FIDOBONE

TARO ADA TARO GAU'

Tuesday, 6 December 2011

Sang Juara

Kenangan di Pertengahan Agustus 2001
Kelas 3 cawu 1

16 Agustus 2001

Sore itu aku pulang kampoeng, soalanya besok tanggal merah. Tanggal bersejarah bagi bangsa Indonesia . berlibur di kampoeng adalah hal yang sangat menyenangkan. Bisa kumpul ama keluarga tercinta. Waktu sampai di Uloe, aku langsung pergi nonton sepak bola dilapangan unyi. Sore itu bertanding PS. Cabbeng vs PS . Pannyili. Pertandingan berakhir dengan kemenangan diraih oleh PS. Cabbeng melalui adu finalti. Dengan kemenagan ini PS. Cabbeng meraih tiket ke final memperebutkan gelar sang the winner.

Pukul 18.37 wita

Aku pergi kelapangan unyi untuk menonton lomba seni yang merupakan rangkaian acara perayaan HUT RI yang ke 56. aku nebeng di mobil Gian alias Subehana. Di mobil Gian ada Hasniati dan kakak-kakaknya. Entah mengapa sejak insiden pengusiran Anti dari rumahnya , setiap aku melihat Hasniati seketika itu timbul suatu getar aneh, getar yang begitu indah kurasakan .
Sesampai dilapangan unyi, aku ketemu Habbe alias Habibie. Habbe mengajakku ke kemah SD 93 Cabbeng. Sesampai di kemah aku pengen pipis. Aku berjalan kebelakang rumah penduduk yang remang. Aduh bau banget, ini pasti tai anak-anak SD yang berkemah. Dengan menahan nafas akupun pipis. Psss….. Ah, legah deh. Aku membalikkan badan. Baru dua langkah, tiba-tiba aku menginjak sesuatu yang lembek, aku mencari tempat yang agak terang. Aku melihat sendalku belepotan penuh kotoran manusia. Ah sial, siapa lagi yang naro’ ranjau disitu. Bau banget.
Aku menggesek-gesekkan sandalku pada rumput yang hijau untuk menghilangkan tai tersebut. Ah, akhirnya bersih juga, tapi baunya masih menyengat hidungku. Biar aja , cuek aja, anggap aja ada hantu yang lewat. Hehehe…
Habis dari SD 93 Cabbeng, Habbe mengajakku ke kemah SD Inpres 6/75 Cabbeng. Dikemah kami hanya mendapati ibu Ani , mamahnya Asrianti.
“ Sebentar lagi lo , Rijal tampil” kata ibu Ani. Daeng Rijalku akan tampil sebagai duta dari Desa Cabbeng untuk menampilkan seni bela diri “silat Bugis”. Karena gak ada yang asyik untuk diliatin di tenda ini , akhirnya kami pergi kedepan panggung. Untuk menonton pagelaran seni. Tak lama kami berdiri di depan panggung, Daeng Rijalku tampil di atas panggung bersama Ibu Ani, Daeng Rijalku mempergakan jurus-jurus ampuhnya yang telah ia terima dari guru besar Empu Kibe, sedangkan Ibu Ani sibuk menabuh gendang secara berirama untuk mengiringi gerakan Rijal.
Tiba-tiba jantungku berdebar , aku melihat sosok cewek imut di pinggir panggung. Itukan Asrianti, gadis yang telah membawa sepenggal hatiku. Ia berdiri bersama Hasniati dan Fifit , adiknya Asrianti sekitar umur 3 tahun. Aku tidak lagi memperhatikan Aksi Rijal, aku larut dalam tatapanku pada gadis pujaanku. Entah mengapa rindu itu datang kembali ketika kumelihatnya. Kujujur bahwa aku masih sangat mencintainya, tapi kadang jarak selalu membuat rasa itu kian menipis. Aku ingin mendekatinya dan menyapanya, tapi jiwaku selalu diselimuti rasa malu yang tak ketulungan , entah pada siapa aku malu, pada Hasni, pada Asrianti, pada Orang-orang disekitarku. Kenapa aku mesti malu pada mereka, atau karena aku gak ada bahan untuk diomongin. Ah, biarlah berjalan apa adanya , biarlah aku berdiri disini, kalau memang jodoh aku yakin semua harapanku akan mudah aku lakukan.
Lima belas menit kemudian, pertunjukan Daeng Rijalku bersama Ibu Ani telah selesai. Asrianti masih berdiri disana, Hasniati sudah tak ada lagi hanya berdua dengan adiknya. Aku mau menyapanya walau hanya sekedar Hallo say Good Bay aja, tapi keberanianku tak kunjung datang, aku dibalut rasa grogi. Tiba-tiba terbersit kenanganku kala Asrianti mengusirku dari rumahnya. Rasa benciku tumbuh. Aku memutuskan untuk berajak dari depan panggung.
“ Habbe, aku mau ke mobil Gian, ya” tuturku pada Habbe. Habbe mengangguk. Aku berlalu meniggalkan Habbe sendirian diantara kerumunan penonton.
Diperjalanan pulang, timbul rasa sesal dalam hatiku, kenapa aku gak nyamprin Asrianti. Asrianti aku gak sanggup membencimu.
Sesampai di mobil Gian , aku menemukan Mase, Ati, Lina, Gian, Idho dan Hasniati. Mereka sudah ingin pulang tapi Hamda, belum kelihatan. Terpaksa aku, Hasniati, Lina mencari Hamdana. Aku mencari di dekat panggung, dengan gaya detektif Sherlook Bon. Aku menyempatkan melemparkan pandanganku pada tempat dimana Asrianti tadi berdiri dengan harapan Asrianti masih ada disitu, aku ingin melihat bayanganya sekali lagi . tapi ia sudah tidak ada disitu. Ada rasa kecewa. Ah, ternyata cintaku masih untuk dia.
“ Hei, cari siapa ? kok kamu celingak- celinguk begitu ?” sebuah suara dengan telak mengagetkanku. Suara cewek. Aku mengenal suara ini. Aku membalikkan badanku. Jantungku berdebar, kala kuyakin bahwa pemilik suara itu adalah Asrianti. Aku sempat grigi dibuatnya. Tapi sedetik kemudian aku telah menguasai diriku.
“ Kamu N’ti, kirain siapa. Anu , aku lagi mencari hamdana. Kami udah mau pulang tapi Hamdananya gak ada. Kamu tau gak dimana dia ?”
“ Enggak”
“ Aduh, Kemana ni anak ?” aku bergumam pada diriku sendiri “ Eh, aku pergi dulu, aku cari Hamdana dulu ya” tuturku kemudian . sebenarnya aku masih ingin mengobrol dengan dia , tapi aku kehabisa kata-kata karena rasa grogi selalu menghantuiku sehingga pikiranku gak encer.
“Yoi”
Sedetik kemudian aku telah berlalu. Dalam perjalanan mencari Hamdana, pikiranku terus tertuju pada Asrianti. Aduh, bodoh banget deh gue. Kenapa tadi aku gak nembak aja dia. Kesempatan emasku melayang lagi. Padahal tadi dia sendirian , kan asyik ngajak dia dua-duaan. Ah, bego-bego !
Didepanmu aku tak dapat berbicara
Tiba-tiba aku jadi bego dalam kegrogianku
Tak ada kata yang terangkai
Kepalaku kosong
Aku tak tahu mesti dari mana aku memulai
Untuk sebuah kata ungkapan isi hatiku.
Kekuatan magis apa yang kau miliki
Kau buat aku terpaku, diam…kosong tanpakata
Padahal sebelumnya begitu banyak kata
yang telah kurangkai untukmu
Tapi , semuanya hilang
Dan semuanya pun berlau tanpa kata.

Karena kau udah bosan berkeliling , tapi tak menemukan seraut wajah yang kucari. Aku balik kemobil. Eh, ternyata Hamdananya udah ada di mobil. Tak lama aku sampai , kami meninggalkan lapangan Unyi menuju keperaduan.
Di dalam mobil pikiranku tak pernah lepas dari wajah Asrianti. Tak hentinya aku menyesali kebodohanku. Suatu kebodohan yang telah melepas kesempatan emas. Kuhibur diriku, kalau memang jodoh, segala sesuatunya akan lancar dan akan datang tampa diduga dengan limpahan cinta dan kasih sayangnya.

17 Agustus 2001

Pukul 16.00 wita.
Pertandingan final , memperebutkan juara I antara Ps. Cabbeng dengan Ps . Sirda. Awal pertandingan babak I, Ps. Sirda menekan terus pertahanan Ps. Cabbeng dan akhirnya berhasil mengungguli Ps. Cabbeng dengan poin 1 kosong. Kekalahan itu tak membuat Ps. Cabbeng kehilangan semangat , malahan dengan skor itu membuat Ps. Cabbeng terlihat seperti harimau terluka. Terus menerjang. Di menit ke 14 akhirnya Oghe, plemeyker Ps. cabbeng berhasil menyamakan kedudukan.
Di menit ke 15 babak I, aku diturunkan menggantikan Gian. Aku bermain sebagai gelandang bertahan dan aku bermain sangat bagus sehingga membuat para pemain sirda kewalahan dan semakin tertekan dan tertekan. Hari itu semua pemain Ps. Cabbeng bermain sangat bersemangat . Babak pertama berakhir dengan skor 2-1 untuk Ps. Cabbeng.
Dibabak kedua ketangguhan Ps. Cabbeng makin terlihat dan akhirnya dengan semangat 45, pertandingan berakhir dengan skor 5-1 untuk Ps. Cabbeng . aku sangat bahagia sekali karena dapat bermain bagus dan berhasil membawa desa cabbeng sebagai the Winner. Ah, indahnya suatu kemenangan. Ah, andai aku telah memenangkan Asrianti maka sempurnalah kebahagiaanku hari ini.

No comments:

Post a Comment