PELLENG merupakan alat penerangan zaman dimana listrik belum masuk di desaku. Pelleng adalah bahasa bugis dadri Pelita merupakan perpaduan antara tabung kaleng, sumbu dan minyak tanah. kami didesa membuat sendiri Pelleng tersebut dengan menggunakan kaleng bekas susu kental manis atau botol bekas. sumbu kami buat dari kain bekas pakaian. dan yang paling penting adalah minyak tanah yang kami beli dipasar dengan harga yang cukup murah pada masa itu.
aku masih sempat melewati malam dengan cahaya remang Pelleng hingga aku berusia 10 tahun. bila malam telah tiba kami pun duduk di dekat pelleng agar kami bisa melihat. pelleng lah yang menemani kami saat bercengkerama dengan keluarga. Etta, wero serta saudara -saudaraku. pelleng menemaniku saat Ettaku mengajari aku mengaji. pelleng menemani kami saat berkumpul di meja makan untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan Wero ku dan saudari sulungku, daeng Murni.
pelleng juga menemani kami untuk mencari mangga di hutan pada malam hari. karena pada malam hari mangga masak berjatuhan baik karena tertiup angin maupun jatuh karena kelelawar. pelleng juga menemani kami untuk bermain dengan teman-temanku. herman, samsuddin.
pelleng telah berjasa dalam hidup kami untuk dapat melihat pada malam hari. semenjak listrik masuk di desa kami pelleng pun perlahan-lahan terlupakan dan tak pernah terlihat lagi bangkainya.
Terlalu lama..sangat lama...lama sangad gak ada
mosting...nulis dulu ah...
Ini cerita tentang polisi penjara.
Aku adalah seorang polisi penjara di sebuah kota di negeri atas angin. kota yang penduduknya ramah-ramah. Hari itu tepatnya hari selasa 13 september 2016, kantor kami akan ngadain acara makan bareng dengan keluarga besar penjara atap langit. Rencananya, menu makanannya adalah gulai kambing ama sate kambing. Pak Muji yang merupakan rekan kerjaku dan sekali gus adalah tetanggaku, bersedia memasakkan makanan perjamuan
akbar tersebut. Akbar coyy...akbar mana mana akbar...hihi...
Rekan kerja yang tinggal satu
komplek dengan pak Muji turun tangan untuk membantu memasak. Pokoknya besok
pagi menu makanan harus sudah siap disantap rame-rame.
Jadi lah sore itu ramai dirumah pak Muji untuk membantu
masak-masak. Ada yang kebagian tugas ngiris bawang, ngulek. Ada juga jadi
tukang tusuk sate.
Aku, Widot dan pak Igun dapat tugas menangkap ayam. Pak Igun nyumbangin ayam jantannya 2 ekor untuk disate.
perburuan pun dimulai. tanpa perlawanan berarti 1 ekor berhasil ditangkap karena kebetulan itu ayam masuk kekandang, jadi tinggal sergap. sikat. tangkap. ringkus. atau apalah...hehe. Yang satunya lagi berhasil
kabur dari kandang. yang satu itu sepertinya memiliki naluri yang tajam untuk mendeteksi bahaya yang mengancam nyawanya.
Kami pun bertiga melakukan pengejaran. Muter kiri, muter
kanan, sergap...lolos. kejar lagi...lagi lagi dikejar...melewati semak-semak, melompati
comberan, tiarap di bawah jemuran, meliuk ke kiri ke kanan, sergap...lolos
lagi. Lari kencang..hilang jejak...kami lelah. Ngos-ngosan. Widot yang rada tambun terduduk kehabisan nafas. Aku jalan
terengah-engah. Pak Igun jalan sempoyongan mencari jejak.
“itu dia” teriak pak Igun. Ayamnya disamping rumahku. Sepertinya
aku harus menggunakan senjata pamungkasku untuk menangkap ayam itu. Sudah terlalu
lelah kami mengejarmu anak muda. Aku memompa senapan angin yang sedari tadi aku
bawa. Sudah cukup Ferguso kau membuat hidup kami terasa sulit.
“ya pak, jangan dekat dulu saya mau nembak ayamnya”
Aku membidik kepalanya. Dorr....ayamnya kabur. Tembakanku meleset.
Dia lari kesamping rumah pak Nyayuks. Dia berbaur dengan ayam
yang lain. Dia sedang ngobrol dengan seekor betina dan dua ekor jantan. Tidak terlau
banyak gerakan namun temannya yang betina terlalu pecicilan. Ga mau diam. Kutahan
tembakanku. Kutunggu si betina diam. Hingga akhirnya di berhenti di samping
kanan si jantan incaranku.
Akupun mengarahkan senjataku ke target, Si jantan yang tua
keladi dan bau tanah yang dagingnya mungkin sudah sangat alot itu. Kutarik napas
dalam-dalam untuk persiapan menahan napas saat menembak, moncong senajataku tetap di posisi kuncian. Kali ini aku yakin si
jantan akan terkapar. Selain karena jaraknya hanya 6 meter juga karena si jantan gak banyak gerak. sepertinya dia sedang merayu si betina. Memang si betina itu merupakan kembang desa di
komplek kami. Jadi wajar si tua bangka itu ngebet pengen memilikinya.
Aku mengucapkan basmala dalam hati. Mata kiriku tajam
menatap si tua bangka. Target sudah terkunci. Kepalanya akan bocor terkena perulu
tumpulku. Timah sebesar upil akan membuatnya tak lagi ganjen. Dia akan bertobat
di tarikan nafas terakhirnya. Tapi sudah
terlambat. Pertaubatanmu tidak di terima lagi wahai si tua bangka. sudah
terlabat...
Kutarik pelatuknya...dorrr.....dan....ayam berhamburnan. Tapi
aku melihat ada yang klepek-klepek...alhamdulillah ayamnya kena.
“ pak Igun, ayamnya sudah kena” teriakku girang pada pak Igun. Bangga bisa meringankan beban
perburuan Widot dan pak Igun.
“kena kah...berarti lain tu. Maka itu ayam nya yang handak
kita tangkap...?” ujar pak Igun dengan nada pasrah, sambil menunjuk kearah
sasaran yang berhasil kabur. Dia mendekati ayam yang klepek-klepek. Ternyata ayam
indukan pak Igun yang kena peluru. “ya kan... lain. Ini ayam indukan-ku”
Whatttt...tembakanku meleset kah.? Bhahahahahaaaa...aku langsung tertawa
terpingkal-pingkal. Tidak perduli dengan kesedihan pak Igun. tidak perduli untuk bersimpati atas kematian si bunga desa,
indukan kesayangan pak Igun.
Bhahahahaha...aku terpingkal-pingkal. Aku teringat dengan
anekdot bahwa hati-hati sama polisi penjara. Kalau dia nembak, membidik kaki, Kepala
yang kena. Bhahahaha...
Gimana tidak. Pelatihan menembak polisi penjara boleh
dibilang gak pernah. Soalnya hanya dilatih pada saat latihan kesamaptaan. Itu pun
hanya satu kali saja selama pelatihan kesamapataan tersebut. Dan pelatihan
kesamaptaan Itu terkadang hanya sekali selama
menjadi polisi penjara sampai dia pensiun nanti. Gimana ga meleset tembakannya.
Jangan sampai kalian jadi sasaran tembaknya pak polisi penjara.
Dipenghujung malam ini telah kubulatkan tekadku. Kukemasi
perlengkapanku. Kayu bakar yang aku ambil dari dapur telah siap. Pisau
lipat di saku celanaku. Borgol siap
untuk kucengkramkan. aku rasa itu sudah cukup. Sebelum aku meningkalkan menara
ini, Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling menara memastikan semuanya aman.
Akupun turun dari menara v menuju kesebuah ruangan dimana
kunci pintu tersimpan. Malam ini begitu sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan.
Yang seharusnya terjaga pun terkapar
diatas meja. Mengedap-endap aku mengambil kunci yeng terletak di belakang meja.
Tak ada suara sepatu saat kakiku melangkah. Irama jantungku berlarian. Degap
degup. Takut kalau dia terjaga dari tidurnya. Akupun mengambil kunci dengan
aman. Aku menghampiri pintu yang berjarak 7 meter dari ruangan kunci.
Kumasukkan anak kunci pada gembok pintu. Pintu berderit pilu saat pintu aku
tarik perlahan. Aku berhasil keluar tanpa sepengetahuan siapa pun.
kupacu kuda besiku menuju kesatu arah dimana aku bisa
menemukan dia. Menara v menatap diam kepergianku. Aku pun hilang di telan gelap
malam.
Jalan sangat gelap. sunyi. Hanya suara deru angin yang
terdengar menembus pengaman kepalaku, bersaing dengan suara deru kuda besiku.
Dingin tubuhku tanpa jaket. Hanya kaos yang bertulis nama kesatuanku yang
melekat di tubuhku. Dinginnya angin malam tak dapat mendinginkan darahku yang
mendidih oleh dendam. Terlalu sakit hati ini.
Kuda besiku menembus jalan menuju bukit rawi. Cahaya lampu
kuda besiku menembus pekatnya malam. Kiri kanan jalan gelap gulita. Aku seperti
melihat puluhan bayangan hantu dari balik pohon yang terkena bias cahaya lampu
kuda besiku. Bayangan hantu yang berseliweran diujung mataku, tak cukup untuk
mengurungkan niatku untuk memburunya. Al Mukarram, dari beberapa nama pembangkang,
hanya nama itu yang mendidihkan darahku. Dendam ingin memberangus tubuhnya jadi
debu. Dendamku membuat aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan.
Mempercayai dukun. Dan menembus malam ini karena mempercayai omongannya.Ya
Allah ampuni hamba.
Mataku siaga mengawasi jalan didepanku ketika melewati
tikungan. Kata sang dukun dia berada diantara danau lais dan bukit rawi. Malam
ini dia akan keluar dari persembunyiannya pada pukul 01.30 dini hari, dan dia
akan melanjutkan pelariannya menuju ke kampung halamannya dengan berjalan kaki
menelusuri jalan beraspal karena tidak mungkin dia melakukan perjalan melewati
hutan karena daerah danau lais air sedang pasang.
Dari jauh terlihat sosok yang sedang berjalan kaki terkena
sorot lampu kuda besiku. Jantungku berdegup kencang. Ini dia orangnya dalam
hatiku. Aku hapal banget perawakannya yang cungkring. Kutambah kecepatan kuda
besiku. Aku tak sabar ingin menerkamnya. Kuambil kayu yang aku jepit didepanku.
Tangan kiriku menggengam erat kayu bakar yang siap aku ayunkan ke kepalanya. Kutambah
kecepatan kuda besiku. Ketika jaraknya sudah dekat, aku ayunkan kayuku ke
udara, dan...plakkk..kuhantamkan kayuku dengan kekuatan penuh tepat di kepalanya.
Dia tak sempat menghindar. Dia terjatuh. Sersungkur pada aspal.
Seperti itulah yang ada dikepalaku saat ini ketika nanti dia
muncul malam ini. Aku sudah mempersiapkan tindakan apa yang akan aku lakukan untuk
melumpuhkannya.
Namun ini sudah sampai di wilayah bukit rawi tetapi al
mukarram bulum juga keliatan diujung sorot lampu kuda besiku. Aku sudah mulai
curiga. Jangan-jangan dukun itu menipuku. Kurang ajar.
Akupun memutar kuda besiku kembali ke menara v. Pencarianku malam
ini tak membuahkan hasil. Aku sudah termakan tipu daya sang dukun.
PIKNIK bagi aku itu penting. ya piknik dimana aja asalkan suasananya menyenangkan. namanya juga piknik ya harus dong menyenangkan hati. piknik dengan keluarga bagi aku itu sangat mudah mengatur waktunya. kapan aja, dimana saja, tinggal duitnya aja seh yang rada susah diatur. wkwkwk...
Namun piknik sama teman-teman kantor bagi aku itu sangat susah. karena ngumpulin orangnya dan menyatukan suara itu sangat susah. ada-ada aja alasan teman-teman untuk tidak bisa ikut. namun kali ini benar-benar sesuatu banget karena bos kami mendukung untuk berangkat piknik bareng, sehingga teman-teman yang biasanya tidak ikut ambil bagian untuk piknik, kini pada ikut karena bos yang langsung menghimbau ke anak buahnya. "saudara2 sekalian, demi memupuk rasa kekeluargaan kita, saya menghimbau kepada semua karyawan karyawati agar dapat ikut dalam kegiatan liburan bareng kita kali ini" dan....jadilah kita berangkat rame-rame.
A. Ridar Sutaryanto, Bc.IP.,SH.,MH. Kepala Lapas Kelas IIA Palangka Raya Periode 2014-2016
Sebagai panitia pelaksana, kami geng Kurpik (Kurang Piknik) seminggu sebelumnya sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kegiatan piknik bareng ini. mulai dari membahas kegiatan apa yang akan kita lakukan untuk seru-seruan. tempat yang mana saja akan kita jadikan destinasi. berapa besar dana yang diperlukan, sampai membahas baju yang akan kita pakai sebagai kostum kebersamaan. dan akhirnya setelah kami melakukan pembicaraan panjang dan tertutup dengan dengan Bos kami. weis pembicaraan rahasia...hihi... Akhirnya ditentukanlah bahwa tempat yang akan dijadikan destinasi piknik kita kali ini adalah Bukit Batu Banama di puncak tangkiling dan Sungai Batu Sei Gohong tangkiling.
Semua perlengkapan piknik sudah siap. Alat kegiatan lomba untuk seru-seruan sudah lengkap, dan yang paling penting adalah konsumsi. Ini tidak boleh ketinggalan, karena kita akan mendaki gunung yang otomatis tenaga kita akan terkuras habis jadi butuh asupan energi yang banyak.
Hari minggu (20/8/2016) jam 8 kami sudah meluncur menuju tekape dengan mengendarai satu buah bus dan dua buah mini bus. perjalanan kami tempuh kurang lebih tiga puluh menit. Sesampai disana. Kami pun memarkir mobil dipelataran parkir yang terletak di kaki bukit Tangkiling.
Sebelum mendaki gunung, bapak Eka Pra yang bertindak sebagai komandan rombongan, mengomandoi pelaksanaan apel persiapan mendaki, menghitung jumlah personil yang ikut mendaki gunung dan berdoa bersama agar kita diberikan keselamatan dalam kegiatan ini.
Kami pun mendaki bukit batu banama yang merupakan salah satu gugusan gunung tangkiling. Dan batu banama ini merupakan gugusan yang tertinggi diantara gugusan gunung tangkling yang lainnya.
Kami berjalan mendaki bukit Banama mengikuti jalan setapak yang dibuat oleh pengelola taman wisata. Jalanan bertangga dari beton yang dilengkapi dengan pagar agar pendaki tidak tergelincir terguling guling dari ketinggian. Dengan adanya jalan tersebut, para pengunjung tidak akan tersesat dan dapat dengan mudah Mendaki tanpa harus melewati jalanan terjal nan curam.
Setelah menempuh perjalan sekitar 20 menit akhirnya kami pun sampai di puncak batu Banama. Kami beristirahat sambil menikmati pemandangan yang terhampar di sekitar kaki bukit Tangkiling. Angin perbukitan yang sangat segar bertiup statis memanjakan kulit badan yang penuh peluh, pemandangan yang indah terhampar sejauh mata memandang. Dan lelah pun terbayar.
Setelah puas menikmati pemandangan di puncak dan tentunya selfie dan poto bareng yang sudah menjadi rukun piknik, hehe... Kami turun untuk makan siang di daerah lereng bukit banama.
Sebenarnya makan siang di puncak itu lebih asik tapi agak ribet membawanya naik keatas. gak membawa barang bawaan aja uda setengah mampus naiknya, apalagi kalau bawa beban bisa smaput. hehe... Selain itu di atas tidak ada tempat yang datar untuk acara game seru-seruan.
Dilereng tak kalah kerennya juga dengan di puncak. di lereng cukup asri dengan taman yang dibuat oleh pengelola, gajebo dan pendopo siap untuk memanjakan tubuh lelah sehabis mendaki. sungai kecil mengalir jernih di depan gajebo, menambah suasana syahdu piknik kami.
Setelah rasa lelah ditelan kesyahduan, acara kami lanjutkan dengan game yang bikin heboh seantero gunung Tangkiling (lebayyy...Bhahaha...). Game joget balon dengan lari kelereng. Kami tertawa lepas menyaksikan kejailan, kegokilan teman-teman yang ikut game.
Kang Taslim dan kang Made hampir berciuman gara-gara balonnya meledak ditusuk duri oleh mas Thoha. bhahaha.....
dan game lari kelereng yang mendebarkan saat menjaga keseimbangan agar kelereng tidak jatuh dari senok, berubah jadi gelak tawa saat yang lain mendoronng tubuh lawan berusaha menjatuhkan kelereng lawan dari sendok. wkwkwwk...
Kecerian, sorak sorai membahana saat jagoan berhasil sampai finish.
Setelah perlombaan selesai kami pun berleha-leha sambil menikmati menu makan siang yang sudah disiapkan panitia.
Petualangan belum berakhir gaes. Setelah puas menikmati kesyahduan suasana bukit Tangkiling, perjalan kami lanjutkan ke Sungai Batu Sei Gohong yang terletak tak jauh dari Banama Bukit Tangkiling.
Setelah Komandan rombongan memastikan lengkapnya anggota, kami pun meluncur menuju tekape. hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di tekape.
Lain di gunung lain di lembah. namanya aja sungai tentunya kita akan disuguhi pemandangan aliran sungai. namun pemandangan disekitarnya tak kalah asrinya gaes. pengelola wisata telah menyulap semak belukar menjadi taman dan gajebo-gajebo tempat peristirahatan yang nyaman. karena namanya sungai batu jadi tentunya yang jadi pesona adalah batuan sungai yang besar tersusun secara alami yang indah. suara gemuru dan percikan air saat menabrak batuan-batuan sungai dan suara burung hutan membentuk harmoni yang indah dari alam. sangat cocok buat menenangkan diri dan relaksasi. hem...
karena saat itu volume air lagi tinggi sehingga menimbulkan arus yang cukup deras membuat kami tertantang untuk bermain arum jeram. dengan berbekal ban dalam mobil karena disini tidak menyewan perahu karet, kami menerjang arus memacu adrenalin.
Saat seorang provokator menyerang dengan lemparan air, memancing kami untuk saling serang hingga keadaan menjadi tidak terkenali. chaos. hujan percikan air menghambur keudara. mengarah kewajah. Keriuhan dan gelak tawa kami memecah kesunyian hutan. Keseruan ini membuat rasanya tidak mau berhenti bermain air.
Setelah puas main air dan tangan pun sudah keriput karena kedinginan, kami pun mengakhiri petualangan seru kami. momen keseruan ini tak luput untuk kami abadikan dalam sebuah jepretan sehingga kami tetap dapat menatap dan mengenang keseruan yang indah itu.
Semoga keseruan seperti ini dapat terulang kembali dalam kebersamaan keluarga besar Lapas Palangka Raya. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan umur panjang sehingga kita bisa kembali mengukir jejak-jejak yang indah. Aamiin.
Bulan
agustus. Bagi warga negara indonesia, bulan agustus adalah bulan di
proklamasikannya kemerdekaan indonesia. Bulan agustus, selain sebagai bulan bersejarah
bagi bangsa indonesia, juga sebagai salah satu bulan yang memiliki banyak kenangan dalam hidupku. Di bulan
agustus di tahun 1995 aku pertama kali aku belajar mandiri jauh dari ibu. Ikut berkemah
dengan anggota pramuka gudep esde inpres 6/75 cabbeng. belajar bagaimana hidup
tanpa berteriak “emakkk..lapar” . Belajar menggunakan otak untuk bertahan hidup,
yang biasanya otak hanya dipakai buat bermain.hehehe.
Merasakan
betapa horornya harus mandi disungai yang konon ada buayanya. Merasakan betapa
beratnya membawa jerigen penuh air kiri kanan untuk di bawa ke tenda. Merasakan betapa sakitnya perut saat menahan
boker diujung tanduk karena bingung mau boker dimana. Dan betapa kesalnya
ketika mengendap-endap mencari tempat boker yang strategis tiba-tiba menginjak
e’ek manusia yang masih hangat. Amazing…
Ketika
pagi tiba pemandangan kebun cokelat di sekitar perkemahan akan dihiasi
pemandangan yang serba kuning. Kotoran anak-anak pramuka yang bertebaran di
hampir setiap pohon cokelat. Dan aku adalah salah satu pelakunya. Biar pohonnya
subur. Hehehe…
Di
bulan agustus di tahun itu juga untuk pertama kalinya aku tampil di muka umum.
Aku dipilih menjadi anggota tim SKJ sekolahku, SD inpres 6/75 Cabbeng. Bumi
perkemahan Unyi jadi saksi bisu bagaimana aku mengalahkan grogiku di pelototin
para penonton.
Di
bulan agustus di tahun itu juga aku menjadi tumpuan harapan bagi tim sepak bola
dan sepak takraw sekolahku, namun aku gagal mempersembahkan kemenangan bagi
sekolahku. Aku gagal mengeksekusi finalty. Tendangan kerasku hanya mengenai
tiang gawang hingga tiang yang terbuat dari bambu roboh. Smashku gagal
membuahkan hasil gemilang. Ya tak apa lah. Memang bintang tak selamanya bersinar.
Mungkin lagi mendung.
Di
bulan agustus ini juga tepatnya tahun 1997 aku di tunjuk mewakili kelasku,
kelas II C untuk mengikuti lomba menyanyi solo dalam porseni esempe satu dua
boocoe. Dulu waktu aku esempe kata temanku Kasmiana, aku tu punya suara emas. Tapi
suaraku jadi rusak gara-gara mentorku menyuruh aku teriak-teriak di dalam air
dan itu membuat pita suaraku pecah. Mungkin aku tidak ditakdirkan menjadi
penyanyi. Karena yang meminta aku buat mewakili kelasku adalah cewek gebetanku,
akhirnya aku mengiyakan meskipun aku sudah panas dingin membayangkan diriku
tampil sendirian diatas panggung. Asli horor banget. Maklum aku orangnya nervousan.
Aku pun diantar sama abangku pergi latihan menyanyi. Karena lagu yang akan aku
bawakan belum pernah aku dengar jadi harus belajar menyanyikannya sama orang
yang menguasai lagu tersebut. 3 hari berturut-turut aku diantar abangku pergi
ke kelurahan unyi yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Dan satu hari
sebelum hari H aku berdoa semoga aku sakit sehingga aku gak perlu mati berdiri
diatas panggung karena nervous. Namun doaku tidak terkabul. Akupun cemas
sekali. Apa yang harus aku lakukan. Akhirnya aku memutuskan pura-pura sakit. Untung
saja waktu itu belum ada telepon jadi gak diteleponin buat segera tampil. Wkwkwkwk…
mungkin aku harus diterapi untuk menghilangkan nervousku yang kelewat batas. Enam
tahun kemudian aku baru mulai bisa mengendalikan nervousku meski tampilnya
tidak sendiri. tampil berdua diatas panggung di pelototin ratusan mata itu
bukan hal yang mudah bagi jiwa-jiwa yang nervousan seperti aku. Butuh keberanian
untuk melakukan itu. Butuh energi yang besar untuk mengendalikan nervous. Agustus
itu aku ditunjuk untuk mewakili KKSS mendampingi Dini untuk memperkenalkan
budaya bugis di tanah borneo. Dan alhamdulillah aku behasil melakukan tugasku
dengan baik begitu pun dengan Dini. Eh apa kabarnya Dini. Si pemilik wajah yang
mirip Dian Sastro bila dia tersenyum.
Di
bulan agustus ditahun 1998 aku mengangkat tropi juara I sepak bola antar desa. Tim
yang selama ini selalu merindukan bulan
berhasil terbang memetik bulan. Tim juara bertahan yang selama ini ditakuti
lawan-lawannya berhasil kami tumbangkan dengan kemenangan telak 3-0.
Bulan
agustus di tahun 2002 adalah bulan agustus yang paling tidak terlupan. Agustus di tahun
itu aku bisa lebih dekat dengan gadis gebetanku. Aku dan dia ditunjuk ikut
dalam tim obade desa cabbeng yang nantinya akan mengikuti lomba paduan suara se
kecamatan dua boccoe. Tiap malam kami latihan bersama. Hari terakhir latihan,
cintaku yang sekian lama aku
timang-timang dalam lubuk hatiku akhirnya bersemi tanpa kata-kata. Ya hanya
sebuah isyarat mata dan sebuah gandengan tangan membuat hati kami satu. Hem..apa
kabarnya dia sekarang. Semoga dia bahagia, sebahagia aku saat ini bersama
bidadari kecilku dan jagoan kecilku yang selalu membuat aku tertawa dan berdecak kagum dengan pola tingkahnya yang banyak
akal. Dasar si otak kanan. Hidup otak kanan, Itu Muhammad Alif Husain Palawero.
Agustus
selalu berhasil menggelitik hatiku. Membongkar laci-laci memori otakku. Meluncur,
melaju dan memeluk kenangan yang jauh telah tertinggal. Apa kabarnya kalian
yang dulu ikut meramaikan agutusku?
Aku terpaku menatap haru. sinar bahagia terpancar di wajah cantiknya. Meski usianya sudah 40-an namun sisa-sisa kecantikannya masih terlihat. Alisnya yang indah, hidungnya yang bangir, wajah oval dengan setitik tailalat di pipinya. Membuat setiap lelaki yang melihatnya akan terpesona.
Dia terharu bahagia telah berhasil mengantarkan anak perempuan satu-satunya ke jenjang pernikahan, sendirian tanpa suami. Pasti almarhum suaminya di alam sana merasa bangga pada istrinya karena berhasil merawat, membesarkan anak mereka, menyekolahkannya sampai sarjana, dan kini mendampinginya menuju pintu mahligai rumah tangga anaknya.
Murni, dia adalah kakak sulungku. 23 tahun yang lalu. Terduduk dia bersandar pada dinding kamar. Dia sempat oleng, hampir terjatuh. Bunyi gesekan punggungnya dengan dinding, berderit saat dinding menahan tubuhnya yang perlahan turun karena kakinya seakan tak bertenaga lagi menahan tubuhnya. Kabar itu seperti hujaman kawali yang berkali-kali menancap tepat dijantungnya. hampir hilang kesadarannya. “suamimu telah berpulang kerahmatullah”. Sunyi, senyap, seperti tercekat, serasa napasnya mau hilang. perlahan, mata berkaca-kaca, menetes, berbulir-bulir menuruni pipinya lalu tumpah ruah seiring meledaknya raungan kesedihan yang sangat dalam. Kata pembawa berita, suaminya meninggal karena terlindas oleh mobil truknya sendiri. ban mobilnya pecah persis di jalan tanjakan. Almarhum menarik tuas rem tangan. Kemudian mematikan mesin mobilnya. Sebuah batu di pinggir jalan diambilnya untuk mengganjal ban mobilnya agar tidak turun. Almarhum kemudian berjongkok dan melongokkan kepalanya mengintip ban yang meldak. Mungkin karena berhentinya di tanjakan curam dan muatan mobilnya yang berat sehingga rem tangannya blong dan batu pengganjal pecah. Itu terjadi sangat singkat sehingga almarhum tidak sempat menghindar. Dia terdorong oleh ban, jatuh tersungkur tepat di bawah ban dan kepalanya.... ach.
Butuh berbulan-bulan untuk menyembuhkan lukanya. Ditinggal oleh lelaki yang sangat dicintainya merupakan cobaan yang sangat berat baginya. Apalagi ketika melihat si kecil anak satu-satunya sekarang harus hidup tanpa ayah. Hatinya sangat pilu. Untung Si kecil yang cantik dan lucu itu selalu menjadi pelipur lara dan semangat hidup baginya. Sehingga perlahan-lahan dia tegar dan tegap berdiri menjalani hidup ini. Dulu, beberapa orang yang datang melamarnya namun selalu dia tolak dengan alasan ingin fokus merawat anak satu-satunya itu dan merawat kedua orang tua kami. Sebuah alasan yang membuat aku terharu dan ingin selalu memeluknya erat. Aku bangga padamu Daeng.
Dadaku terasa sesak. Tiba-tiba dadaku dipenuhi rasa sedih. Meluap, meleleh, jatuh membasahi bibirku. Tak sanggup aku menahan air mata kesedihanku meski banyak orang disekitarku. Kakak Murnilah pemicu air mata ini berderai. Dia menangis tak tertahankan saat diminta mendampingi Etta-ku untuk memberikan doa restu dan mengoleskan pacci pada prosesi adat pernihan anaknya. Aku tahu gemuruh apa yang kakak murni rasakan. Seharusnya Wero-ku lah yang mendampingi Etta-ku. Namun Weroku telah pergi mendahului kami setahun yang lalu. Sebagai saudara perempuan satu-satunya di saudara kami dan juga sebagai kakak sulung kami maka dialah sekarang yang menjadi pengganti ibu bagi kami. Kecintaannya dan kasih sayangnya pada kami adik-adiknya dan Etta membuat dia yang layak duduk di samping Etta. Meski Wero-ku tak pernah tergantikan dihati kami anak-anaknya.
Dia merangsek duduk disamping Etta, dihadapan anaknya yang cantik dengan pakaian adat pengantin bugis. Dia mengambil kelapa dan gula merah di talanan. Kemudian melapalkan doa sembari menyuapi anaknya dengan kelapa dan gula tersebut. Pacci di mangkok kecil diambilnya seujung tangan dan diolesinya ke telapak tangan anaknya. Ini dilakukan bergantian dengan Ettaku. Hingga prosesi mappaci itu selesai, Isak tangisnya tak pernah reda.
Air mataku masih tetap mengalir meski momen itu telah berlalu. Dalam hatiku berdoa, semoga anak-mu daeng menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiinn. Tanggung jawab, kewajiban kakak murni telah berakhir dan tanggung jawab itu pindah kepundak suami anaknya. Semoga suami anaknya bisa mencintai dan menyayangi sepenuhnya seperti cinta dan kasih sayang kakak Murni-ku pada gadis sematawayangnya itu. Berakhir sudah perjuangan kakak Murni untuk anaknya, namun sebagaimana kata pepatah, kasih sayang ibu sepanjang hayat. begitupun dengan kakak Murni, kapanpun anaknya membutuhkannya, dia akan selalu ada untuknya.