda besiku menuju kesatu arah dimana aku bisa
menemukan dia. Menara v menatap diam kepergianku. Aku pun hilang di telan gelap
malam.
Jalan sangat gelap. sunyi. Hanya suara deru angin yang
terdengar menembus pengaman kepalaku, bersaing dengan suara deru kuda besiku.
Dingin tubuhku tanpa jaket. Hanya kaos yang bertulis nama kesatuanku yang
melekat di tubuhku. Dinginnya angin malam tak dapat mendinginkan darahku yang
mendidih oleh dendam. Terlalu sakit hati ini.
Kuda besiku menembus jalan menuju bukit rawi. Cahaya lampu
kuda besiku menembus pekatnya malam. Kiri kanan jalan gelap gulita. Aku seperti
melihat puluhan bayangan hantu dari balik pohon yang terkena bias cahaya lampu
kuda besiku. Bayangan hantu yang berseliweran diujung mataku, tak cukup untuk
mengurungkan niatku untuk memburunya. Al Mukarram, dari beberapa nama pembangkang,
hanya nama itu yang mendidihkan darahku. Dendam ingin memberangus tubuhnya jadi
debu. Dendamku membuat aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan.
Mempercayai dukun. Dan menembus malam ini karena mempercayai omongannya.Ya
Allah ampuni hamba.
Mataku siaga mengawasi jalan didepanku ketika melewati
tikungan. Kata sang dukun dia berada diantara danau lais dan bukit rawi. Malam
ini dia akan keluar dari persembunyiannya pada pukul 01.30 dini hari, dan dia
akan melanjutkan pelariannya menuju ke kampung halamannya dengan berjalan kaki
menelusuri jalan beraspal karena tidak mungkin dia melakukan perjalan melewati
hutan karena daerah danau lais air sedang pasang.
Dari jauh terlihat sosok yang sedang berjalan kaki terkena
sorot lampu kuda besiku. Jantungku berdegup kencang. Ini dia orangnya dalam
hatiku. Aku hapal banget perawakannya yang cungkring. Kutambah kecepatan kuda
besiku. Aku tak sabar ingin menerkamnya. Kuambil kayu yang aku jepit didepanku.
Tangan kiriku menggengam erat kayu bakar yang siap aku ayunkan ke kepalanya. Kutambah
kecepatan kuda besiku. Ketika jaraknya sudah dekat, aku ayunkan kayuku ke
udara, dan...plakkk..kuhantamkan kayuku dengan kekuatan penuh tepat di kepalanya.
Dia tak sempat menghindar. Dia terjatuh. Sersungkur pada aspal.
Seperti itulah yang ada dikepalaku saat ini ketika nanti dia
muncul malam ini. Aku sudah mempersiapkan tindakan apa yang akan aku lakukan untuk
melumpuhkannya.
Namun ini sudah sampai di wilayah bukit rawi tetapi al
mukarram bulum juga keliatan diujung sorot lampu kuda besiku. Aku sudah mulai
curiga. Jangan-jangan dukun itu menipuku. Kurang ajar.
Akupun memutar kuda besiku kembali ke menara v. Pencarianku malam
ini tak membuahkan hasil. Aku sudah termakan tipu daya sang dukun.
No comments:
Post a Comment